Maling doyan bantal…

Kisah kali ini adalah menyangkut kejengkelan Simbah Lady Cempluk gara-gara ulah si tangan panjang alias maling bin pengutil. Mbah Cempluk yang warga Miri, Sragen ini kesehariannya punya kesibukan sebagai pedagang kecil-kecilan berupa gorengan. 
Namanya saja pedagang kecil, penghasilannya pun juga tak seberapa. Tetapi yang namanya maling, tentu saja dalam melakukan aksi tidak pernah pandang bulu, apalagi berpikir siapa yang dijadikan korban kejahatannya.

Dari penghasilannya yang kecil ini, Mbah Cempluk masih menyisakan/menabung uang sedikit demi sedikit tiap harinya untuk hari tuanya, yang walaupun saat ini pun memang sudah rada-rada pikun.

Mbah Cempluk yang termasuk produk tardisional alias wong ndesa, tentu dalam hal simpan-menyimpan atau tabung-menabung masih menggunakan cara-cara yang konvensional/kuno. Kalau tidak di bawah tumpukan pakaian, paling-paling juga di bawah kasur atau di bawah bantal. Kadang-kadang juga disimpan di stagen yang dipakai melingkari perutnya.

Nah, berbicara masalah menyimpan uang di bantal ini, kalau ingat kejadianyan mungkin Mbah Cempluk masih jengkel dan geli. Tidak hanya sekali dua kali Mbah Cempluk kehilangan duwit.

Di samping di bawah pakaian pernah hilang, disimpan di laci meja, lenyap, disimpan di bawah kasur pun juga hilang.

Mbah Cempluk kehilangan duwit yang terakhir kali saat uang itu disimpan didalam sarung bantal yang tiap malam digunakan Mbah Cempluk untuk tidur. Dalam benak Mbah Cempluk selalu nggumun dan bertanya-tanya, yang ngambil ini tuyul ndase ireng alias manungso atau memang tuyul beneran?

Sebab dia merasa, di simpan di mana pun pencurinya selalu mengetahui di mana ia menyimpan uang. Kalau yang ngambil itu tuyul ndase ireng, Mbah Cempluk punya praduga bahwa yang mengambil adalah Genduk Nicole yang tak lain adalah tetangga dekatnya sendiri, karena yang sering datang tiap harinya hanya Genduk Nicole, sehingga sudah hafal situasi dan kondisi rumah Mbah Cempluk.

Namun sebelum ada bukti yang jelas dan saksi-saksi, Mbah Cempluk tidak berani asal main tuduh. Asas praduga tak bersalah tetap dijunjung tinggi. Akhirnya Mbah Cempluk punya ide yang jitu untuk menjebak atau menangkap basah biang kerok-nya selama ini.

Kali ini Mbah Cempluk tetap menyimpan sesuatu namun bukan uang di dalam sarung bantal, tetapi berupa potongan-potongan kertas yang ditumpuk seperti tumpukan uang. Lalu kertas-kertas itu dimasukkan ke dalam sarung bantal dan penutup sarung bantalnya dibikin serapat mungkin sehingga susah untuk membukanya. Itu dia lakukan dengan harapan bila terlalu lama waktu yang dibutuhkan untuk membuka sarung bantal itu, si maling akan ketahuan dan tertangkap basah.

Namun kali ini Mbah Cempluk dibuat mlongo untuk kesekian kalinya. Tampaknya si malingnya juga tak kalah pinter. Dalam waktu yang nggak begitu lama, Mbah Cempluk kehilangan lagi. Kali ini malah sak bantal-bantale bablas entah ke mana.

Mbah Cempluk hanya bisa mingsuh-mingsuh dan mendongkol. ”Jan maling ora urus tur nekat tenan, Lha wong bantal ora mbejaji blas, kumal dan bau lagi, kok ya tega-teganya di-colong. Mana ada tuyul doyan bantal?” Begitu pikir Mbah Cempluk.

Di antara kejengkelan Mbah Cempluk, dia masih bisa tersenyum, karena yang hilang hanya berupa bantal yang bau apek karena kileran tiap malam dan tumpukan kertas.

Yang jelas hingga cerita ini dibuat, bantal Mbah Cempluk belum kembali dan nggak tahu siapa yang mengambilnya. ”Oh, Bantalku malang … bantalku sayang.”  – Kiriman Suprapto Spd, d/a Seneng RT 04/05, Girimargo, Miri, Ssragen 57276.

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to Top