”O, Bodong ta Plo…”

Apalah artinya sebuah nama? Begitu pernah dikatakan William Shakespeare, pengarang dari Inggris yang menganggap nama tidaklah terlalu penting. Tapi anggapan itu tidak berlaku bagi orang Jawa, khususnya buat Tom Gembus dan teman-temannya. Sebab, gara-gara nama mereka dibuat pusing dan bingung mencari teman mereka yang bernama Jon Koplo. 
Ceritanya, Tom Gembus dan tiga orang temannya yang tinggal di Kota Solo ini sedang melancong ke Waduk Gajah Mungkur, Wonogiri. Mereka membawa sepeda motor. Mumpung sudah sampai di Wonogiri mereka sekalian ingin mengunjungi Jon Koplo, yang rumahnya berada di sebuah desa di luar Kota Wonogiri. Meski mereka belum pernah sekalipun main ke rumah Koplo, tapi mereka yakin bisa menemukan rumah Koplo. Mereka berpatokan pada nama dusun tempat tinggal Koplo.

Singkat cerita mereka sudah sampai di Dusun Ngasem, nama dusun tempat tinggal Koplo. Tapi mereka sempat kesulitan mencari rumah Koplo. Kebetulan mereka bertemu seorang laki-laki setengah baya yang pulang dari sawah.

”Maaf Pak. Kalau boleh tahu, di mana rumah Jon Koplo?” tanya Tom Gembus kalem.

”Wah yang namanya Jon Koplo di sini tidak ada Mas,” jawab lelaki itu kalem.

”Ah, masak? Tapi kata Jon Koplo dia tinggal di dusun ini. Bukankah ini Dusun Ngasem?” tanya teman Gembus yang lain.

”Ya benar. Tapi setahu saya di sini tidak ada yang namanya Jon Koplo.”

”Itu lho Pak. Jon Koplo yang kuliah di Solo?”

”Kalau yang kuliah di Solo tidak ada yang namanya Jon Koplo. Tapi si Mentog, Krucil, Bodong, sama Yayuk. Mungkin orang yang dicari Mas-Mas tidak tinggal di sini. Dusun Ngasem kan ada dua Mas. Mungkin orang yang dicari Mas-Mas tinggal di Dusun Ngasem di desa sebelah?”

Gembus dan teman-temannya saling pandang. Mereka tak mengira kalau yang namanya Dusun Ngasem ada dua. Mereka lalu pergi ke Dusun Ngasem satunya lagi. Tapi sesampai di sana mereka tak juga menemukan rumah Jon Koplo. Pasalnya tak ada orang bernama Jon Koplo tinggal di dusun itu yang kuliah di Solo. Gembus dan teman-temannya jadi bingung sendiri. Padahal mereka tahu persis Jon Koplo tinggal di Dusun Ngasem dari Kartu Mahasiswa maupun KTP.

Sebenarnya mereka sudah putus asa dan berniat pulang kembali ke Solo, tapi Gembus menahannya dulu. Dia mengajak teman-temannya kembali ke dusun yang pertama. Mereka menyusuri jalan kampung dengan harapan menemukan Koplo di tengah jalan. Dan harapan mereka terkabul, ketika tanpa sengaja mreka menemukan Koplo sedang nongkrong bersama teman-teman kampungnya di pos ronda.

”Oalah Plo… Plo Tiwas mumet mubeng-mubeng goleki kowe, jebule ning kene. Padahal kita sudah tanya sama orang-orang di jalan, tapi mereka tidak ada yang kenal kamu. Memangnya di sini kamu punya nama lain Plo?” tanya Gembus heran.

”Sorry, teman-teman. Di sini aku memang tidak biasa dipanggil Jon Koplo, tapi… Bodong!” jawab Koplo malu-malu.

”Apa? Bodong Ha ha ha…!” teman-temannya malah jadi tertawa geli. Mereka baru tahu kalau Koplo punya nama julukan lain.

Koplo jadi tambah malu dan tak enak. Dia lalu menyeret teman-teman kuliahnya menuju ke rumahnya. Kini oleh teman-temannya di kampus Koplo dipanggil Bodong!  

– Kiriman Eko Hartono, RT 02 Tegalombo, Banyakprodo, Tirtomoyo, Wonogiri, 57672.

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to Top