Biar sedih asal ge er

Kisah Ah Tenane kali ini menyangkut nasib sohib kita yang tak kalah top markotop-nya yakni Genduk Nicole. Di tengah-tengah duka yang mendera Genduk Nicole, ternyata masih ada sekelumit kejadian sing lucune pol.
Peristiwa itu bermula saat ibunya Genduk Nicole, sebut saja Lady Cempluk, mondhok di salah satu rumah sakit sing markotop sak Solo. Sebagai seorang anak yang berbakti kepada orangtua, so pasti Genduk Nicole tak meninggalkan ibunya barang semenit pun. Dia pun rela wira-wiri dari rumah ke rumah sakit dan sebaliknya tanpa kenal lelah demi Ibunda tercinta.

Tapi karena kondisi sang ibu yang sudah tua dan sudah sakit parah, malang tak dapat ditolak, mujur tak dapat diraih, akhirnya si ibu tercinta dipanggil menghadap Allah SWT. Tentu saja kepergian Lady Cempluk membawa kepedihan tersendiri di hati Genduk Nicole.

Bersambung ke Hal 15 Kol 1

Meski begitu, Genduk Nicole tidak bisa berlama-lama meratapi kepergian ibunya tercinta.

Genduk Nicole pun lari ke sana ke sini, singgah dari satu Wartel ke Wartel lain, sibuk ndudul nomer telepon saudara-saudara yang ada di luar kota, untuk mengabarkan berita duka tersebut.

Dalam keadaan tergesa-gesa, bingung campur sedih banget, akhirnya Genduk Nicole ditemani saudaranya yang baru datang dari Bogor, Jon Koplo, pergi menjemput jenazah sang ibu di Ruang ICU rumah sakit tersebut. Begitu tiba di depan Ruang ICU, tahu-tahu ada sebuah kereta dorong berjalan ke luar, didorong para perawat. Tanpa tanya babibu lagi, Genduk Nicole yang sedang sedih banget langsung mengikuti kereta dorong tersebut.

Dengan menangis sesenggukan Genduk Nicole dan Jon Koplo berjalan di belakang kereta dorong yang membawa ibu mereka ke ruang belakang untuk dibawa pulang karena akan dikebumikan hari itu juga.

Genduk Nicole tak putus-putusnya olehe nangis. Bahkan dia tidak tega melihat ke kereta dorong tersebut. Sesekali Jon Koplo mengucapkan kata-kata untuk menghibur sekaligus menguatkan hati Genduk Nicole.

Mereka terus mengikuti kereta dorong itu. Maka…alangkah kagetnya Genduk Nicole begitu melihat kereta itu ternyata menuju ke kamar jenazah. ”Blaik! Piye ta iki, kok malah mrene?” batin Nicole yang mendadak mandheg tangise. Padahal sak ngertine Nicole, seharusnya kereta dorong itu menuju ke mobil jenazah yang sudah menunggu di pintu belakang rumah sakit.

Dengan nada keheranan, Genduk Nicole pun menanyakan hal itu pada perawat yang nggledek kereta dorong itu. ”Mas, Mas, apa yang Sampeyen gledek tadi jenazahnya Bu Lady Cempluk?” tanya Genduk Nicole.

Gantian perawat itu yang sekarang keheranan. ”Bukan, Mbak. Ini bukan jenazahnya Bu Lady Cempluk. Jenazahnya Bu Lady Cempluk masih di ICU. Makanya saya juga heran kok Mbak dan Mas mengikuti saya terus sampai ke sini,” jawab perawat itu membuat Genduk Nicole dan Jon Koplo mak prempeng saking uisine.

Tanpa babibu lagi, Genduk Nicole dan Jon Koplo yang jan kisinan tenan, langsung ambil langkah seribu. ”Waduuh… jan isin tenan aku, Plo!” kata Nicole.

– Dra Cahyani Rahmawati, Jl Teuku Umar F 67, Josroyo RT 10/RW 16, Jaten, Karanganyar.

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to Top