”Bisa bicara dengan telepon..?”

Di lingkungan tempat tinggal Lady Cempluk, tinggal seorang nenek yang biasa bekerja menjual peyek, kripik, lemet atau bothok yang dia buat sendiri. Usia nenek-nenek itu kira-kira 70-an tahun. 
Selain berdagang kecil-kecilan seperti itu, kadang-kadang dia juga menjual jasa dengan menyucikan pakaian, menyetrika dan bahkan berbelanja jika ada tetangganya yang menyuruh. Tentu saja semuanya dengan upah yang pantas dan wajar. Nenek-nenek itu di kampung Lady Cempluk biasa dipanggil Mbok Genduk Nicole.

Nah beberapa waktu lalu, keluarga Lady Cempluk hendak mengunjungi kerabat yang akan menikahkan anaknya di Jakarta. Maka ibu Lady Cempluk meminta Mbok Genduk Nicole untuk menjaga rumah dan membersihkannya serta memberi makan binatang peliharaan milik Tom Gembus, ayah Lady Cempluk.

Ibu Lady Cempluk memang mempercayakan kunci rumah padanya, karena kerja Mbok Genduk Nicole dinilai memuaskan. Sebelum mereka berangkat, tentu saja sudah memberi tahu cara memberi makan binatang peliharaan, memberi tahu mana yang perlu dibersihkan, dan juga apa saja yang harus dikerjakannya selama keluarga Lady Cempluk pergi.

Mbok Genduk Nicole yang kondisi fisiknya yang sudah renta itu ternyata tidak membuat dia malas. Dia bekerja dengan baik. Cuciannya selalu bersih, juga saat membersihkan rumah, hampir tidak ada kotoran yang tertinggal. Hanya saja, kadang orang kurang menyukainya karena Mbok Genduk Nicole dikenal resek atau kalau orang Jawa bilang kakean usrek.

Di samping itu, ada satu kelemahan fisik yang dia punyai, yaitu pendengarannya kurang beres alias budheg. Sehingga kadang ngomongnya nggak nyambung, jadi kalau ada yang ngomong mesti keras atau pelan disertai bahasa isyarat ala Tarzan.

Ibu Lady Cempluk juga berpesan kepada Mbok Genduk Nicole agar berhati-hati dan sering menengok rumah. Tapi rupanya Ibu Lady Cempluk lupa memberi tahu cara bagaimana menerima telepon. Karena memang tidak tahu dan yakin tidak akan ada orang yang menelepon saat mereka tidak di rumah.

Ternyata kepulangan Lady Cempluk sekeluarga dari Jakarta mundur dari rencana semula. Ketika pulang, keluarga Cempluk dihadang banjir di daerah Kendal sehingga mengakibatkan keterlambatan. Seharusnya mereka bisa sampai di Solo pukul tiga pagi, tapi baru sampai pukul dua siang.

Setibanya di rumah, Mbok Genduk Nicole baru saja beranjak dari rumah mereka. Dia menceritakan apa aja yang dilakukannya ketika kemarin mereka pergi dan memasrahkan kembali kunci rumah yang dibawanya. Dia juga mengatakan kalau tadi pagi telepon berbunyi.

”Wau niki (sambil menunjuk ke pesawat telepon) enten sing ngebel,” kata dia.

”Sapa, Mbah?” tanya Lady Cempluk.

”Ora ngerti! Aku ya mung muni; ‘Ibu dereng kondur saking tindak Jakarta. Ngendikane ajeng kondur wingi ning niki kok nggih dereng kondur’ ngana lha Pluk,” kata Mbah Nicole menjelaskan

”O… ya wis. Lha apa ra mbok angkat ta Mbah?”

”Ora! Lha ya mung tat-titut-tatitut wae, terus aku aku muni ngana kuwi mau. Ning bareng aku ngomong telepuni kuwi gek terus meneng!”.

Lady Cempluk pun lantas ngakak karena berarti Mbah Genduk Nicole tadi berbicara dengan pesawat telepon yang berbunyi, tanpa mengangkatnya sama sekali. Ya mana tahu siapa yang menelepon!

 – Kiriman Wien Nugrahaning W, Kalitan RT 01/I No 28, Solo 57141.

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to Top