”Wih… model rambutnya, sama…”

Di kampungnya, Lady Cempluk memang terkenal sebagai cewek yang centil, kemayu tur funky. Dia suka mengikuti model apapun yang paling mutakhir dan sedang ngetrend di kalangan remaja. 
Mulai dari model rambut, baju, sampai sepatu, Lady Cempluk tak mau ketinggalan. Semua itu dilakukan semata-mata untuk mencari perhatian cowok-cowok. Dia memang paling senang jika penampilannya dipuji oleh kaum laki-laki.

Tapi, gara-gara mabok pujian itu pula, suatu hari warga kota kecil di pinggiran Wonogiri ini mengalami kejadian yang cukup memalukan. Ceritanya bermula ketika Cempluk hendak mengubah model rambutnya yang sudah dia rasa ketinggalan zaman.

Dia pun kemudian mengajak sohib kentalnya, Genduk Nicole, untuk pergi ke salon langganannya di pusat Kota Wonogiri. Sebenarnya Genduk agak malas diajak pergi ke salon.

”Mau dibuat bagaimana lagi model rambutmu, Pluk? kan belum lama kamu masuk salon? Masak sudah mau ganti lagi?,” cetus Genduk heran.

”Ya namanya juga mengikuti mode, Nduk. Model yang kemarin itu sudah afkir. Aku mau buat model yang baru!,” sahut Cempluk.

”Nanti rambutmu bisa rusak lho Pluk?”

”Alaah, sudahlah Nduk. Pokoknya kamu harus temeni aku!”

Karena terus dipaksa, akhirnya Genduk menurut saja. Lagian Cempluk berjanji akan mentraktirnya. Kalau sudah begini Genduk tak bisa menolak lagi. Maka esok harinya Cempluk dan Genduk berangkat menuju ke pusat Wonogiri. Mereka memasuki sebuah salon. Genduk menunggui saat rambut Cempluk sedang dipermak sang kapster.

Akhirnya acara merombak rambut selesai. Ketika melihat hasilnya, Genduk sempat tertawa geli, karena potongan rambut Cempluk terlihat lain. Tampak wagu dan lucu. Rambut itu dibuat kriwil-kriwil seperti Bob Marley alias nggimbal keriting gimana gitu…

”Bagaimana Nduk? Bagus kan,” ujar Cempluk kemayu.

Karena tak ingin membuat kecewa temannya, Genduk hanya mengangguk menyetujui.

Mereka lalu keluar dari salon dan jalan-jalan menyusuri trotoar. Mereka ingin cuci mata sekalian Cempluk ingin cari perhatian pada orang-orang di jalan. Dan keinginan Cempluk terkabul.

Saat dia berjalan dengan Genduk, setiap orang memandang ke arah mereka. Di antaranya malah tersenyum-senyum seakan ada yang lucu.

”Lihat Nduk! Semua orang melihatku. Mereka semua pasti kagum pada rambutku yang yahut ini!” ujar Cempluk ge-er. Genduk hanya mesam-mesem saja.

Tapi tiba-tiba ada seorang cowok di pinggir jalan juga ikut memperhatikannya nyeletuk kepada Cempluk dan Genduk. ”Lho Mbak, itu pacarnya kok ditinggal di belakang? Kalau jalan mbok sama-sama? Kan sudah serasi. Model rambutnya itu lho Mbak, wiih sama plek!” ujarnya sambil cengengesan.

Cempluk dan Genduk kaget. Karena mereka merasa tidak bawa pacar. Mereka pun menoleh ke belakang. Betapa kaget mereka melihat di belakang mereka ada seorang laki-laki berpakaian dekil dengan rambut gimbal dan kusut. Tak lain dan tak bukan dia adalah wong edan. Begitu ditengok, wong edan itu langsung nyerenges.

Rupanya tanpa disadari Cempluk dan Genduk, wong edan itu sudah membuntuti mereka sejak keluar dari salon. Tak pelak Cempluk dan Genduk pun gidro-gidro njerit sak kemenge sambil histeris. Mereka lari terbirit-birit saking takut dan gugup.

Setelah cukup jauh dari wong edan tadi mereka berhenti. Cempluk jadi mingsuh-mingsuh. ”Jabang bayik! Itu tadi manusia atau gendruwo?”

”Dia itu kan pacar kamu, Pluk! Model rambutnya saja sama seperti kamu. Mungkin dia mengira kamu pacarnya. Hi hi hi…!,” Kata Genduk tertawa terpingkal-pingkal sampai perutnya mulas. Cempluk hanya bisa mesem kecut.  

– Kirimam Parmi, Kios Kusuma Pasar Tirtomoyo, Wonogiri.

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to Top