Dikira Pengemis

Siang itu, pusat perbelanjaan di Gading, Solo, ramai sekali. Maklum, menjelang lebaran banyak orang nanjakke THR, berbelanja buat Lebaran. Tak terkecuali Lady Cempluk, perempuan paruh baya yang ikut belanja bersama anaknya, Gendhuk Nicole dan cucunya yang berumur 5 tahun.

Setelah asyik memilih-milih baju, Cempluk pun ngantre untuk membayar di kasir. Sayang, antreannya panjang sekali. Kebetulan kasanya pas di bawah AC. Cempluk merasa tidak nyaman dengan embusan sejuknya AC. Dia pun meminta Gendhuk Nicole gantian ngantre. Cempluk pun keluar antrean dan duduk di tangga.

Tiba-tiba seorang pengunjung memberi uang dua ribuan. Sontak Cempluk sadar, jika pengunjung itu mengiranya pengemis. “Mbak, Mbak, maaf, ini uangnya. Saya bukan pengemis. Saya sedang nunggu anak yang ngantre di dalam. Kaki saya pegal dan ndak kuat kena AC, takut masuk angin,” jelas Cempluk.

“Oh, maaf Bu, maaf,” ujar pengunjung itu mengambil uang dua ribuannya sambil nyengir isin. “Oalah, Bu. Sini Bu, istirahat di sini saja. Nanti ndak dikira pengemis lagi,” kata pegawai toko sambil menyodorkan kursi.

Zakiah Wulandari,
Jl. Sawo
4, No. 10 RT 004/RW 004
Karangasem, Laweyan, Solo

Solopos, 5 Juli 2016

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to Top