”Sinten… Mbak?”

Jon Koplo adalah mahasiswa perantauan dari luar Jawa yang notabene mahasiswa perguruan tinggi yang top di Kota Solo. Sebagai orang pendatang atau non pribumi sudah menjadi kewajiban bagi Jon Koplo harus mempelajari bahasa Jawa yang terkanal sulit. 
Nah, gara-gara salah bicara bahasa Jawa-lah Jon Koplo jadi malu.

Ceritanya siang itu Jon Koplo pulang kuliah. Seperti biasa Jon Koplo langsung mampir di warung makannya Genduk Nicole yang terkenal paling enak di sekitar kos-kosannya. Begitu datang, Jon Koplo langsung pesan makanan. Tentu saja pakai bahasa Jawa yang masih agak belepotan alias grothal-grathul. Maklumlah.

”Mbak, maem,” pesen Jon Koplo yang langsung berdiri di samping Nicole yang sibuk menata piring.

”Ooo… Mas Jon Koplo. Makannya apa, Mas?” tanya Nicole ramah.

”Maem sayur pakai telur setunggal terus kalih es jeruk,” kata Jon Koplo.

”Wah…, Mas Jon Koplo sudah pintar basa Jawa, ya sekarang,” kata Nicole sambil tersenyum. Jon Koplo pun hanya tersenyum simpul.

Inggih, Mbak. Sekalian latihan. Mungkin mangke angsal tiyang Solo,” kata Jon Koplo sambil tersenyum. Sambil menunggu makanan Jon Koplo ngobrol dengan Tom Gembus, temannya yang kebetulan ada di situ.

”Niki maeme, Mas Jon Koplo. Mangga dipun dhahar,” kata Nicole.

”Maturnuwun, Mbak,” kata Jon Koplo yang langsung makan dengan lahapnya.

Setelah selesai makan Jon Koplo langsung menghampiri Nicole yang saat itu sedang sibuk menata dagangannya.

”Mbak Nicole, sampun,” kata Jon Koplo.

”Napa mawon, Mas?” tanya Nicole yang saat itu kebetulan sedang melayani pembeli.

”Maem pakai telur, tambah krupuk kalih, terus es jeruk setunggal. Sinten, Mbak?” tanya Jon Koplo.

”Napa, Mas Jon Koplo?” tanya Nicole yang masih sibuk melayani pembeli.

”Anu….maem pakai telur tambah kerupuk kalih terus es jeruk setunggal. Sinten, Mbak?” tanya Jon Koplo lagi.

”Napa, Mas Jon Koplo?” tanya Genduk Nicole sambil tersenyum. Jon Koplo mengulangi pesanannya sekali lagi. Lagi-lagi Genduk Nicole tersenyum.

”Lha, iya Mbak. Sinten sedaya?” Jon Koplo masih menanyakan dengan kata-kata yang sama. Jon Koplo tidak tahu kalau dia salah bicara. Seharusnya Jon Koplo berkata ”pinten” bukan ”sinten”.

”Mbak Nicole kok tertawa, ta?” tanya Jon Koplo penasaran. Nicole tambah lebar tertawanya. Gembus makin penasaran.

”Begini lho, Mas. Mas Jon Koplo itu salah ngomong.”

”Salah ngomong apa, sih Mbak. Perasaan tidak,” kata Jon Koplo yang makin bingung dan penasaran. Mukanya memelas banget.

”Begini, Mas. Mas Jon Koplo tadi kan nanya pakai kata ”sinten”, harusnya pakai kata ”pinten”. Sinten itu artinya siapa, terus kalau pinten itu artinya berapa. Jadi, Mas Jon Koplo salah ngomonge, begitu, Mas,” kata Genduk Nicole menerangkan. Jon Koplo langsung ketawa mendengar penjelasan Nicole.

”Woo…, salah ngomong ta, Mbak. Aku nggak ngerti, Mbak. Kemarin kan nanya sama teman. Aku dengarnya kalau nanyain harga pakai kata ”sinten”, padahal pinten. Sorry, Mbak,” kata Jon Koplo. ”Ya sudah. Pinten, Mbak?” tanya Jon Koplo lagi sambil tersenyum.

”Kaleh ewu, Mas ngertos mboten?” tanya Nicole.

”Jelas, dong. Dua ribu kan,” kata Jon Koplo. Nicole mengangguk.

”Ini Mas kembaliannya,” kata Nicole sembari menyodorkan uang kembalian.

”Maturnuwun, ya Mbak. Kalau begitu, pamit dulu. Thanks penjelasannya,” kata Jon Koplo yang beranjak dari tempat itu.

”Mas Jon Koplo, lain kali jangan sampai salah lagi, ya,” kata Nicole mengingatkan.

 – Kiriman Susi Prasetyaningtyas, FKIP Biologi UNS, Jl Ir Sutami 36 A Gedung V Kentingan Surakarta 57126.

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to Top