”Iki rai Plo…”
Bagi pegawai negeri sipil, Jumat adalah hari untuk berolahraga dan bekerja bakti. Nah pada hari itu, instansi pemerintah yang dipimpin Tom Gembus juga sedang mengadakan kegiatan kerja bakti.
Jon Koplo adalah salah satu anak buah Tom Gembus. Dia memang tergolong pegawai agak kendel, bandel bin ndablek. Padahal Tom Gembus terkenal atasan paling gualak. Nah saat itu Jon Koplo yang ikut kerja bakti memang pikirannya lagi suntuk karena di rumah tadi dia baru saja perang dengan isterinya, Lady Cempluk.

Karena Tom Gembus yang terkenal galak itu yang memimpinnya saat kerja bakti, maka seluruh karyawan dan karyawati tidak ada yang berani santai-santai. Mereka dengan giat membersihkan lingkungan instansi tersebut karena diawasi Tom Gembus.

Kerja bakti pagi itu pun diwarnai ketegangan yang amat sangat. Sang pemimpin, Pak Tom Gembus, mlangkerik di belakang Koplo terus mengawasi bawahannya yang terkenal suka mbandel itu.

Karena merasa dipenthelengi terus, Jon Koplo pun macule peng-pengan, nganti kringete pating dlewer.

Jon Koplo yang terus sengkut ngobat-ngabitke pacul-nya tanpa menoleh ke belakang. Ndilalah… kopyah pada saat rumput dan tanah yang menempel di pacul Jon Koplo dilemparkan ke belakang, mak teplek… bruss mengenai muka Tom Gembus yang saat itu tepat berjongkok turut mencabuti rumput di belakang Jon Koplo.

Tom Gembus pun berteriak ”Weladalah Koplo… iki rai dudu pawuhan, nguawur.”

Jon Koplo yang merasa bersalah tetapi tidak njarak pun menjadi njenggirat kaget lalu gugup, campur aduk dengan ketakutan yang amat sangat. Semua karyawan tahu kebiasaan serta peringai Tom Gembus yang suka ”main bolpoin” alias mencatat kondite kepegawaian.

”Ma… ma.. maaf Bapak, saya tidak sengaja, saya kira Bapak masih mengawasi dari kejauhan, jadi saya benar-benar tidak melihat kalau Bapak sudah ada di sini… maafkan saya Bapak kepala,” kata Koplo sambil gemetaran mengambil beberapa helai rumput di kepala Tom Gembus.

”Maaf… maaf apa kamu nggak lihat, wong rai kok dikapyuk lemah, sudah pokoknya nanti setelah kerja bakti masuk ruangan saya,” bentak Gembus langsung mak klepat meninggalkan halaman menuju ke kamar mandi untuk membasuh kotoran yang ada di mukanya.

Tinggallah Jon Koplo berdiri mematung, bengong kaya sapi ompong, teman-teman yang tadinya mengkeret ketakutan, kini menjadi heboh sekali, ger-geran dengan peristiwa yang baru dialami oleh Jon Koplo.

Jon Koplo pun akhirnya memenuhi perintah pimpinannya untuk masuk ke ruangannya. Anehnya, setelah keluar dari ruangan itu wajah Jon Koplo tidak sesuram ketika tadi mau masuk. Dia malah berseri-seri, tersenyum penuh makna dan arti.

Teman-temannya yang melihat menjadi heran. ”Kamu tidak dimarahi ta?”

Yang ditanya pun mesam-mesem, cengar-cengir ora mudhengke blasss. ”Tak jawab ya… tetapi jangan kaget dan jangan iri,” kata Jon Koplo nganyelke sajak kemlinthi.

”Tadinya aku takut sekali, eee Pak Gembus malah senyum-senyum. Bapak malah minta maaf padaku jika tadi terlalu keras bicaranya. Pak Gembus minta didoakan karena tadi malam sudah jadi simbah, dapat cucu. Makanya Bapak akan mengubah perangainya yang galak. Tadi Bapak juga bilang saya sudah sepantasnya diusulkan menjadi Kepala Seksi. Dan nanti sore kita diundang akikohan. Cihuiii nggak…”  – Kiriman Agus Eko Purwono, Perumahan Joho Permai Blok C No 6, Giriwono, Wonogiri.

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to Top