”Sprite kok ra ting clekit?”

Jon Koplo sehari-hari bekerja di toko komputer yang melayani service maupun jual beli. Toko itu berada di kawasan Ngasinan kawasan Solo Baru. Si Koplo ini kerjanya dapat bagian nguthek-nguthek printer, motherboard LSP (lan sak piturute). 
Berbekal ilmu yang sedikit nyimpang dari garis akademiknya, ia tetap Pede (percaya diri) dalam melayani konsumen, karena aslinya mahasiswa lulusan sebuah perguruan tinggi swasta di kawasan Kota Yogyakarta ini bergelut dengan ilmu software sehingga sangat jauh bila dihubungkan dengan pekerjaannya sekarang yang kebanyakan berhubungan dengan masalah hardware (kata orang bule).

Nah ceritanya, suatu hari ia diajak juragannya, Tom Gembus, ke rumah di daerah Bibis, sebelah barat sekolah perbankan daerah Ngemplak. Sampai di sana, keduanya disambut hanya oleh Genduk Nicole, isteri Tom Gembus.

Jon Koplo duduk sebentar buat menghapus keringatnya, karena cuaca bulan itu memang rada panas. Setelah agak lama Jon Koplo masuk ke rumah. Dengan Tom Gembus, ia mulai memperbaiki komputer yang agak rewel di rumah bosnya itu.

Kedua teknisi ini akhirnya mampu me-rampung-kan masalah yang bikin komputer itu ngadat.

Genduk Nicole yang menjadi tuan rumah dan isteri setia, siang itu kemudian menyuguhkan minuman buat sang suami tercinta dan Jon Koplo, pegawainya. Kemudian Genduk Nicole mengambil dua botol minuman, satu Fanta dan satunya Sprite di kulkas.

Fanta-nya diambil Tom Gembus dan mau nggak mau Jon Koplo kebagian Sprite. Keduanya kemudian mulai menyirami tenggorokkannya yang sudah garing mekingking itu dengan soft drink tersebut. ”Glegek… glegek… kkkk… hik… kkk” begitu suara yang keluar dari mulut Tom Gembus.

”Seger Mas,” kata Genduk Nicole dengan sumringah-nya karena hidangannya mampu membuat suaminya glegeken.

Jon Koplo juga nggak mau ketinggalan menirukan adegan iklan di TV yang punya slogan, ”Kutahu Yang Kumau” itu. Maka glegek demi glegek air itu masuk di mulut Jon Koplo. Tapi dalam hatinya ia sempat bertanya, ”Sprite ini kok rasanya nggak clekit-clekit ya. Tapi biar saja lah, mungkin rasa krenyes-krenyesnya sudah ngabar (hilang),” batin Jon Koplo.

Menit berlalu dengan biasanya karena tugasnya sudah selesai Jon Koplo minta pamit. Tapi sebelum pergi, Jon Koplo yang masih penasaran dengan minumannya tadi bertanya kepada Genduk Nicole, ”Mbak… mbak Sprite tadi kok rasane beda ta?”

”Apa iya Plo,” jawab Genduk Nicole.

Tapi karena Genduk Nicole penasaran, ia pun ke belakang untuk mengetahui informasi tersebut dari nyokap-nya, Lady Cempluk. Betapa terkejutnya Lady Cempluk, ternyata Sprite yang disuguhkan itu adalah air bekas nyeko (air panas yang dimasukkan ke dalam botol dan biasanya dipakai untuk menghagatkan tubuh orang yang lagi sakit). Adik Genduk Nicole tadi malam memang sakit perut. Oleh ibunya, dia buatnya air seko. Setelah dipakai, air yang dimasukkan ke dalam botol Sprite itu disimpan ke dalam kulkas.

Dengan menahan geli, Genduk Nicole keluar dan menceritakan kepada Jon Koplo soal air seko taid. Tentu saja Jon Koplo njondhil bin kaget sak pole, ”Hueee apa… a.”

Kemudian tanpa disadari ia merasa mual-mual. Tapi ia dengan sigap segera menutup mulut dengan tangannya. Kontan seisi rumah pada ketawa kepingkel-pingkel sambil memegangi perut. Selang sesaat kemudian Lady Cempluk yang merasa kasihan, menyuruh Genduk Nicole mengambil Sprite lain yang ada di kulkas, lalu diberikan pada Jon Koplo.

”Uwis-uwis ini Plo tak ganti Spruet yang asli,” kata Genduk Nicole sambil menahan geli.  – Kiriman Ranu Muda Adi Nugroho, Ngasinan RT 3/4, Kwarasan, Grogol, Sukoharjo.

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to Top