Origami Hati Mira

Oleh: Umar Affiq

Mira baru saja membuka selimutnya dan buru-buru ke toilet yang berada di dalam kamarnya. Hampir saja ia ngompol gara-gara mimpi kecing di toilet sekolah. Tapi sudah lama Mira tak sekolah. Menyadari hal itu, ia tahu adegan hendak kencing di toilet sekolah tentu hanya mimpi belaka, ia buru-buru bangun dan menuju toilet. Pada saat keluar dari toilet itulah, ia melihat Mirna telah berdiri di depan mata jendela. Hal yang menjadi perhatian Mira adalah origami hati di tangan Mirna dan tatapan ganjil ibunya.
Di beranda kesadaran keduanya, mereka berdiri sesaat dan hanya saling bertanya dengan mata. Bahkan, Mirna masih saja diam ketika Mira menghamburkan diri padanya, tak berbuat apa-apa dengan benda di tangannya. Sesuatu muncul dan bertiup di kedalaman kepala Mirna, sesejuk angin pagi itu.
“Ma?” suara itu membuat kedua pandangan bertepuk. “Apakah Mama membuatkan origami itu untukku?”
Tentu, ada kegugupan kecil menahan Mirna. Ia terlambat menyadari pertanyaan Mira yang melintasi angannya. Justru dalam pikiran, dirinya yang lebih dulu bertanya, apakah kau yang membuat ini, sayang? Dan karena pertanyaan Mira meringkus kalimat tanyaannya lebih dulu, Mirna harus menjawab, meski dengan ketaktahuan.
Hanya gelengan.

“Justru, Mama pikir, kamulah yang membuat origami ini semalam. Dan karena kau ketiduran, jatuhlah ia di bawah jendela.”
“Jadi, bukan Mama yang bikin?” Mirna mengangguk.
“Jadi, Mama hanya menemukannya di bawah jendela?”
Mirna mengangguk, sekali lagi. Lalu Mira meraih origami hati dari tangannya dan membawanya ke meja di sisi tempat tidurnya. Meja itu sederhana saja, hanya kayu yang di atasnya berisi lampu, jam kecil dan ada dua laci dalam perutnya. Laci paling atas ditarik Mira dan dengan sedikit keserakahan tangan kecilnya, diraupnya seluruh isi laci, berisi berbagai bentuk origami belaka aneka warna. Mira menumpahkannya di atas kasur,
“Mama, lihat, aku punya semakin banyak origami.”
Mirna tersenyum, sungguh pura-pura. Sudah barang tentu seluruh isi laci meja Mirna tahu. Tapi menyaksikan sekumpulan lipatan kertas di hadapan Mira mengantarnya dalam kurungan waktu-waktu penuh kehilangan yang dekat.
Apakah karena sekumpulan origami itu membuat Mirna menjadi demikian takut kehilangan Mira?
Bukan. Memang, ketika awal-awal mendapati angsa kertas dan kesatria kertas yang tergeletak jatuh di kaki jendela kamar anaknya, ia sempat membayangkan bahwa tanda-tanda kepergian semakin mendekati Mira. Ia mengira, seseorang tengah berusaha mencairkan senyum pada jengkal-jengkal penghujung umur Mira. Seperti dalam Dunia Cecilia1, kata prasangka buruk Mirna, seseorang itu barangkali seperti Ariel yang membikin gelak kagum Cecilia sebelum merenggut semua. Atau seperti kisah dari Kampung Sakura, seorang gadis membuat seribu angsa kertas menjelang hari-hari akhir hitungan napasnya yang meski belum genap seribu, riwayat si gadis berakhir lebih dulu. Dan, kemudian muncul simpatisan untuk menggenapi angka seribu angsa. Barangkali, kata pikiran buruk Mirna lagi, pengirim origami-origami ini tak lain justru berdoa agar Mira….Takut mengerubut Mirna bila harus menjalarlebarkan prasangkanya terlalu jauh.
“Ma…?” Mira sedang menyortir origami di hadapannya berdasarkan warna. Ada delapan warna: merah, oranye, kuning, putih, hitam, biru, ungu, dan hijau. Bentuknya beraneka. Dari delapan warna itu mereka mau mengetahui jumlahnya. “Maukah Mama menemaniku menghitung semua ini?”
Mirna tersenyum, masih pura-pura dan tak mungkin diketahui oleh gadis sepolos Mira. Mendekat Mirna dan duduk berhadap-hadapan dengan Mira.
“Baiklah, mari kita hitung.” dituntunnya Mira berhitung mulai dari warna biru, hijau, oranye, kuning, putih, hitam, biru, ungu, dan terakhir merah. Masing-masing warna memiliki jumlah yang sama, delapan. Dan jelaslah, jumlah kesemua origami Mira ada enam puluh empat.
Kalau saja tidak ada origami hati tadi, berarti semua enam puluh tiga. Angka penutup umur, batin Mirna.
Origami hati, dua kata itu tiba-tiba menggema di kepala Mirna dan sebuah tiupan kembali mengembus. Angin pagi mempermainkan gorden jendela kamar Mira. Berjalan Mirna menuju jendela. Ia longokkan kepalanya ke luar jendela, mencari sesiapa yang mencipta sedemikian banyak origami untuk Mira. Tak ada seorang pun di luar jendela kecuali Suman, tukang kebunnya. Ia mengawasi lelaki yang sedang menyiram tanaman beberapa kaki dari pandangannya. Angin pagi kembali mengendus isi kamar. Mirna mengatupkan daun jendela dan merunut sesuatu jauh di dalam dada.

