Pencurinya STW ni yee…

Lady Cempluk adalah seorang janda warga Desa Sokorini, Manisrenggo, Klaten. Dia hidup sendirian di rumahnya yang sederhana. Satu-satunya barang yang berharga yang ada di rumahnya adalah sebuah TV hitam putih 14 inc peninggalan almarhum suaminya. 
Walau modelnya kuno dan produk lama, Lady Cempluk amat menyayangi TV tersebut. TV itu dibuatkan kotak khusus (tempat TV) yang dapat dibuka dan ditutup, agar bisa terhindar dari debu.

Kebetulan menantunya ada yang bekerja di perusahana mebel. Jadi sang menantu dengan senang hati menghadiahi Lady Cempluk kotak TV istimewa yang di pinggir-pinggirnya diberi sedikit ukiran, biar kelihatan mewah dan nyeni.

Malam itu seperti biasanya, Lady Cempluk menghabiskan waktu dengan menonton TV. Pukul 21.00 WIB dia sudah merasa ngantuk. Setelah mematikan TV dan menutup kotaknya, Lady Cempluk pergi tidur. Kira-kira jam 03.00 pagi, Lady Cempluk terbangun dan menyadari rumahnya dalam keadaan gelap gulita.

”Wah… oglangan apa njeglek ya?” Lady Cempluk grenengan sambil grayah-grayah mencari senter di atas dipannya.

Dengan malas-malasan Lady Cempluk keluar rumah untuk memeriksa sekering listrik.

”Ternyata njeglek ta…,” kata Lady Cempluk sambil membetulkan sekeringnya.

Dan byar… rumah Lady Cempluk menjadi terang kembali. Setelah menutup pintu, Lady Cempluk bermakud kembali tidur, namun dia menjadi kaget ketika mendadak matanya melihat jendela kamar tamu sudah terbuka dan secara refleks matanya melihat ke meja tempat TV biasa diletakkan. Darahnya seakan-akan berhenti mengalir karena TV kesayangannya sudah raib.

Dengan gugup Lady Cempluk berlari keluar rumah dan berteriak minta tolong. ”Tulung… tulung… tulung, ada maling…. tiviku dimaling,” begitu teriaknya berulang-ulang sehingga membangunkan tetangga kanan-kiri.

Dalam waktu singkat mereka memenuhi rumah Lady Cempluk. ”Ada apa Mbah?” tanya Jon Koplo tetangga terdekat Lady Cempluk.

”Anu… Mas, tiviku dicuri orang,” kata Mbah Cempluk terbata-bata sambil berusaha menerangkan awal kejadiannya.

”Coba Mbah Cempluk tenang dulu, saya dan teman-teman akan berusaha melacaknya, semoga saja belum jauh,” kata Jon Koplo sambil memberi komando para pemuda untuk berpencar.

Sekitar 2 km arah utara dari rumah Lady Cempluk, kelompok Jon Koplo melihat sebuah kotak yang diletakkan di tengah jalan. Dengan hati-hati Jon Koplo mendekati kotak tersebut.

”Ini kan kotak tivinya Mbah Cempluk, aku orang pangling,” kata Jon Koplo kegirangan.

Dibukanya kotak tersebut dan Jon Koplo menghela napas lega begitu melihat tivinya masih parkir di dalamnya.

Dan ketika dilihat lebih cermat lagi, ternyata ada sobekan kertas di dalamnya. Dengan penasaran Jon Koplo mengambil kertas tersebut dan membacanya. ”Tivine elek, aku emoh tivi hitam putih (televisinya jelek, saya tidak mau televisi hitam putih).” Mau tak mau Jon Koplo dan cs-nya tersenyum membaca pesan dari si pencuri.

”Mungkin pencurinya ngefans berat sama tivi warna, akibatnya tivi hitam putih Mbah Lady Cempluk ditolaknya,” kata Jon Koplo.

”Iya… waktu ngambil tivi Mbah Cempluk, pencurinya pasti tertipu dengan penampilan kotak luarnya yang bodinya oke punya. Setelah tahu yang dicuri hanya tivi hitam putih dia kecewa berat dan meninggalkan curiannya di sini,” kata Tom Gembus mencoba menganalisis kejadian itu.

”Kalau begitu, pencurinya STW dong! Spesialis Tivi Warna…,” canda Tom Gembus diiringi derai tawa teman-temannya.

 – Kiriman St Khoeriyah, Merbung RT 01/V Klaten Selatan, Klaten 57424.

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to Top