Tidur di mana saja

Kebiasaan ajaib yang melekat pada Jon Koplo ialah kebiasaan selalu tertidur di mana saja. Ketika sedang ngobrol, duduk santai, nonton TV atau di perjalanan dalam mobil dia selalu tertidur atau terkantuk-kantuk. Kebiasaan itu jelas membuatnya tersiksa, namun bagi orang yang menyaksikan Koplo tertidur, orang akan tersenyum. 
Jon Koplo lelaki berkumis tipis itu mungkin kurang darah, sehingga bisa tertidur kapan saja, di mana saja. Dengan apa atau siapa saja. Dan kisah Koplo tidur kali ini terjadi ketika dia dalam perjalanannya di dalam mobil.

Berawal dari perjalanan jarak jauh; yakni dari Subang (Jabar)-Solo (Jateng). Tentu sudah bisa diduga, wong sedang duduk santai saja Koplo bisa nglepus dengan lelapnya, apalagi jika dalam perjalanan dengan naik bus?

Sore itu sekitar pukul 17.00 WIB, Jon Koplo hendak kembali ke Kota Solo tempat di mana dia bekerja, setelah tiga hari lamanya berada di kampung halamannya (Subang) menemui kedua orangtuanya.

Pukul 19.00 WIB Jon Koplo memutuskan naik mobil jurusan Cirebon. Tiba di Cirebon sekitar pukul 23.00 WIB, hampir 1 jam Koplo di Cirebon menunggu mobil ke arah Solo namun mobil yang ditunggu tak kunjung tiba, dan akhirnya Koplo memutuskan untuk naik bus jurusan Semarang.

Ketika ia melihat ada bus jurusan Semarang maka Jon Koplo langsung naik. Secara kebetulan penumpang bus itu tidak penuh sehingga dia bisa memilih kursi yang enak, dan langsung nggledhak lalu ngorok.

Sekitar pukul 02.00, bus yang ditumpanginya tiba di Terminal Tegal dan Jon Koplo terbangun. Koplo yang baru bangun itu menduga kalau dia sudah tiba di Terminal Semarang, dan ikut turun bersama banyak penumpang lain, setelah melihat jam dinding yang terpampang di atas kiri sopir. jam yang mungkin mati itu menunjukkan pukul 05.30 WIB.

Selanjutnya dia menunggu mobil jurusan Solo. Tak lama kemudian mobil yang ditunggu tiba. Setelah naik dan duduk dengan santainya Koplo diminta ongkos oleh Kondektur maka Koplo memberinya Rp 3.000. Selanjutnya Kondektur pun bertanya. ”Bapak mau kemana?”

”Ke Solo,” kata Koplo.

”Sepuluh ribu pak,” kata kondektur.

Mendengar jawaban itu, Koplo pun njenggirat kaget. ”Masa sepuluh ribu mahal sekali,” kata Koplo heran.

”Ya sudah delapan ribu saja,” kata Kondektur lagi.

”Enggak bisa, tiga ribu saja,” kata Koplo lagi.

”Kalau tidak mau delapan ribu, silakan Bapak turun saja,” kata sang kondektur.

Maka Jon Koplo dengan perasaan mangkel turun dan kembali ke terminal karena bus sudah berjalan sekitar 200 meter. Jon Koplo, pemuda yang tidak punya jam itupun kembali menunggu bus ke arah Solo.

Setelah mobil yang ditunggu datang maka dia pun naik.

Tak lama berselang setelah ia duduk di bus itu, Kondektur bus sebut saja Tom Gembus meminta ongkos. Rupanya Koplo belum sadar kalau di situ adalah Terminal Tegal, dan Jon Koplo memberinya uang tiga ribu. Maka Gembus pun bertanya, ”Bapak mau kemana?”

”Ke Solo,” kata Koplo.

Gembus meminta kembali sebesar sembilan ribu karena ongkosnya dua belas ribu. Ketika diminta uang dua belas ribu itu dia kembali njondhil kaget. ”Masa ongkos ke Solo dua belas ribu, mobil PATAS saja yang ada AC dan TV-nya hanya tujuh ribu,” kata Koplo heran.

”Kalau tiga ribu hanya sampai Pekalongan Mas, mana ada ongkos Tegal-Solo tiga ribu,” kata Gembus lagi.

Mendengar jawaban itu, maka njenggiratlah Koplo untuk kali ketiga. Koplo baru sadar ketika Gembus bilang Tegal. Dia pun berkata heran. ”Oooh ini Tegal ta. Saya kira Semarang,” katanya klecam-klecem dhewe.  – Kiriman Yadi Supriyadi, Widororejo RT 03/RW 01, Makamhaji, Kartasuro, Sukoharjo.

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to Top