Mirna selalu mendapatkan origami itu, origami hati. Bahkan pada dua tahun sebelum kelahiran Mira, tujuh tahun silam, Mirna masih mendapatkan origami hati dalam kado kecil pernikahannya. Itu adalah satu-satunya kado yang tak pernah ia buka bersama suaminya.
Dan tibalah Mirna pada hari itu, selepas mengantar suaminya ke Stasiun Tawang pada siangnya, kesepian datang dan bermalam di kamarnya. Suaminya, seorang tentara dan kali itu akan dikirimkan ke Dili.
“Ada orang-orang yang harus dibereskan,” begitu suaminya pernah berkata padanya suatu ketika. Dan demi pangkat yang dijanjikan meningkat oleh atasan sepulang bertugas nanti, suaminya Mirna lepas. Hari itu pula, telah dua minggu genap ia terlambat datang bulan. Ia tahu, ada seseorang menyelinap dalam perutnya.
Penasaran dan kesepian pada dasarnya sekawan belaka. Mereka bermalam dan membisiki Mirna untuk membuka kado kecil yang di dalamnya berisi sekeping origami hati. Jika ditimbang dengan angka uang, tentu tak ada harganya. Mirna sangat mampu membikin origami murahan macam itu dengan kepandaian jari-jarinya. Tapi Mirna bukan tipe perempuan yang suka menimbang dengan angka-angka. Ia percaya, tak ada ketulusan yang mampu ditimbang oleh neraca apa pun. Tak ada neraca yang bisa mengukur kadar ketulusan. Dan karena itu pula, Mirna yakin, amat yakin malahan, ada sesuatu di balik lipatan-lipatan kertas bentuk hati.
Pelan-pelan penuh kehati-hatian Mirna membuka lipatan demi lipatan dari origami hati. Dan pada prosesi membuka lipatan yang kesekian, Mirna mendapatkan apa yang ia yakini semayam di balik kertas. Di sana, ia temukan selembar perasaan terkapar seperti anjing kehilangan tuan.

Jangan lemparkan aku ke tempat-tempat yang jauh; jangan titahkan aku menjanjikan kemenangan-kemenangan baru. Tetapi jadikanlah tukang kebun bagi taman bungamu.2)
Di tamanmu, tak akan kubiarkan embun jatuh pecah sia-sia. Bunga-bunga merayakan musim gugur, meleraiburai tawa tuannya. Atau kupu-kupu mati seribu kali tanpa tahu makna menaruh hati.

Ini hanyalah seserpih kecil dari sekian banyak surat yang diterima Mirna. Jauh, jauh sebelum Mirna menikah, ada jauh lebih banyak surat-surat untuk Mirna dari seseorang yang amat dekat dengannya, kini.

Tujuh tahun, bolehlah dikatakan baru sebentar, juga mungkin sudah cukup lama. Namun, sejak memulai hari-hari sebagai ibu rumah tangga, Mirna sehalaman demi sehalaman mulai melupakan masa lalu. Kenangan menjadi benda kadaluwarsa yang tak menarik lagi. Namun Mira dan origami hati yang ditemukannya pagi tadi, memaksanya menelan benda kadaluwarsa itu dan membuat semua lampu-lampu masa lalu menyala kembali.
Mirna pasti sangat bingung bagaimana mengeluarkan diri dari keadaannya saat ini. Mira, origami hati, juga sekumpulan origami lain meriuhinya. Ia tak mungkin menakut-nakuti Mira dengan dongeng Dunia Cecilia atau Kisah Origami Seribu Angsa hanya supaya Mira mau membuang origami-origami itu yang sekaligus melenyapkan keriuhan isi kepala Mirna.
“Mira,” katanya, dan Mira pun menleh ke arah Mirna. “Mama ingin membeli semua origami ini dengan satu hadiah yang belum pernah Mira miliki. Apa kamu mau, sayang?”
Mira hanya diam. Ia tak mengiyakan tak juga menolak, hanya diam dengan mata penuh tanya kepada pertanyaan-pertanyaan ibunya.
“Mira mau kan?” ulangnya. Dan Mira hanya diam dengan anggukan kecil yang meragukan atas pertanyaan ganjil Mirna. Mirna tersenyum dan gegas ke dapur mengambil sesuatu dan kantong plastik, kemudian memasukkan semua origami milik Mira ke dalam kantong plastik.
Mirna keluar kamar. Mira membuntutinya dari belakang, tangannya memeluk dirinya sendiri menahan demam. Mirna berjalan menuju halaman depan dan menumpahkan seisi kantong plastik yang dibawanya. Dengan sebuah deheman, ia mengeluarkan korek dari saku dan mulai membakar kertas-kertas lipatan itu.
Api menyala, membakar bentuk origami seluruhnya, membakar senyum Mira yang berdiri dua meter di belakang Mirna. Membakar taman bunga di dada seseorang yang tiba-tiba menghentikan pekerjaannya menyirami bunga-bunga.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to Top