”Cah iki guoblok buanget ya…”

Tom Gembus memang terkenal otaknya encer itu sebabnya ia dapat kuliah di universitas negeri tertua di Indonesia yaitu Gadjah Mada di Fakultas Kedokteran Umum lagi.
Sebagaimana mahasiswa kebanyakan maka iapun menjalankan aktivitas seperti biasanya. Dari kuliah, praktikum, penelitan, hingga membuat tugas yang dibebankan oleh dosennya. 

Tom Gembus yang asli Jogja mempunyai teman karib waktu SMA dan kuliah pada tempat yang sama pada fakultas yang berbeda, Jon Koplo namanya. Jon Koplo adalah Mahasiswa Teknik Elektro. Kedua-duanya memang satu angkatan sehingga memang tampak karib dalam berbagai aktivitas, kebetulan Jon Koplo juga dari Jogja.

Sesuai kalender rutin akademik maka sebentar lagi mereka akan menempuh ujian semesteran. Hari-hari yang dilalui bersama memang tidak ada masalah berarti dalam menempuh ujian namun yang menjadi pertanyaan adalah hasil studi mereka masing-masing.

Sudah menjadi kebiasaan masing-masing fakultas bahwa tiap fakultas punya kultur sendiri-sendiri termasuk dalam hal prestasi hasil studi yang diwujudkan dalam bentuk Indeks Prestasi Komulatif (IPK).

Sehingga bukan hal yang aneh apabila mahasiswa kedokteran memang tidak bisa disamakan dengan anak fakultas lain. Nah pengalaman ini jika diingat kembali memang membuat ketawa dan menggelikan sendiri.

Ujian telah usai berarti keduanya tinggal menunggu hasil studinya. Pada saat yang telah ditentukan jadwalnya. Tom Gembus punya inisiatif untuk mengajak Jon Koplo melihat nilainya.

”Besok kamu saya ajak ke fakultasku ya! Aku mau lihat nilaiku!” pinta Tom Gembus kepada Jon Koplo.

”Oke, apa kau siap nraktir jika lulus semua?” tanya Jon Koplo dengan mengajukan prasyarat.

”Wah Plo, aku nggak janji deh soalnya aku lagi Tongpes,” sergah Tom Gembus.

Esok harinya Tom Gembus menghampiri Jon Koplo yang telah siap dengan penampilannya yang rapi. Jreng… langsung saja motor melaju menuju kampus mereka tercinta. Dengan hati berdebar dalam hati Tom Gembus bertanya-tanya, ”Hasilnya bagus tidak ya.”

Tiba di kampus seperti biasanya, Tom Gembus bergegas membimbing Jon Koplo, karena yang lebih tahu kondisi fakultasnya adalah Tom Gembus. Di depan papan pengumuman telah ada Lady Cempluk teman satu angkatan Tom Gembus yang kebetulan datang lebih awal.

”Wah gimana hasilnya?” tanya Tom Gembus pada Lady Cempluk..

”Wah gimana ya,” jawab Lady Cempluk seolah enggan menjawab.

Mereka mulai asyik melihat hasilnya masing-masing tidak terkecuali Jon Koplo yang ikut melihat hasil studi mahasiswa teman-teman satu fakultas Tom Gembus.

”Wah kuliah jadi dokter memang sulit ya Mbus? Lha itu, nilainya kok jelek-jelek,” tanya Jon Koplo.

”Yah, begitulah Plo,” jawab Tom Gembus.

Di tengah keheningan tiba-tiba tanpa disadari. Jon Koplo yang asyik melihat dikejutkan hasil studi seorang mahasiswa teman Tom Gembus.

”Wah cah iki guobok buanget sih. Lihat Mbus nilai E-nya empat, D-nya cuma satu biji, IP-nya 0,14 weleh-weleh, guoblok tenan,” teriak Jon Koplo cukup keras.

Tom Gembus yang mendengar itu langsung memeriksa kira-kira siapa yang punyai nilai seperti yang disebutkan Jon Koplo. Maka tanpa babibu, Tom Gembus langsung nggeret Jon Koplo agar diam dan mendekap erat tubuh Jon Koplo. Dengan langkah terburu keduanya pun bergegas turun dan langsug pulang.

”Mbus ada apa ta?” tanya Jon Koplo setengah penasaran sekaligus jengkel.

”Plo, tahu nggak nilai yang kau sebut dengan keras tadi adalah punya Lady Cempluk yang melihat nilai dengan kita tadi,” kata

”Whaalah… haa… haa…,” ger Jon Koplo tertawa dengan lebarnya hingga membuat Tom Gembus pun cengar-cengir menahan malu.  

– Kiriman Nur Alam Windu Kuncoro, Purwonegaran RT 04/05, Sriwedari, Laweyan, Solo.

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to Top