Polos itu… merepotkan!

Kejadian menyedihkan dan menggelikan ini dialami tokoh kita Jon Koplo beberapa waktu lalu. Jon Koplo yang 100% orang desa tulen di wilayah Kabupaten Sukoharjo, berdiri mondar-mandir dengan wajah yang terlihat bingung. Lady Cempluk sang isteri yang mengetahui hal itu segera mendekati suami tercintanya yang super manut. 
”Gimana Pakne, ini sudah hari Kamis, besok Sabtu Genduk Nicole harus sudah melunasi SPP karena Senin dia mulai tes. Apa kita cari pinjaman dulu ya Pakne?” kata Lady Cempluk berusaha mencari solusi.

Sudah menjadi kebiasaan tiap sekolah bahwa menjelang tes setiap murid harus sudah lunas seluruh masalah administrasinya. Sedangkan Genduk Nicole masih nunggak SPP selama dua bulan. Jangankan tidak boleh mengikuti tes semesteran, nggak masuk sekolah karena sakit saja takutnya bukan main.

Nah yang namanya Jon Koplo yang terkenal polos, penurut dan baik hati ini merasa takut juga dan nggak sampai hati melihat Genduk Nicole si puteri kesayangannya selalu menangis minta uang SPP sedangkan sawahnya belum saatnya panen.

Mendengar perkataan isterinya, Jon Koplo teringat nasihat Pakde Gembus yang sok tahu, padahal padahal cuma AD alias asal dengar.

”Mas Jon, kalau mau pinjam duwit lebih baik ke bank saja gampang dan murah, Mas tinggal bawa sertifikat ke sana nanti pulang langsung dapat duit,” begitu kata Tom Gembus meyakinkan.

Jon Koplo mengutarakan niatnya untuk pergi ke bank dan Lady Cempluk manthuk-manthuk saja. Bagi Jon Koplo dengan modal sertifikat sawah seluas kurang lebih 2.500m2 ia yakin bakal dapat pinjaman, ”Asal Genduk Nicole bisa ikut tes, perjalanan jauh pun nggak masalah,” pikirnya.

Dengan keyakinan bulat tanpa tanya sana-sini untuk informasi lebih lanjut, segera mengajak Pakde Tom Gembus yang tinggal di sebelah rumahnya untuk ke bank. Tom Gembus yang baik hati dan sok keminter hanya ho oh, ho oh saja diajak Jon Koplo.

Dia tak pernah tanya pinjamnya berapa, syaratnya bagaimana malu dianggap e-ok alias bego. Walau jarak rumah dengan bank lumayan jauh dengan mengendari sepeda onthel sekitar 45 menit dan panas matahari yang menyengat mereka terlihat tenang-tenang saja, maklumlah sudah seperti sendok dan garpu, saling menolong meski keduanya sama-sama polos dan Telmi alias telat mikir.

Meski baru kali pertama Jon Koplo menginjakkan kakinya di sebuah bank, ia melangkah dengan Pedenya. Setelah menunggu antrean panjang sekitar 30 menit akhirnya tiba giliran Jon Koplo.

”Pak, saya mau pinjam uang,” kata Jon Koplo.

”Surat-surat kelengkapan sudah Bapak bawa?” tanya teller bank.

Jon Koplo yang blas ora mudheng terkejut. Sebelum ia menjawab pertanyaan itu, teller segera melanjutkan bicaranya. ”Maaf Pak, kalau mau pinjam di bank, Bapak harus membawa surat pengantar dari kelurahan dan syarat-syarat lainnya,” kata petugas di bank sambil menjelaskan panjang lebar pada Jon Koplo.

Jon Koplo akhirnya minta izin pulang dan janji akan kembali dengan surat-surat lengkap. Dalam perjalanan pulang ia menceritakan semuanya pada Pakde Gembus. Menyadari bego-nya akhirnya ia mengatakan kesediaannya untuk mengantarkan Jon Koplo kemanapun ia pergi.

Mulai dari kelurahan, urusan fotokopi dan lain-lain. Lelah sudah tak dirasakannya. Siang harinya, dengan membawa semua syarat yang diperlukan Jon Koplo dan Tom Gembus ke bank, mereka terlihat tak sabar untuk merasakan hasil jerih payah mereka semenjak pagi. Setelah menghadap sang teller. Jon Koplo ditanyai macem-macem akhirnya pada pertanyaan.

”Sertifikat ini, Bapak mau mengajukan pinjaman berapa juta?” tanya teller itu.

”Apa? Ndak kok Pak, saya orang desa tidak tahu apa-apa nanti takut nggak bisa mbayar. Wong saya cuma pinjam Rp 25.000 buat mbayar SPP anak saya supaya nanti hari Senin bisa ikut tes. Nanti kalau ada uang saya kembalikan,” jawab Jon Koplo terus terang.

Kontan saja yang tahu permasalahan Jon Koplo tertawa geli. Sambil menahan tawa, teller bank menambahkan, ”Maaf Pak kalau cuma Rp 25.000 kami tidak bisa memberikan pinjaman karena aturan di sini minimal pinjaman sebesar Rp 500.000 dengan pinjaman sebesar permohonan Bapak itu kami tidak bisa mengabulkan.”

Jon Koplo cuma diam terbengong. Sementara Tom Gembus yang terduduk lemas karena lelah segera menyahut. ”Oaaalah Mas Jon, Mas Jon, kalau cuma pinjam Rp 25.000 saja kamu tinggal ngomong sama aku jadi kita nggak perlu bolak-balik jauh-jauh ke bank, cari surat ke kelurahan dan lain-lain. Kalau ngomong dari kemarin kan ndak perlu kesel ngeterke sampeyan ta Mas! Memangnya kalau pinjam uang mesti ke bank, sama tetangga kan nggak apa-apa asal dikembalikan. Polosmu itu lho Mas… merepotkan!”  

– Kiriman Sri Widowati d/a Yagan RT 1/2 Krajan, Gatak, Sukoharjo 57557.

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to Top