”Eh… calon mertua ta?”

Gara-gara peristiwa yang cukup memalukan ini, Jon Koplo jadi segan lagi main ke rumah pacarnya, Lady Cempluk. Memangnya ada apa? 
Begini, pembaca setia Ah Tenane. Jon Koplo yang masih kuliah di sebuah perguruan tinggi swasta di Kota Yogya ini punya pacar anyar, namanya Lady Cempluk. Yang namanya pacar baru, tentu saja Koplo sedang gencar-gencarnya melakukan pedekate. Tapi untuk tahap pertama Koplo masih sebatas menyambangi Cempluk di kampusnya. Dia belum berani main ke rumah Cempluk.

Koplo memang masih enggan apel ke rumah Cempluk pasalnya dia mendengar kalau Cempluk adalah anak orang kaya. Rumahnya gedong magrong-magrong nan mewah. Koplo merasa rendah diri karena dirinya cuma seorang mahasiswa perantauan. Dia belum berani mengajak Cempluk jalan-jalan atau nonton. Dia takut Ortu Cempluk belum bisa menerimanya. Lagian hubungannya dengan Cempluk terhitung baru.

Tapi suatu hari Koplo memberanikan diri apel ke rumah Cempluk. Saat itu dia sedang banyak uang karena baru dapat kiriman dari Ortu di kampung. Dengan meminjam sepeda motor milik temannya, sore itu Koplo meluncur ke rumah Cempluk. Seperti kabar yang didengarnya, ternyata rumah Cempluk memang cukup besar. Ada halaman yang cukup luas dipagari tembok besi.

Dengan agak kikuk Koplo memasuki halaman. Kebetulan dia melihat seorang laki-laki cukup tua berperatakan kurus dan berpakaian agak dekil sedang mencabuti rumput di halaman. Koplo mengira laki-laki tua itu adalah pembantu di rumah Cempluk.

”Permisi Pak. Apakah Lady Cempluk ada?” tanyanya.

”Ada di dalam!” sahut Tom Gembus, sebut saja begitu benama lelaki itu, agak cuek.

”Wah, tukang kebun ini agak sombong juga,” batin Koplo.

Tapi Koplo tak menggubrisnya. Dia segera memasuki teras rumah dan mengetuk pintu. Tak lama Lady Cempluk muncul membuka pintu. ”Aduh Mas koplo. Tumben mau main ke sini. Sebentar ya Mas. Saya mau mandi dulu. Mas duduk dulu deh!” ujar Cempluk jadi surprise oleh kedatangan Koplo.

”Silakan kalau mau mandi Pluk. Aku nunggu di teras ini saja!” sahut Koplo lalu mendudukkan diri di kursi depan rumah.

Ketika sedang duduk menunggu itulah perasaan Koplo jadi tak enak karena mata orangtua yang sedang mencabuti rumput di halaman itu terus memandanginya. ”Wah, kalau begini acara pacarannya jadi tidak enak,” batin Koplo.

Tukang kebun itu akan nguping pembicaraannya dengan Cempluk nanti. Tiba-tiba Koplo dapat akal. Dia lalu memanggil orangtua itu.

”Pak… Pak… ke sini sebentar… Tolong belikan saya rokok!” Lanjut Koplo biar orangtua itu senang.

Tanpa banyak kata orangtua itu menerima uang dari Koplo dan melangkah pergi. Koplo tersenyum puas. Tak lama Lady Cempluk ke luar dengan baju rapi dan bau harum sehabis mandi. Hati Koplo girang tak kepalang. Taktiknya ”mengusir” orang kebun itu biar tidak nguping acara ngobrolnya dengan Cempluk berhasil. Koplo kini bisa santai mencurahkan isi hatinya pada Cempluk.

Tapi tak berapa lama tukang kebun itu kembali sambil membawa sebungkus rokok filter dan menyodorkan pada Koplo. ”Ini rokoknya, Mas!” ujar orangtua itu.

”Lho, Pak! kok membelikan rokok buat Mas Koplo?” cetus Cempluk heran.

”Dia tadi yang nyuruh,” jawab Tom Gembus kalem.

”Aduh balik tenan, Mas. Ini Bapak saya. Kenapa Mas suruh beli rokok?” ujar Cempluk jadi tertawa geli sambil sedikit abang ireng.

Kini dia tahu kalau Koplo mengira orangtuanya seorang pembantu. Sementara Koplo tak bisa menyembunyikan wajahnya yang pucat pasi. Dia malu bukan kepalang. Dengan sikap gugup, kikuk bin ndredhek dia lalu memohon maaf pada Tom Gembus.

Untunglah Tom Gembus orangtua yang sabar dan pengertian. ”Ndak apa-apa, Nak. Sekali-kali ngerjain orangtua … !” sindir Gembus.

Koplo pun hanya diam tak berkutik. Selera berpacarannya pun mendadak anjlok…

 – Kiriman Parmi d/a Bp Sukiman Kios Kusuma Pasar Tirtomoyo Wonogiri 57672.

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to Top