”Eh… jangane kliru legi…”

Saat itu waktu menunjukkan hampir pukul 07.00 WIB. Seperti biasanya Jon Koplo dan isterinya Lady Cempluk datang ke rumah mertuanya untuk dinner. Maklum, walaupun usia perkawinan mereka telah memasuki tahun ke-2, tetapi pasangan suami-isteri yang belum dikarunia momongan itu masih saja menganut paham 5M, yaitu madhep, mantep, mangan, melu, maratuwa. 
Sebenarnya Jon Koplo dan Lady Cempluk sudah sama-sama bekerja dan punya rumah sendiri yang letaknya hanya beberapa meter dari rumah mertuanya, dan sebenarnya pula sudah banyak sesepuh, termasuk sang mertua yang ngandhani alias menasihati Pasutri (pasangan suami-isteri) tersebut agar mandiri. Jadi biar tidak tergantung sama Ortu terus-menerus.

Tetapi dasar wong ndableg, wejangan-wejangan itu ndak mempan untuk keduanya. Jon Koplo dan Lady Cempluk tetap lebih suka nggandul wong tuwa daripada memasak sendiri. ”Ora repot dan lebih ngirit,” mungkin begitu yang ada di pikiran mereka.

Tidak seperti biasanya, malam itu tuan rumah yang terdiri dari Ibu, Bulik, dan adik Lady Cempluk yaitu Genduk Nicole ternyata sudah makan duluan tanpa menunggu Jon Koplo dan Lady Cempluk.

Lauk pauk sudah dikukuti dan dimasukkan ke lemari makan, sedangkan sayurnya diangeti dan dibiarkan nongkrong di atas kompor.

Begitu datang, Jon Koplo dan Lady Cempluk langsung menuju ruang makan. Kemudian Lady Cempluk mengambil nasi dari rice warmer yang hanya tersisa pas untuk dua porsi. Setelah itu, Lady Cempluk mempersilakan sang suami untuk secara swalayan mengambil sayur dan lauknya di dapur yang letaknya bersebelahan dengan ruang makan tersebut.

Sedangkan dirinya malah asyik nimbrung dengan tuan rumah nonton TV.

Nah, pada waktu mengambil sayur inilah, Jon Koplo mengalami kejadian apes dan konyol. Waktu itu lampu dapur sudah dimatikan, tetapi dasar Jon Koplo orangnya malesan untuk nyeklekke saklar saja di ogah.

”Toh, dapur kesorot lampu dari dalam. Jadi, tidak peteng-peteng banget. My eyes juga masih awas melihat di remang-remang,” batin Jon Koplo sambil menghampiri panci yang nangkring di atas kompor.

Tanpa ba-bi-bu mengambil se-irus (sendok sayur) besar isi salah satu panci tersebut dan dituangkan ke atas panci. Kemudian, sambil rengeng-rengeng Jon Koplo menuju ruang makan. Begitu sampai di ruang makan yang padang lampunya, Jon Koplo kaget makjenggirat, ”Wealah…., lha kok jebule kolak waluh… kepriye iki (Wealah…, lha kok ternyata kolak labu kuning… bagaimana ini)?” ujar Jon Koplo rasan-rasan dhewe.

Beberapa saat kemudian serta merta Jon Koplo memanggil isterinya, ”Pluk, coba kemari. Lihat ini sayurnya kok kolak.”

”Lha sampeyan iki kepriye ta,” kata Cempluk.

”Aku ora ngerti kok,” ucap Jon Koplo menanggapi.

Mendengar ribut-ribut itu, sang tuan rumah pun menyusul ke ruang makan pengin tahu apa yang terjadi. ”Ana apa, kok heboh banget?” tanya si Ibu.

”Ini lho Bu, Mas Koplo ngambil sayur keliru kolak,” sahut Lady Cempluk.

”Oalah…, lha tadi lampunya apa nggak di-urup-kan (dinyalakan)? Memang tadi sayur sama kolak ibu angeti biar tidak basi dan ibu biarkan nangkring di kompor,” ucap sang Ibu.

”Ah, ya biarin, Bu Mas Koplo pokoknya harus menghabiskan nasi kolak itu! Lha mau bagaimana lagi, wong nasinya tinggal itu sama punyaku ini kok?” ujar Lady Cempluk berlagak kejam.

”Mbok barengan ta, Pluk. Aku kan neg kalau harus makan nasi kolak ini,” ucap Jon Koplo memelas.

 – Kiriman Wahyu Nurchayatun SS, Jl Nila I/19A, RT 02/RW I, Wuryorejo, Wonogiri 57614.

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to Top