Menjauhi ”kebaikan” dapat dlosoran

Setelah lulus SMA, sebagaimana pemuda lainnya, Jon Koplo ingin kuliah di perguruan tinggi yang terkenal. Pilihannya jatuh pada sebuah universitas terkenal di Yogyakarta. Selain ingin menimba ilmu pengetahuan umum, sohib kita ini juga ingin mendalami ilmu agama melalui kegiatan ekstrakurikuler di kampus. 
Langkah pertama yang dilakukan setelah diterima menjadi mahasiswa, adalah melihat-lihat kegiatan apa yang cocok untuk mewujudkan cita-citanya itu. Tidak mudah ternyata. Hal itu mengingat dunia Jon Koplo saat ini sama sekali lain dibandingkan dengan kehidupannya waktu SMA maupun kehidupan di desanya. Kini dia hidup di dunia ”bebas”. Hidup jauh dari orangtua dan tidak terikat jadwal pelajaran rutin. Namun justru kerana itulah Jon Koplo menghadapi kebingungan. Keinginan untuk memperdalam ilmu agama pun mulai pudar. Untung saja masih ada sejumlah teman sekampus yang mau memberikan bimbingan.

Pada tahun kedua, barulah dia masuk sebuah organisasi kemahasiswaan yang antara lain bergerak di bidang pendalaman keagamaan. Tetapi dia pun tidak bisa mengikutinya dengan penuh perhatian. Semua berlalu begitu saja. Pikiran yang tingkah lakunya terus didominasi oleh ”hawa kebebasan” yang melingkupinya.

Sampai akhirnya dia menemukan calon pasangan hidupnya, Genduk Nicole.

Selesai menempuh KKN, Jon Koplo memutuskan untuk tidak kos. Itung-itung pengiritan. Toh rumahnya hanya berjarak 25 km dari Yogyakarta. Masih bisa dilaju, pikirnya. Apalagi dia sudah lulus teori dan tinggal menyelesaikan skripsi. Pergi ke kampus pun paling seminggu sekali.

Meski tak banyak lagi pergi ke kampus, ada satu temannya yang secara rutin mengunjungi dirinya di desa. Dia selalu mengajak diskusi tentang berbagai hal, khususnya tentang ilmu agama. Hampir seminggu sekali teman itu datang. Dan lagi-lagi yang dibicarakan adalah masalah keagamaan. Dasar wong koplo, lama-lama Jon Koplo merasa bosan. Tetapi susahnya dia tidak bisa menolak kedatangan teman kampusnya tersebut. Sudah telanjur akrab.

Suatu hari, teman Jon Koplo berjanji akan datang pada hari Sabtu mendatang.

”Sabtu depan mau apa?” tanya Jon Koplo.

”Ya mau main saja?” jawab temannya ringan.

Jawaban itu sama seperti jawaban-jawaban yang selalu diberikan teman itu ketika ditanya tentang keperluannya pergi ke rumah Jon Koplo. Dan bagusnya dia selalu membuat janji kalau mau datang lagi. Dan seperti biasanya juga, Jon Koplo tidak bisa menolak keinginan teman itu.

Merasa jenuh dan ingin menghindari pertemuan, Jon Koplo jauh-jauh hari sudah merencanakan untuk pergi ke suatu tempat. Tiba pada hari yang dijanjikan, dia mengajak seorang teman di desanya, Tom Gembus, untuk menemani dia apel ke rumah Genduk Nicole di Wonosari, Gunung Kidul, yang jaraknya sekitar 90 km. Mereka berangkat pagi-pagi dan tentu saja dengan sangat terburu-buru, mengendari Vespa milik kakak Jon Koplo.

Tanpa kontrol ini-itu mereka langsung cabut. ”Kamu nyetir dulu ya! Kalau capek gantian,” pinta Jon Koplo.

Sampai di Yogyakarta semua berjalan lancar. Namun memasuki tetek sepur, Janti, terjadi kecelakaan yang menimpa mereka. Ketika enak-enaknya melewati gronjalan rel kereta api sambil ngobrol, roda depan berhenti seketika. Maka walaupun kecepatannya hanya 40 km/jam, mereka terguling. Dan tentu saja dua sahabat itupun terseret jatuh juga. Sambil bersungut-sungut mereka bangun dan meminggirkan Vespanya. Setelah diperiksa dengan teliti tak ada keanehan dan normal.

”Kamu ini gimana Mbus, kok bisa jatuh? Kamu nginjak rem ya? Atau kamu gugup? Minggir kamu, biar gue yang jadi pilotnya,” kata Jon Koplo.

”Tidak, saya tidak apa-apa Plo, sumpah!” kata Tom Gembus.

”Ah kamu pasti ngerem tapi nggak sadar,” kata Jon Koplo masih ngomel.

Akhirnya mereka terus melanjutkan perjalanan. Dengan penuh percaya diri Jon Koplo terus memacu Vespa-nya seolah-olah tidak terjadi apa-apa. Dalam bayangannya hanya berpikir untuk segera menemui kekasihnya. Sampai di Jalan Wonosari, dia melihat di depannya ada dua buah jeglongan yang berurutan dan tidak begitu dalam. Jon Koplo ingin memberi contoh kepada Tom Gembus bagaimana cara menyetir Vespa yang baik. Tetapi bisa melewati jeglongan tapi tidak terjatuh. ”Lihat gue Mbus, di sana tadi juga kayak gini nih! Coba kamu …..,” belum selesai kalimat Jon Koplo.

Tiba-tiba jeglug… glog… dan mereka berdua pating dlosor di tengah jalan. Vespanya lumayan remuk.

Berkat pertolongan warga setempat mereka dibawa ke pinggir jalan dan diobati. Tom Gembus tertawa geli melihat Jon Koplo. Jon Koplo pun ikut tertawa. Keduanya tertawa cukup lama.

Tentu saja yang melihat merasa aneh. Akhirnya keduanya ditinggal pergi. ”Slamet-slamet-slamet aku,” Tom Gembus merasa leg.

”Wong jatuh kok malah slamet-slamet. Gimana sih kamu itu,”

”Ya iya dong Plo, kalau tidak jatuh lagi kan kamu akan menyalahkan aku terus. Dengan begini kan terbukti bahwa jatuhnya kita yang pertama tadi bukan karena kesalahanku. Tapi memang motornya yang tidak beres,” Tom Gembus merasa di atas angin.

Akhirnya mereka memutuskan untuk melepas rem depan dan tetap melanjutkan perjalanan.

”Sudah tanggung nih. Sudah separoh jalan,” kata Jon Koplo.

Kemudian mereka melanjutkan perjalanan dengan pelan-pelan sekali. Lajunya hanya 30-40 km/jam. Itupun kalau menjumpai jalan yang agak njeglong jalannya dikurangi.

Mereka pulang cukup malam. Dan karena malam mereka jelas tidak tahu mana jeglongan dan mana yang hanya bayangan tiang listrik atau pohon. Sudah telanjur, dipelankan ternyata hanya bayangan tiang listrik.

Tom Gembus ngomel-ngomel, ”Inilah yang disebut wong legan golek momongan. Sebenarnya bisa enak-enak di rumah eh malah cari perkara.”

Beberapa hari kemudian di kampus. Jon Koplo dihampiri temannya. ”Sorry ya Jon Koplo. Sabtu kemarin aku tidak jadi datang dan tidak bisa ngasih kabar. Aku ada keperluan mendadak.”  

– Kiriman: Sugeng Wibawa, Dukuh Gisiksari RT 05/04, Kel Sadeng, Kec Gunungpati, Semarang 50222.

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to Top