Jon Koplo sang sarjana wirang

Tanggal 19 Februari 2002 seharusnya menjadi hari yang paling membahagiakan buat tokoh kita tercinta, Jon Koplo. Karena tepat pada hari itu Jon Koplo diwisuda setelah menuntut ilmu di universitas negeri paling top markotop se-Indonesia yang ada di Yogya. 
Tetapi hari itu juga merupakan hari yang membuat si Jon Koplo merasa kewirangan, tepat saat dia untuk kali pertama menyandang gelar sarjana.

Begini kisahnya. Setelah lima tahun bersusah-payah menuntut ilmu di Universitas Gadjah Mada yang menjadi impian Jon Koplo sejak kecil, tiba saatnya dia sampai pada saat-saat yang ditunggu, yaitu wisuda sarjana.

Jon Koplo mendapat kepastian dari fakultasnya bahwa dia menjadi bagian dari 1.701 mahasiswa yang akan diwisuda pada tanggal 19 Februari 2002. Jon Koplo lalu mengabarkan tentang berita gembira tersebut kepada keluarganya di Solo.

Dan betapa senangnya hati Tom Gembus dan Lady Cempluk, orang tua Jon Koplo, karena sebentar lagi anak kesayangan mereka akan menjadi seorang sarjana, meskipun bukan ”tukang insinyur” seperti si Doel. Serta memastikan anak akan hadir di Graha Sabha Pramana pada hari tersebut untuk menyaksikan anak mereka diwisuda menjadi seoarang sarjana.

Singkat cerita, Tom Gembus, Lady Cempluk, dan adik kesayangan Jon Koplo, yaitu Gendhuk Nicole, beserta nenek, oom dan bulik Jon Koplo pergi ke Yogyakarta dengan meminjam mobil dinas milik pakdhenya Jon Koplo.

Setelah tiba di Graha Sabha Pramana, mereka masuk dan mengikuti upacara wisuda tersebut dengan khidmat sampai acara tersebut selesai. Setelah itu Jon Koplo dan keluarga besarnya berkeliling untuk berfoto-foto ria di ”Kampus Biru” tersebut sebagai kenang-kenangan.

Setelah itu, akhirnya mereka kembali ke halaman Balairung, di mana mobil dinas pinjaman mereka diparkir. Karena merasa lelah dan panas Jon Koplo dan keluarga besarnya masuk ke dalam mobil untuk minum dan makan guna melepas lapar, lelah, dan dahaga mereka.

Setelah dirasa cukup, mereka lalu memutuskan untuk segera pulang ke Solo. Omnya Jon Koplo, yang kebagian tugas nyopir mobil sejak dari Solo lalu mencoba menghidupkan mesin mobil. Tapi apa yang terjadi, mobilnya hanya berbungi ”mak cekekek… kek… kek” gitu. ”Blaik… mobil dinas pinjaman ini nggak mau hidup.”

Akhirnya setelah dicoba berkali-kali, mobil itu tetap saja mogok. Melihat kenyataan tersebut, Tom Gembus memerintahkan semua yang ada di dalam mobil itu, kecuali nenek Jon Koplo, keluar guna bergotong-royong mendorong mobil mereka supaya mesinnya bisa hidup, tak terkecuali sang tokoh kita, si Jon Koplo SSos.

Mulanya Jon Koplo nggak mau keluar, ”Gengsi dong, masak masih pakai toga kinyis-kinyis harus ikut-ikutan nyurung mobil.”

Tetapi tetap saja Tom Gembus menyuruh Jon Koplo untuk ikut mendorong mobil ”Plo, ayo keluar ikut nyurung mobil, masak hanya Lady Cempluk dan Genduk Nicole saja yang ikutan,” begitu perintah Tom Gembus.

Karena kasihan melihat adik, bulik dan ibunya tercinta berpanas-panas ria mendorong mobil, maka tak ayal Jon Koplo pun segera ”Cancut tali wandha”. Dengan masih memakai pakaian toga lengkap, Jon Koplo bersama Lady Cempluk, Genduk Nicole, Tom Gembus, dan dua orang buliknya bersemangat mendorong mobil dinas pinjaman mereka di peralatan gedung pusat UGM.

”Siji, loro, telu…, siji, loro, telu…, demikian terdengar Tom Gembus bersemangat memberi aba-aba. Peristiwa yang dialami Jon Koplo cs ini dilihat oleh banyak orang, termasuk teman-teman Jon Koplo yang juga baru saja menghadiri upacara wisuda, mereka tersenyum simpul melihat Jon Koplo yang masih mengenakan toga lengkap ngos-ngosan mendorong mobil. ”We lhadalah…, baru kali ini saya melihat orang mendorong mobil pakai pakaian sarjana,” ucap salah seorang di antara mereka.

Orang-orang yang ada di sekitar Gedung Pusat UGM itu serasa mendapatkan tontonana yang menarik, mereka semua bertepuk tangan dan bersorak untuk menyemangati Jon Koplo. Sialnya, ada kru TVRI Yogyakarta yang meliput kejadian langka. Ada juga yang mengabadikan kejadian langka tersebut ke dalam handycam yang mereka bawa. Hal tersebut membuat Jon Koplo hanya bisa tersenyum kecut, karena merasa malu, meskipun mereka bermaksud memberi semangat untuk dirinya.

”Asem kecut, mimpi apa aku semalam,” sungut Jon Koplo, melihat dirinya menjadi tontonan menarik orang-orang yang ada di Balairung.

 – Kiriman Basuni Hariwoto, Banyuagung RT 02/RW 02 Kadipiro, Banjarsari.

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to Top