Cucakrawane muni lho…

Kalau mau jaim alias jaga image, jangan lupa pakai persiapan matang. Kalau perlu berguru pada suhu biar tidak kisinan dhewe kayak tokoh Ah Tenane, Jon Koplo, ini. Akisah suatu hari Koplo yang sudah lama bekerja di Jakarta ini mudik ke kampung halamannya, selain karena kangen dengan kedua orangtuanya, Koplo juga ingin nggaya di depan Genduk Nicole, yang sudah lama disir-nya.
Nggak lupa Koplo menenteng oleh-oleh yang akan dipamerkannya di kampung biar dikata orang sukses. Selain itu Koplo juga berniat pamer telepon seluler barunya yang cuaaaaanggihh versi terbaru dengan nada polyphonic plus pakai kamera ben iso nggo motret Genduk Nicole. Padahal kredit HP-nya itu belum lunas, tapi Koplo dengan bangga menentengnya ke kampung.

Walhasil begitu sampai di kampung, Koplo langsung disambut meriah oleh orangtuanya plus tetangga kiri kanan.

Singkat cerita pas malam Minggu Koplo ikut kongkow-kongkow di rumah Gembus bersama cs-nya termasuk Genduk Nicole. Kesempatan ini tentu saja tidak disia-siakan Koplo untuk nggedebus cerita tentang kesuksesannya di Ibukota dengan gaya sok cool plus logat Betawi campur Jawa medhok ditambah koya-koya sithik. Koplo berhasil membuat Gembus, Genduk Nicole dan teman-temannya ndomblong dan ber-oooh panjang mendengar ceritanya.

Di tengah-tengah keasyikan mendengarkan nggedebus-nya Koplo, tiba-tiba Gembus sadar, ”Wah, hari ini kan ada ndang-ndutan di lapangan! Tuh, suaranya saja wis kedengeran dari sini,” kata Gembus dengan logat sok gaul ketularan Koplo.

”Lho, aku kan belum selesai ceritanya, lha thik mau pergi ta, Mbus?” protes Koplo.

”Wis, critane dilanjutkan di lapangan bae, Plo, karo nonton ndang-ndutan.”

”Ho oh, Plo, artise top buaaaaaanget lho Plo,” teman Koplo yang lain pun ikut ngiming-ngimingi Koplo.

”Wah sori thok no, Mbus, gue kan udeh lame tinggal di Jakarte. Kagak level nek nonton ndang-ndutan. Marai kupingku gatel, risi! Aku kan kulino denger hip-hop, R&B, Rap, Jazz,” tolak Koplo kemaki, padahal jempol kakinya sejak tadi sudah obah mengikuti suara ndang-ndut dari lapangan. Tapi apa mau dikata gengsi Koplo di depan Genduk Nicole lebih gedhe dari pada hasratnya untuk nonton ndang-ndutan, apalagi saat ini saat yang tepat buat pedekate sama Genduk Nicole. ”Yo uuiisin no kalau harus mengakui kalo ndang-ndut is the best,” batin Koplo.

Tapi… belum ada sedetik mak klalep Koplo meneng, tiba-tiba HP Koplo bergetar lalu tit… tit… tit…tilulit…., berkumandanglah lagu Cucakrawa. ”Lho, Plo, itu kan nada lagunya Inul, Cucak rawa,” teriak Gembus.

”Lha, katanya Mas Koplo kupinge gatel nek ngrungoke ndang-ndut?” tanya Genduk Nicole sambil ketawa.

”Ketoke HP canggih, polyphonic, ada kameranya lagi eeh… jebule nadane Cucakrawa! Makanya, Plo, nggak usah sok metropolis, nek cah ndeso yo ndeso bae!” teman-teman Koplo yang lain pun ikut ngecrohi sampe Koplo abang ireng raine.

”Yo wis, Plo, yuk kita kemon nonton ndang-ndut. Siapa tahu lagu Cucakrawa favoritmu nanti dinyanyikan!” ajak teman-teman Koplo. Sementara Koplo cuma bisa manut sambil klecam-klecem.  

– Kiriman Amelia Ari Chrisnayani, Jajar RT 02/07, Laweyan, Solo 57144.

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to Top