”Awaaass… jambret kapusan…”

Lady Cempluk adalah seorang karyawati di sebuah pabrik rokok yang cukup besar di Kota Malang. Ia sangat terkenal di antara rekan-rekan kerjanya karena senang memakai perhiasan yang overdosis alias berlebihan.
Suatu saat, ia mengajak sobatnya Genduk Nicole untuk berbelanja ke pasar modern Matahari di Jl Slamet Riyadi Solo. 
Seperti biasanya sebelum berangkat ia berdandan terlebih dahulu dan memakai semua perhiasan koleksinya, dari cincin sampai kalung yang besar-besar bagaikan rantai kapal.

Setelah selesai, Lady Cempluk berangkat bersama Genduk Nicole dengan naik becaknya Tom Gembus yang biasa mangkal di dekat rumah Lady Cempluk.

Sesampainya di pasar, mereka berdua segera turun dari becak dan berjalan menuju tempat tujuan. Sedangkan Tom Gembus menunggu di depan pasar sesuai amanat Lady Cempluk.

Nah saat Lady Cempluk dan Genduk Nicole menyeberang jalan, semua mata tertuju ke arah mereka, maklum dandanan Lady Cempluk yang terlihat wah dan pting krimpying itu.

Sedangkan Genduk Nicole cuma bisa mesam-mesem melihat tingkat orang-orang di sekitarnya. Dari beberapa mata yang memandang itu, ada sepasang mata yang rupanya mengincar kalung Lady Cempluk.

Sepasang mata itu adalah milik Jon Koplo, preman yang biasa beraksi di daerah itu. Tanpa disadari keduanya, Jon Koplo terus menguntit di belakang mereka. Sampai acara belanja selesai Jon Koplo terus mengikuti mereka.

Pada saat Lady Cempluk dan Genduk Nicole hendak naik becak lagi, dengan tiba-tiba Jon Koplo mak brabat langsung narik kalung yang dipakai Lady Cempluk sampai putus dan dibawa lari nggenjrit buanter banget.

Melihat aksi kejahatan Jon Koplo yang tak terduga-duga itu, tentu saja keduanya sempat girap-girap. Hanya saja, ada sesuatu yang membuat perasaan Genduk Nicole aneh. Yaitu sikap Lady Cempluk yang terlihat tenang-tenang saja, sekalipun kalungnya sudah dibawa kabur Jon Koplo. Padahal Genduk Nicole yang tidak mempunyai kalung itu sudah gidro-gidro panik sehingga berteriak-teriak histeris. ”Tulooong… tulooong ana jambret… jambret…!” teriaknya keras sekali.

Tentu saja teriakan Genduk Nicole itu mengundang perhatian puluhan orang yang ada di sekitar kejadian. Maka mak grudug puluhan orang itu langsung mengejar Jon Koplo yang ngibrit sambil membawa hasil kejahatannya.

Setelah berteriak-teriak, Genduk Nicole malah jadi bingung sendiri begitu melihat temannya yang barusan dijambret malah meneng wae sambil pecingas-pecingis. ”Lho Mbak Cempluk iki yok apa seh, kalunge dijambret kok malah meneng ae? (Lho, Mbak Cempluk ini gimana sih, kalungnya dijambret kok malam diam saja?),” tanya Genduk Nicole yang asli Malang ini.

Mendengar teguran temannya itu. Maka tanpa dikomando lebih lanjut, Lady Cempluk ikut berteriak sangat keras dengan geramnya tak kalah dengan Genduk Nicole.

”Mbret… jambret… jambreten, wong iku kalung imitasi… weee! (Jambret silakan dijambret, itu hanya kalung imitasi),” kata Lady Cempluk sambil melet ngece.

Teriakan Lady Cempluk yang terakhir itu, tentu saja membuat puluhan orang yang tadi sudah start mengejar penjambret, mak jegagig membuat mereka mengurungkan niat mereka untuk sprinter. Karuan saja beberapa orang yang mengejar Jon Koplo langsung berhenti grak, sedangkan beberapa orang yang tahu kejadian itu langsung geerrr… sementara yang sudah telanjur lari mengejar hanya bisa mingsuh-mingsuh.

Sementara Jon Koplo yang saat itu rupanya juga mendengar teriakan Lady Cempluk bahwa hasil jambretannya kalung palsu, berlari lebih cepat lagi karena mungkin malu dilihat orang banyak. Jon Koplo sudah merasakan untung dan apes sekaligus, berhasil njambret kalung tapi nggak tahunya barang imitasi.

”Oalah iku mau kalung imitasi ta, tak kira emas asli,” kata Genduk Nicole saat perjalanan pulang.

”Sapa ngongkon njambret aku, (Siapa suruh njambret saya),” celetuk Lady Cempluk dengan santainya.  – Kiriman Sri Hariati, Jl Mergan Lori III/35 C , Malang

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to Top