Tiwas ndhelik jebul kecele

Jon Koplo adalah seorang pedagang kaki lima (PKL) yang tambleg. Buktinya meski bolak-balik tertangkap razia petugas Trantib, dia tak pernah jera berjualan di trotoar. Keampuhan Jon Koplo menghindari petugas lantaran dia punya kiat jitu.
Yakni menyiapkan tempat khusus untuk menyimpan barang dagangannya jika tiba-tiba ada penertiban PKL. Nah, saking sensitifnya Koplo menghadapi petugas, suatu kali dia malah kecele dan dibuat malu sendiri. Ceritanya, siang itu seperti biasa Koplo menggelar dagangannya di salah satu sudut trotoar di Kota Gaplek.

Sambil menunggu dagangannya yang digelar di atas trotoar, Koplo asyik membaca koran. Tiba-tiba dari kejauhan dia melihat ada seorang petugas berseragam mengendarai sepeda motor menuju ke arahnya. Karena saat itu ia tak punya kesempatan untuk membenahi barang dagangannya, maka Koplo mencari cara paling praktis untuk mengamankan diri. Kebetulan di sebelahnya ada Lady Cempluk yang sedang berdiri menunggu mobil angkutan.

”Mbak, Mbak, tolong nanti kalau petugas itu datang ke sini, jangan beritahu kalau saya yang jualan!” pesan Koplo pada Lady Cempluk.

”Lho memangnya Mas mau ke mana?” tanya Lady Cempluk bingung.

”Saya mau ngumpet sebentar!” sahut Koplo seraya meloncat ke balik pagar dan bersembunyi di sana.

Dugaan Koplo benar, petugas berseragam khas PNS bernama Tom Gembus itu benar-benar berhenti di depan barang dagangan Koplo. Laki-laki itu turun dari sepeda motornya dan terlihat celingukan mencari penjualnya. ”Hei, sing dodolan iki siapa?” seru Gembus sambil toleh kiri-kanan.

Koplo yang bersembunyi di balik pagar tetap bergeming di tempatnya. Dia tidak berani keluar dari persembunyiannya, meskipun ia mendengar seruan Gembus. Karena yang punya dhasaran tidak juga muncul, Gembus tampak gusar dan kembali berseru lebih kencang dengan nada agak kesal.

”Hei, ini yang jualan ke mana? Orang jualan kok ditinggal pergi??”

Karena tak juga mendapat sahutan, Gembus lalu bertanya pada Lady Cempluk yang masih berdiri di tempatnya. ”Mbak, Mbak! Ini orangnya yang jualan pergi kemana, Mbak? Saya panggil dari tadi kok tidak muncul-muncul? Memang dia nggak butuh duit lagi?”

”Waduh…Saya nggak tahu, Pak,” jawab Cempluk pendek, teringat pesan Koplo sebelum ndelik.

”Lho, masak Mbak tidak tahu? Kan Mbak yang berdiri dari tadi di sini? Masak sih orang jualan ditinggal pergi lama-lama? Nanti kalau dicuri orang bagaimana?” tanya Tom Gembus tidak mau kalah.

”Lha Bapak ini memangnya mau beli?” Lady Cempluk balik bertanya.

”Iya! Memangnya saya ke sini mau apa? Saya mau beli stiker pesanan anak saya!” jawab Gembus rada mangkel.

Mendengar jawaban Gembus itu, diam-diam Cempluk jadi tersenyum geli. Dia kini mahfum kenapa tadi Koplo bergegas ndhelik begitu melihat kedatangan Gembus. Rupanya dia menyangka Gembus petugas yang mau menertibkan PKL! Padahal tidak tahunya Gembus adalah pembeli. Cempluk pun segera memanggil Koplo dan memintanya untuk keluar dari persembunyiannya. ”Mas, oi Moasss…aman! Bapaknya ini cuma mau beli, kok!” serunya.

Ketika melihat Koplo muncul sambil cengengesan, Gembus tak urung jadi gregetan. ”Oalah, jebul mung ndelik ning kana ta? Apa Sampeyan ki ora kepingin duwit? Arep ditukoni kok malah ndelik?” cetus Gembus kesal sementara Koplo cuma pringas-pringis kisinan dhewe.  

– Kiriman Parmi d/a Bapak Sukiman Kios Kusuma Pasar Tirtomoyo, Tirtomoyo, Wonogiri 57672.

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to Top