Sok nggaya malah keblasuk

Alangkah gembiranya ketika Jon Koplo bersama sobatnya, Tom Gembus, menjadi utusan organisasinya untuk menghadiri konferensi di sebuah hotel berbintang di Solo. 
Keduanya adalah utusan dari Kabupaten Wonogiri, kebetulan kediaman mereka berjauhan. Jon Koplo dari kawasan Tirtamoyo, sedang Tom Gembus dari Batu. Pada hari yang ditentukan mereka sepakat berangkat bersama dari Terminal Wonogiri pukul 05.00 WIB dengan sebuah bus menuju Solo. Mereka duduk berdampingan dan mengambil sit bagian tengah untuk 2 orang.

Dalam perjalanan, Koplo dan Gembus tampak ceria dan berbunga-bunga. Dus tak henti-hentinya ngobrol bersama. Pengalaman mereka relatif sama yaitu sama-sama belum pernah melihat apalagi tidur di kamar hotel kelas menengah ke atas yang berbintang.

Saking sibuknya ngobrol tahu-tahu mereka sudah sampai di Terminal Tirtonadi sekitar pukul 06.30 WIB. Mengingat sudah ngebet ingin segera tahu seperti apa hotel tempat konferensi, Koplo dan Gembus langsung naik becak menuju hotel sesuai undangan.

Sekitar pukul 07.00 WIB keduanya telah tiba di tempat meeting. Di sana sudah siap di depan gedung sehingga langsung saja mendaftar kepada petugas dan memperoleh fasilitas yang telah tersedia. Masih ada waktu satu jam, digunakan untuk melihat-lihat keadaan sekitar hotel.

Jon Koplo dan Tom Gembus sempat terheran-heran melihat kebersihan dan keindahan lingkungan hotel dan sekitarnya. Sepintas juga melihat tulisan di atas pintu Ladies and Gent. Tetapi sengaja tidak dicermati karena memang tidak tahu arti tulisan tersebut.

Maklum dulu pendidikannya minim. Setelah membuka salah satu pintu ternyata itu adalah ”kamar kecil sekaligus kamar besar”. Gembus merasa heran karena di situ ada gulungan tisu cukup besar, maka cepat-cepat memanggil sobatnya, Koplo.

Ternyata Koplo juga heran, bahkan keduanya lalu memanfaatkan ”fasilitas” tersebut. Menyobek tisu selebar sapu tangan lalu digunakan untuk menyapu keringat di sekitar kening dan ubun-ubun, setelah sebelumnya dicium terlebih dahulu.

Sekitar pukul 08.15 WIB, ada ”halo-halo” agar para peserta segera masuk ke dalam conference hall sebab konferensi akan segera dimulai.

Di dalam gedung, Gembus dan Koplo duduk berdampingan sambil melihat kiri, kanan, belakang. Dia merasa sangat gembira dan bangga karena bisa mengikuti konferensi di gedung yang sangat megah tur suejuuuk tenan dan ada cewek-cewek manis entah utusan dari mana. ”Waahh… asyiik… tenan ya Plo,” bisik Gembus kepada Koplo.

Setelah semua masuk kemudian MC mulai acting dan sidang dimulai, dari acara A sampai Z. Setelah pukul 12.15 WIB tiba saatnya acara istirahat dan lain-lain. Pada saat istirahat itu Jon Koplo dan Tom Gembus tidak pernah berpisah sejengkal pun, kemana-mana selalu berduaan. Tidak pikir panjang setelah rasa buang air tak tertahankan maka masuklah berdua ke kamar kecil yang tadi pagi telah di-service plus tidak memperhatikan apakah ada tulisan Ladies atau Gent.

Karena ngampet-nya sudah cukup lama maka ”prosesnya” juga lumayan lama. Tambah lagi berdua masih menyempatkan ngambil (nyobek) tisu untuk dimasukkan sakunya sebagai persiapan sehabis makan siang. Belum juga tuntas ”proses berhajad” dari luar ada orang yang mengetuk pintu bertubi-tubi dan terdengar cukup keras. Kedengarannya suara perempuan dan siapa lagi kalau bukan Lady Cempluk dan Genduk Nicole.

Saat itu pula Jon Koplo dan Tom Gembus tergopoh-gopoh keluar. Melihat yang keluar adalah dua orang laki-laki, Lady Cempluk dan Genduk Nicole langsung mencaci-maki dengan kata-kata antara lain: ”Tidak ngerti ya kamu kalau tulisan Lady ini maksudnya untuk perempuan.”

Mendengar cacian tersebut Tom Gembus terdiam sambil menunduk karena rasa takut di hatinya. Lain halnya dengan Jon Koplo, dia kelihatan cuek dan santai, bahkan menjawab dengan spontan, ”Ini juga untuk perempuan,” sambil menunjuk resleting yang belum tertutup sempurna.

Kemudian Lady Cempluk dan Genduk Nicole segera masuk kamar kecil memendam rasa malu dan dongkol menghadapi pria ”Mahesa” (omahe ndesa) seperti itu.

Sementara Jon Koplo dan Tom Gembus ngeloyor meninggalkan tempat sambil grememeng.

 – Kiriman Drs Djokosoewarno, Ngadirejo RT 04/I Kartasura-Surakarta.

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to Top