”Tuluuung…ana dhemit”

Jon Koplo memiliki hobi berat memancing. Hobi memancing Jon Koplo ini sangat didukung oleh letak geografis rumahnya yang dekat dengan waduk.
Nah, siang itu Jon Koplo telah bersiap memuaskan hobinya itu sekalian nganyari motor barunya. Segala perlengkapan telah ia siapkan dalam ransel khusus. Namun, sebelum ia menghidupkan motor, isterinya yang bernama Lady Cempluk ujug-ujug njedhul.

”Mas, kalau mau mancing mbok naik pit onthel bae. Nanti kalau motor baru kita diembat maling di waduk, kepriye?” ujar Lady Cempluk.

”Pakai onthel? Wah tidak bergengsi, dong!” kilah Jon Koplo. ”Wis rasah khawatir, Bune. Aku ,wis gawa pengaman kok. Dijamin, rampok ora ndemok, maling ora nyangking,” lanjut Jon Koplo sambil menstarter motornya.

Begitu tiba di lokasi, Jon Koplo memarkir motornya di pinggir pemakaman dekat waduk. Tempat itu lumayan jauh dari pemukiman penduduk.

Tidak lupa ia memasang alat pengaman yang tadi dibawa dari rumah. Tak lama kemudian, Jon Koplo sudah tenggelam dalam keasyikannya memancing hingga tak terasa hari sudah menjelang Maghrib. Jon Koplo pun bersiap pulang. Ia menarik napas lega mendapati motor barunya masih bertengger di tempatnya. Setelah menghidupkan motornya, Jon Koplo pun berniat nggeblas. Namun…grobyak! Jon Koplo malah terjatuh bersama motornya. Jon Koplo segera bangun dan mencobanya lagi. Namun lagi-lagi motornya terjatuh, dan ia pun kelumah lagi.

Jon Koplo mencium gelagat yang tidak beres. Hati kecilnya mengatakan, demit waduk yang sedang bergentayangan, tengah mengganggunya. Sambil komat-kamit membaca doa, Jon Koplo berusaha menjalankan motornya kembali. Kali ini ia memperbesar gasnya. Namun, motor Jon Koplo nggobik lagi. Ia tidak hanya kelumah, tetapi juga ketindihan motor. Tanpa pikir panjang, Jon Koplo ngadek krengkalan dan mlayu keponthal-ponthal ke rumah Tom Gembus. Motor barunya ia tinggal begitu saja dalam posisi ngathang-ngathang..

”Ada apa, ta Mas Koplo? Kok kaya dikejar setan?” tanya Tom Gembus sambil membawakan segelas air putih. Jon Koplo pun menceritakan peristiwa misteri yang baru saja ia alami. Tom Gembus ikut merinding mendengarnya.

”Kelihatannya saya tadi dijegal oleh demit, Mas Gembus,” kata Koplo dengan napas masih menggeh-menggeh.

”Tempat itu pancen wingit kok Mas Koplo,” ujar Tom Gembus sok tahu.

Kemudian, Gembus pun mengajak beberapa warga lain menuju ke lokasi kejadian. Tidak lupa mereka membawa senter, karena hari sudah makin gelap. Salah seorang warga bahkan berinisiatif membawa kembang, menyan dan beberapa butir telur ayam jawa. Tiba di lokasi, motor Jon Koplo tampak masih ngathang-ngathang di tempatnya semula. Suasana hening. Tak seorang pun di antara mereka yang berani berbicara. Hawa mistis benar-benar menyelimuti.

Sambil komat-kamit, Koplo berusaha menjalankan motornya lagi. Tiba-tiba mata Tom Gembus tertuju pada sesuatu yang mencurigakan. ”Eit, tunggu dulu, Mas Koplo. Saya kira gembok besar di rem cakram inilah yang membuat motormu terpelanting saat memutar,” ujar Gembus seraya mengarahkan senternya ke rem cakram di roda depan motor Koplo. ”Ealah Mas, Sampeyan iki mau judule kesandung gembok, dudu demit waduk!” celetuk salah satu warga membuat Koplo semakinabang ireng saking isine.  

– Kiriman Rahmat Putu Niti, SMP N 3 Polokarto, Desa Tepisari Polokarto, Sukoharjo 57555.

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to Top