”Kok… semuanya nggak boleh?”

Sebagai pendatang baru, sudah seharusnya bisa seseorang harus beradaptasi dengan lingkungan. Sehingga rasa canggung dan bingung, apalagi malu-maluin tidak akan menimpa kita. Sayangnya, filosofi itu tidak dilakukan sohib kita Lady Cempluk yang asli Jawa Barat tapi ngenger di Kota Bengawan. 
Seperti kebanyakan orang baru, Cempluk-pun juga belum bisa berbahasa Jawa. Sehingga dalam keseharian ia masih saja menggunakan bahasa favoritnya alias bahasa Sunda, meskipun ada juga temannya yang bisa ngomong Jawa.

Tapi dasar Cempluk, ia masih saja nggak mau berusaha sinau ngomong ala wong Solo maka pada suatu hari, sepulang kerja ketika cempluk hendak mencari makan, harus mengalami peristiwa memalukan. Awalnya, dia sebenarnya mau mengajak teman,. Tapi yang diajak kebetulan sudah makan duluan, sehingga terpaksa Cempluk keluar cari makan sendiri.

Singkat cerita, Cempluk pun segera bergegas ke warungnya Genduk Nicole yang jaraknya tak berapa jauh dari kos-kosannya. Setelah tiba di warung dan nunggu antrean cukup lama, tiba giliran Cempluk.

”Maem apa Mbak?” tanya Genduk Nicole dengan ramahnya.

”E…anu Bu maem nasi sama sayur,” jawab Cempluk.

”Sayurnya pakai yang mana?” tanya Genduk Nicole lagi.

”Yang ini Bu,” jawab Cempluk sambil menunjuk sayur di depannya .

”Oo, ini jangan kangkung,” kata Genduk Nicole menjelaskan.

Mendengar ucapan Genduk Nicole, Cempluk agak heran. Lalu ia segera berkata, ”Eh, yang ini saja Bu, kalau begitu,” jelas Cempluk.

Dan Genduk Nicole pun, berkata lagi, ”Oo, jangan terong.”

”Kalau begitu yang itu saja, Bu,” kata Cempluk sedikit gugup.

”Oo, jangan sawi,” lagi-lagi Genduk Nicole menjelaskan.

Cempluk tambah bingung mendengar penjelasan Genduk Nicole. Ia berpikir kenapa tiap kali ia minta sayur selalu di bilangin ”jangan”

Akhirnya Cempluk mengalah dan hanya minta telur sama tempe. ”Ya udah Bu, saya minta telur sama tempe saja,” kata Cempluk.

”Lho, kenapa Mbak?” tanya Genduk Nicole heran.

”Ah, nggak pa-pa kok Bu,” jawab Cempluk sedikit kesal.

Setelah sampai di kos, Cempluk langsung menggerutu alias ndlemingsendiri menumpahkan kekesalannya.

”Sebel aku, mau makan pakai sayur kangkung nggak boleh, terong nggak boleh, sawi juga nggak boleh. Lalu aku harus makan apa?” begitu gerutu Cempluk.

”Memangnya penjualnya bilang apa?” tanya temannya.

”Katanya Oo, ini jangan kangkung, oo… ini jangan terong, oo… ini jangan sawi…” Cempluk menirukan ucapan Genduk Nicole.

”Oalah… begitu ta Pluk?” kata temannya sambil cengengas-cengenges menertawakan Cempluk yang masih belum sadar dengan kesalahpahaman yang dialaminya.

”Lho, kalian kok malah pada ngetawain aku sih?” kata Cempluk semakin tidak mengerti.

”Begini Pluk, jangan itu di sini berarti sayur,” jelas temannya.

”Ooooo… bilang dong dari tadi, aku kan nggak tahu,” Kata Cempluk dengan wajah memerah karena menahan malu dan geli

”Makanya, kalau disuruh belajar bahasa Jawa itu mbok-ya mau gitu, biar nggak malu-maluin.” kata temannya.

”Iya deh, mulai sekarang aku mau belajar ngomong Jawa Ah…”

– Kiriman Sugiyati, d/aKwaon, Jemawan, Jatinom, Klaten 57481.

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to Top