Brankas kok bau terasi…

Tokoh kita, Jon Koplo, yang sekarang tinggal di sebuah kampung di Wonogiri dan hidup sukses sebagai pengusaha bengkel, alat angkutan dan penggilingan padi ini sebetulnya SD saja tidak tamat. Tapi kalau itung-itungan soal bisnis, woo… jangan ditanya. 
Dia dikenal cerdik dan banyak akal hingga dia mendapat julukan Kancil dari warga di kampungnya.

Namun akibat dari kecerdikannya itu Koplo malah sempat dikunyo-kunyo dan dipisuhi oleh para jiran di kampungnya. Lho, kok bisa?

Ceritanya, Koplo yang dikenal mempunyai sense of crisis merasa tak tega tatkala melihat isteri tercintanya, Lady Cempluk, beserta anak-anaknya hidup kekurangan di desa. Yang ada dalam benaknya hanya satu, ingin mencari penghidupan yang lebih baik. Maka wes… hewes… hewes, dengan semangat rawe-rawe rantas, malang-malang putung, berangkatlah Jon Koplo ke Ibukota dengan satu tujuan pasti, mencari kekayaan bandha donya.

Singkat cerita, Jon Koplo telah mendapat pekerjaan di Jakarta. Semula ia hanya sebagai mandor bangunan, namun karena kecerdikan dan kepandaiannya untuk melobi, Jon Koplo telah berhasil menjadi pemborong sendiri, mulai borongan merenovasi rumah sampai menjadi sub kontraktor proyek-proyek besar.

Nah pembaca, dari kerja kerasnya tersebut kini Koplo telah berhasil mengumpulkan uang jutaan rupiah. Boleh dibilang kini Koplo ibaratnya ”keceh duwit”. Namun pesoalan muncul ketika Koplo hendak pulang kampung dengan membawa uang ber-jut-jut tadi.

Koplo masih mumet memikirkan cara paling aman membawa pulang uang tersebut. Mau dibawa tunai dengan naik bus umum, dia ngeri, bagaimana nanti kalau di dalam bus dijarah, atau tiba-tiba lehernya dikalungi celurit, atau ia kena gendam dengan diberi minuman kakak kola, Koplo ngeri membayangkannya.

Tetapi akhirnya bukan Koplo namanya kalau dia tidak bisa menemukan akal yang jitu. ”Yes! Aku punya akal,” teriak Koplo kegirangan. Kemudian mak plencing! Koplo pergi ke apotek. Dibelilah kain kasa, kain pembalut dan obat merah. Tak lupa pula Koplo mampir ke tukang loak untuk membeli krek (alat penyangga tubuh) bekas.

Sesampainya di rumah kontrakan Koplo mulai sibuk beraksi menerapkan strateginya. Mula-mula diambilah uang yang disimpan di bawah kasurnya kemudian dimasukkannya ke dalam tas kresek. Selanjutnya uang tadi ditempelkan pada betis kaki kanannya kemudian ditutup dengan kain kasa yang telah diuseri obat merah sebelumnya,dan terakhir dibalutnya kakinya tersebut dari dengkul sampai jari-jarinya dengan kain pembalut luka. Sepintas kaki Koplo nampak abuh gueede layaknya orang yang habis ketabrak kapal selam. Agar lebih meyakinkan Koplo mengoleskan terasi pada ”lukanya”.

Dengan modal kaki ra nggenah tersebut dan dengan jalan terpincang-pincang yang digawe-gawe dengan krek menyangga tubuhnya, Koplo menuju ke terminal Pulogadung untuk mencari bus jurusan Wonogiri. Hasilnya luar biasa. Di dalam bus Koplo mendapat perlakuan yang istimewa dari sesama penumpang.

Akhirnya sampailah Koplo di kampung halamannya dengan selamat begitu pula dengan uang dan ”brankasnya”. Dengan gaya masih terpincang-pincang Koplo bergegas memasuki rumahnya, tapi tiba-tiba mak bedhengus, Lady Cempluk istrinya datang menyambutnya. ”Aduh Pakne, wis tak tunggu-tunggu akhirnya pulang juga. Ayo Pakne masuk. Tt… tapi… kk…kakimu kenapa. Kenapa kakimu bisa remuk begitu hu… huuuu… oalah Gusti… huuu… huuuuu…,” Cempluk baru menyadari ada yang tak beres dengan kaki Koplo, dengan sambil mewek gidro-gidro.

Para jiran kiri kanannya pada berdatangan ke rumah Cempluk ingin mengetahui apa yang sebenarnya terjadi.

Mbah Gembus, salah seorang tetangga Koplo mendekati Koplo dan memperhatikan dengan seksama keadaan kaki Koplo, lalu berujar, ”Oalah Le… Plo… Koplo… kalau kerja di negeri orang itu mbok ya sing ngati-ati. Salah-salah bisa dituduh subversi lho.”

”Sungguh Mbah, aku tak apa-apa,” jelas Koplo agak pakewuh, tapi dalam hati dia tertawa terpingkal-pingkal merasa sandiwaranya berhasil dengan sukses.

”Sebenarnya begini lho sedulur-sedulur. Saya ini nggak apa-apa tapi saya pulang dengan membawa brankas. Ya ini lho brankas saya itu. Kaki saya ini sebetulnya berisi uang, sedang bau itu memang saya buat dengan terasi untuk mengelabui para maling di bus. Kalau nggak percaya nih lihat!” terang Koplo sambil membuka pembalut di kakinya.

Ketika pembalut di kaki Koplo telah terbuka seluruhnya barulah para warga yang hadir di situ percaya, kemudian suasana menjadi gaduh penuh ger-geran.  

– Kiriman Sularso, Griya Santoso Blok C/12A RT 02/RW 27, Mojosongo, Jebres, Solo.

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to Top