”Weh kik, antenenya copot…”

Jadi orang jangan suka sombong, nanti kalau kewirangan baru tahu rasa. Mungkin itulah nasihat yang perlu diberikan kepada Lady Cempluk. Habis ibu muda penduduk Kampung Tipes, Solo ini memang dikenal agak sombong. 
Lady Cempluk suka berlagak sok kaya, sok tampil trendi, tapi suatu hari dia kena batunya.

Ceritanya saat itu Lady Cempluk sedang mengantar Jon Koplo, anaknya ke sekolah sebuah di taman kanak-kanak. Meski kehidupan yang sebenarnya Lady Cempluk ini tergolong seorang yang pas-pasan, alias tidak kaya benar, tapi dasar orang suka sok, Lady Cempluk menyekolahkan anaknya di TK favorit di Kota Solo yang tentu saja mbayar-nya lumayan mahal.

Tiap hari Lady Cempluk selalu mengantar sang anak pergi ke sekolah. Namanya juga sekolah favorit, maka orangtua yang mengantar murid-murid TK itu rata-rata nyonya-nyonya kaya. Tapi Lady Cempluk tak mau kalah. Bila mengantar anaknya ke sekolah, dia selalu berpakaian bagus nan modis.

Untuk menambah prestise penampilannya, Lady Cempluk selalu membawa handphone.

Begitu memasuki lingkungan sekolah anaknya, biasanya dia selalu memakai HP itu. Tak heran jika hal itu memancing perhatian teman-teman pengantar lainnya.

”Papine Koplo kerja di mana sih, Sus Cempluk?” tanya Genduk Nicole, salah satu temannya yang tertarik pada perilaku Lady Cempluk.

”Ah, suami saya cuma bisnis kecil-kecilan di Jakarta,” jawabnya sembari menjab-menjeb.

”Jadi tiap pagi Sus Cempluk nelepon ke Jakarta,” tanya Genduk Nicole lagi.

”We… lha iya ta Cik Nicole. Makanya tagihan telepon saya tiap bulan banyak sekali,” kata Lady Cempluk mulai nyerocos memamerkan keberhasilan suaminya dalam bekerja.

Yang diajak ngomong tentu saja hanya mengangguk-angguk saja. Karena Lady Cempluk memang pintar ngomong, sehingga meski mereka ngobrol berjam-jam tidak terasa.

Namun sewaktu istirahat, Lady Cempluk sempat dibuat kelabakan ketika secara tiba-tiba Jon Koplo, anaknya, mengambil handphone dari dalam tas ibunya.

Lady Cempluk tampak kaget, sebab handphone itu memang selalu disimpan dalam tas. Dan hanya dipakai sendiri.

”Jangan Plo! HP-nya jangan buat mainan, nanti rusak!” seru Lady Cempluk berusaha menahan keinginan anaknya, sambil matanya melirik ke sana-kemari.

”Lho, emang-nya kenapa Ma? HP Ini kan emang mainan Koplo?” kata bocah itu keras sekali.

”Huss! ngaco kamu, ini handphone Mama?”

”Kapan Mama punya handphone? Ini kan Handphone saya yang Mama pinjam!” teriak Jon Koplo makin keras.

Mak prempeng muka Lady Cempluk tampak memerah. Karena ucapan anaknya itu membuat orang-orang yang berada di tempat itu menengok ke arahnya.

Segera direbutnya HP tersebut dari tangan Jon Koplo. Celakanya tiba-tiba antena HP itu lepas. Lady Cempluk tampak gugup, buru-buru dipungutnya lalu dimasukkan ke dalam tas. ”Wehh kik antenanya ucul,” teriak teman Koplo.

Setelah itu, Lady Cempluk pun melarikan diri dari tempat itu, karena merasa isin sebab rahasianya terbongkar.

Beberapa teman pengantar anaknya yang melihat kejadian itu hanya cekikikan. Terutama Genduk Nicole, yang tadi sempat percaya mendengar cerita Lady Cempluk yang nggedebus itu.

”Uh, gayanya pakai HP, nggak tahunya cuman HP dolanan,” bisik Genduk Nicole pada teman-teman di sebelahnya. Aduh, kasihan deh kamu Pluk.  

– Kiriman Mulyono, Kajen RT 02/RW X, Solo.

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to Top