Montor pembawa berkah

Tolong menolonglah kamu dalam kebaikan, maka kau akan menuai hasilnya. Pernyataan ini sama dengan petuah mbah-mbah kita dulu. Sapa nandur mesti bakal ngundhuh. Artinya orang yang selalu beramal maka akan memperoleh kebaikan terhadap dirinya. Seperti halnya dengan kisah aktor terheboh kita Jon Koplo. Usai membeli amplas di dekat perempatan, Koplo memarkir sepedanya di pinggir jalan. Biar nanti kalau ada keperluan mendadak tinggal nyengklak dan wer… Koplo pun langsung duduk di kursi panjang favoritnya.

Untuk nggosrok kayu biar alus. Maklum dia sebagai pemilik mebel merangkap sebagai tukang. Namun, pas lagi masah dia dikagetkan oleh suara sepeda motor yang banter banget. “Mak, wes..sss…!!”. “O …. semprolane! Numpak pit montor kok pecicilan durung tau ngambung aspal piye!!” gerutu Koplo.” Ana apa ta Pakne kok bengak-merang bengok?sahut Lady Cempluk isteri tercinta. “Lha kae lho, wong numpak pit montor kok ra nganggo perasaan. Langsung ngegas, rempol. Apa bosen urip ta?” Di saat misuh-misuh itulah tak berapa lama ada seseorang pengendara lewat naik pit montor banter banget maneh.

Koplo pun jadi kaget dua kali. Darahnya naik ke ubun-ubun awake menjadi panas. Hidungnya mekrok mingkup kaya banteng mau nubruk. Tapi sebelum mbengok misuh, Koplo jadi kaget. Soalnya orang yang naik motor kedua ini motornya macet dan berhenti tak jauh dari rumahnya. Bukan karena Koplo wani angas namun karena orang yang kedua ini bukan sembarangan orang. Makanya ia mengetak jadi muni-muni. Setelah distater bola-bali tidak bisa. Akhirnya sepeda motornya ditinggal. Pria itu, sebut saja Tom Gembus, lalu menuntun sepeda motornya ke arah rumah Jon Koplo. Setelah sampai dia minta izin pada Koplo untuk pinjam sepeda motor milik Koplo.

“Permisi Pak,maaf boleh saya pinjam sepeda motor Bapak? Saya tadi habis mengejar seorang yang lari karena tak bawa helm. Saya anggota Polisi, ini kartu saya,” kata Gembus. “Oh, silahkan-silakan, Ini kuncinya Pak Polisi dari ini STNK-nya, ” jawab Koplo sambil rada grogi. Sepeda motor Tom Gembus itu kemudian ditinggal di rumah Jon Koplo. Motor Koplo dipakai buat ngoyak orang yang lari tadi. Semua orang yang ada di rumah Koplo jadi domblong. Tak lama, Tom Gembus kembali bersama temannya. Motor diapun kemudian diperbaiki oleh rekannya. Dan motor Koplo pun dikembalikan. Siang harinya, karena kehabisan plitur. Akhirnya Koplo numpak pit motore untuk beli di toko lengganane. Namun, waktu sampai di daerah bunderan Solo Baru.

Koplo rada kaget, soalnya baru menggok mak kluwer. Langsung dihentikan beberapa petugas yang sedang mengadakan Operasi Lalu Lintas. Dalam hati Koplo rada deg-degan. “Wah duh mokmen iki…” “Selamat siang Pak. Boleh lihat surat-suratnya Pak?” kata Pak Polisi “O, ya Pak … sebentar,” dengan Pedenya Koplo mengambilkan SIM dan STNK. Namun setelah ningak-ninguk ngrogoh kantongan, Koplo blingsetan dewe.

Tetapi dalam hati Koplo, ia bertanya-tanya, “Ketokke Pak Polisi iki sing nyileh montorku mau,” dengan rada wedi, Koplo pun bertanya, “Pak Gembus, jenengan ingkang ngampil sepeda motor kula wau ta Pak?” Setelah melepas kaca helmnya Pak Polisi itu berkata , “Oh, iya …. ya. Maaf Pak saya lupa. Ya sudah sekarang langsung saja jalan.” Akhirnya Koplo gage-gage nyetater pit montore sambil bun gah banget atine. Wah Jan, bejamu Plo … Plo coba mau kowe ora nyilihi pit montor mesti kowe ora mung ditilang sok dicocak rawa… ?!!”

Kiriman Ranu Muda Adi Nugroho,
Ngasinan RT 03 / 04, Kwarasan, Gragol, Sukoharjo.

Solopos, 1 Agustus 2005

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to Top