”Tiwas tak bukakke lawang…”?

Sudah lama Jon Koplo ingin sekali mendatangi kenalannya yang tinggal di Banyubiru, Ambarawa. Dia ingat bahwa dia pernah berjanji akan main-main ke sana suatu saat. Dan janji itu belum terpenuhi sampai sekarang. 
Maka dia mulai menghitung-hitung ongkos ke Banyubiru. Jarak antara Karanggede, Boyolali, tempat tinggalnya, menuju Banyubiru kalau ditempuh dengan angkutan umum bisa-bisa tiga kali ganti kendaraan.

”Lebih baik aku ajak Tom Gembus saja untuk menemaniku. Sekalian aku bisa pinjam motornya. Lagipula aku belum tahu persis alamat kenalanku itu, nanti kan bisa tanya-tanya di jalan,” pikir Jon Koplo.

Ternyata ide tersebut diterima dengan baik oleh Tom Gembus. Maka dengan modal alamat di tangan, berangkatlah mereka berboncengan naik motor. Sepertinya perjalanan akan berjalan dengan lancar dan selamat. Setiap kali mereka kebingungan arah, tinggal menanyakan kepada penduduk setempat dn selalu dijawab dengan tepat.

Keluar dari Jetis, Salatiga menuju Banyubiru, jalan mulai sepi. Sampai di pertigaan Sraten, sekali lagi mereka dihadapkan pada keharusan memilih jalan. Yang lurus agak kanan atau yang ke kiri.

Tengak-tengok mereka menemukan ada orang di situ tapi agak jauh.

”Mbus kamu turun sana. Tanyakan Desa Kebumen itu di mana,” perintah Jon Koplo kepada sahabatnya. Sedangkan dia sendiri masih nangkring di sepeda motor dengan tetap memegang setir. Samar-samar dia mendengarkan pembicaraan mereka.

”Maaf Pak, numpang tanya, kalau jalan ke Kebumen yang mana ya?” dengan sangat sopan dan badan dibungkuk-bungkukkan Tom Gembus bertanya kepada orang kampung itu dalam bahasa Jawa krama inggil.

”Oh, itu yang ke kiri, kisanak jalan saja lurus kurang lebih 4 kilometer dari sini,” jawab orang itu tak kalah sopan.

Merasa sudah mendengar semua jawaban yang diinginkan, Jon Koplo segera menstater motornya. Sedangkan Tom Gembus sambil berjalan menuju motor, mengulangi jawaban yang didapatinya untuk Jon Koplo.

”Ya saya sudah dengar semuanya. Let’s go!” sambil tancap gas John Koplo ingin cepat-cepat sampai di rumah kenalannya. Selama perjalanan Jon Koplo mencoba mengingat-ngingat tanda-tanda yang diberikan kenalannya. Dia semakin yakin ketika melewati kolam renang Muncul.

”Nah betul ini. Kata kenalan saya, kalau sudah sampai di sini kita tidak lama lagi”, John Koplo semakin bersemangat memacu motornya. Namun kali ini tidak ada jawaban dari yang belakang. Dan itu tidak menjadi perhatian buat Jon Koplo. Dia terus berbicara tentang rencana dia sesampai di tempat kenalannya.

”Nah ini dia rumahnya!,” John Koplo berteriak dengan riang. Dari pinggir jalan dia sudah membunyikan klaksonnya sebagai tanda panggilan untuk tuan rumah. Tetapi betapa kagetnya dia ketika berhenti dan menoleh ke belakang,…

”Lho Tom Gembus njiblok nyang endi cah iki? Wah pasti ketinggalan di pertigaan tadi,” tanpa memperdulikan tuan rumah yang sudah membuka pintu dan siap menyambutnya, Jon Koplo langsung berbalik arah dan tancap gas.

Tinggallah si tuan rumah kebingungan dan plonga-plongo. ”Lho gimana sih, tiwas dibukakan pintu kok malah lari. Apa wajahku mengerikan apa ya?”.

Sementara itu, di jalan, Tom Gembus hanya duduk termangu-mangu. Dalam dirinya bercampur antara geli dan marah. Maka begitu dilihatnya Jon Koplo kembali lagi, dia langsung mengeluarkan semprotan bertubi-tubi. Jon Koplo pun meminta maaf atas kejadian itu.

Akhirnya kejadian itu menjadi topik utama pertemuan mereka di rumah kenalan Jon Koplo. o  

– Kiriman Sugeng Wibawa, Gigiksari RT 05/04 Kel Sadeng, Kec Gunung Pati, Semarang 50222.

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to Top