Masak telon…?

Tom Gembus adalah salah seorang pejabat di sebuah ritel ternama di Kota Bengawan ini. Pada suatu pagi yang basah karena gerimis, Tom Gembus bersiap menuju tempat kerjanya.
Maklum, rumahnya agak jauh, jadi dia harus mangkat esuk uthuk-uthuk ben ora telat.

Tom Gembus sudah siap dengan dandanan necis, sepatu kempling, dasi besar dan rambut klimis. Setelah motor disiapkan di depan rumah dengan mulut komat-kamit membaca doa ”bul kobal kabul motor pancal budal”, Gembus berusaha menstater motor buthul-nya. Tapi setelah hampir sepuluh kali pancal, ternyata motor bututnya tetap saja mejen. Maka Gembus pun terpaksa mengejar bus kota. Dengan ngedumel, sampai juga Gembus di kantornya.

Singkat cerita, mendekati detik-detik jam pulang kantor, Gembus mikir-mikir penake numpak bus maneh apa bonceng sohibnya, sebut saja Jon Koplo. Setelah ditimbang masak-masak, akhirnya Gembus memutuskan untuk nngonceng Koplo. Pertimbangannya kalau naik bus Gembus itu mabukan.

Maka Gembus pun menghampiri Koplo yang lagi sibuk di depan komputernya. ”Plo… mengko pulange isa bareng ora?” tanya Gembus,

Dengan enteng Koplo menjawab ”Bisa saja, Mbus. Nanti pulang jam berapa?”

Gembus menjawab ”Jam setengah lima ya, Plo?”

”Siiip!” jawab Koplo.

Sambil prenges-prenges karena sudah mendapat nunutan gratis, Gembus pun hengkang dari meja kerjanya Koplo. Begitu jarum jam menunjukkan waktu tepat pukul 16.30 WIB, Gembus pun langsung jranthal menghampiri Koplo. ”Plo…Plo… lets go!” ujarnya sumringah yang disambut Koplo dengan sama sumringahe. ”Oke!”

Kebetulan di dekat mereka ada sohibnya Koplo, sebut saja Lady Cepluk. Koplo pun berkata pada Lady Cempluk,” Ayo, Pluk, mulih!”

”Oke, Mas Koplo,” jawab Cempluk sambil tersenyum lebar.

Gembus, Cempluk dan Koplo pun menuruni tangga yang ada di lantai dua gedung tersebut. Ketiganya asyik bicara ngalor-ngidul yang masing-masing tidak sadar apa yang terjadi. Setelah sampai di tempat parkir, Koplo dengan lagak bak Arjuna berkata kepada Gembus,”Mbus, motormu mana Mbus? Biasanya motormu ada di belakang motorku, sekarang mana?” Gembus pun kaget mak jenggirat.

”Lho Plo tadi aku kan sudah ngomong, aku bareng kamu. Masak kamu lupa Plo?” kata Gembus lugu.

Kontan Koplo mak jenggirat saking kagete. Soale Koplo sudah berjanji mau memboncengkan si Lady Cempluk yang semok lagi anget untuk nempel di punggung saat cuaca gerimis seperti ini.

”Lho…Mbus, tadi kamu kan ngomong bareng ta? Terus motormu mana?”

Gembus pun plonga-plongo. Agaknya dua tokoh Ah Tenane itu sedang misuderstanding. Sebab yang dimaksud Gembus mulih bareng, itu berarti dia mau nggonceng! Celakanya di situ sudah ada Lady Cempluk.

”Plo, sebenarnya aku mau mbonceng kamu.”

Koplo pun dengan muka yang cengengas-cengenges berkata kepada Gembus ”Begini ya, Mbus, tadi kamu bilang bareng, sedangkan Lady Cempluk bilangnya ke aku mbonceng jadi ya… nurut undang-undang Cempluk yang benar!”

Setelah bertiga plonga-plongo berpandangan, akhirnya Gembus memutuskan untuk naik bus kota. Dengan wajah lesu bercampur malu, akhirnya Gembus pun meninggalkan tempat eksekusinya menuju halte bus. ”Makane, Mbus, suk neh kalau mau nunut ya bilang saja mbonceng, jangan bilang bareng,” pesan Koplo yang membuat Gembus makin nggondok.  

– Kiriman Surachman, Jl Pabelan 1 No 4, Pabelan, Kartasura, Sukoharjo.

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to Top