Foto bledhek

Ini kisah nyata seorang Manula (manusia lanjut usia), kita sebut saja namanya Mbah Lady Cempluk. Mbah Lady ini tergolong generasi gagrak lawas alias orang kuno yang jarang sekali berhadapan dengan benda-benda modern, termasuk yang namanya kamera. Paling-paling di bertemu barang itu kalau pasmembuat KTP di kelurahan. Itu pun berfoto massal. 
Nah, kisah lucu yang melibatkan Mbah Lady Cempluk sebagai pemeran utama ini berawal ketika Mbah Lady Cempluk yang berdomisili di Wonogiri ini ikut grubyugan (mengantar beramai-ramai) pengantin laki-laki ke tempat pengantin perempuan pada waktu resepsi ke Boyolali. Kebetulan sejak berangkat sampai duduk di tempat resepsi, Mbah Lady Cempluk selalu berdampingan dengan salah seorang tetangganya yang bernama Bu Genduk Nicole.

Singkat cerita. Acara dalam resepsi pernikahan itu pun secara bertahap terlaksana dengan khidmat dan lancar, mulai dari acara ritualnya sampai acara santainya.

Tentu saja para juru foto tak ketinggalan mengabadikan setiap acara yang berlangsung karena hal itu merupakan momen yang sangat bersejarah bagi pasangan pengantin tersebut.

Maka kilatan blitz tak henti-hentinya memancar ke semua sudut ruangan. Tak luput pula deretan di mana Mbah Lady Cempluk dan rombongan dari Wonogiri duduk, juga mendapat jatah ”jepretan” dari juru foto, mak klik…byar….

Di luar dugaan, Mbah Lady Cempluk saat terterpa kilatan blitz, langsug mbengok, ”E…e… bledhek!” kata Mbah Lady Cempluk yang tengah menikmati sup seraya buru-buru meletakkan piring sup ke pangkuannya, lalu kedua tangannya menutup telinga kanan-kiri.

Ternyata tidak hanya satu juru foto saja yang mengambil gambar di deretan tersebut, tetapi ada beberapa yang kepengin mengabadikan para hadirin dari Wonogiri itu. Maka secara bergantian para tukang foto mengarahkan kameranya ke tempat tersebut.Mak klik…klik…klik… byar… byar… byar.

Kilatan blitz bertubi-tubi menyilaukan para hadirin di deretan tersebut, dan herannya Mbah Lady Cempluk pun bertubi-tubi mengatakan ”E..e…bledhek!” sambil menutup kedua telinganya.

Bu Genduk Nicole yang duduk di samping Mbah Lady Cempluk sebenarnya sudah sejak dari tadi merasa heran mendengar dan melihat tingkah Mbah Lady Cempluk tersebut. Sebab sejak acara resepsi itu dimulai Mbah Lady Cempluk selalu berkata yang disertai tingkah seperti itu, seakan-akan melihat petir yang menyambar padahal Bu Genduk Nicole sama sekali tidak melihat ada tanda-tanda petir menggelegar.

Lha wong malam itu langit terang benderang dan bintang juga bertebaran dengan indah. Saking penasarannya Bu Genduk Nicole akhirnya bertanya pada Mbah Lady Cempluk, ”Mbah, dari tadi panjenengan kok ngendika bledhak-bledhek kalih nutup talingan niku wonten napa?”

”Lho, sampeyan ini bagaimana ta Bu, genah ana bledhek ngana kok,” jawab Mbah Lady Cempluk.

”Mboten wonten bledhek Mbah, langitnya aja padhang njingglang kok,” sergah Bu Genduk Nicole.

”Lha sejak acara resepsi ini dimulai sampai sekarang kan bledhek-nya ndak mandheg-mandheg. Pertanda apa ini ya, Bu?”

Bu Genduk Nicole mesam-mesem mendengar ucapan Mbah Lady Cempluk tersebut. Dia yang tadinya tidak mudheng tentang bledhek yang dimaksudkan Mbah Cempluk. Sekarang jadi mudheng. Rupanya bledhek yang dimaksudkan Mbah Lady Cempluk tersebut tidak lain, tidak bukan adalah blitz yang berkilat dari kamera para tukang jepret yang mengabadikan acara resepsi tersebut.

”Oalah, Mbah-Mbah, yang pating cemlorot dari tadi itu bukan bledhek tapi lampu dari kamera yang digunakan para tukang foto itu untuk motret kita, biar hasilnya jos gandhos,” ucap Bu Genduk Nicole menjelaskan.

”Ooo…apa iya ta, Bu. Tiwas aku wis semelang(khawatir)….” komentar Mbah Lady Cempluk.o  

– Kiriman Wahyu Nurchayatun SS, Jl Nila I/19, RT 02 RW I, Wuryorejo, Wonogiri 57614.

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to Top