Lha kok ilang?

Sore itu sebenarnya bukan musim hujan, tapi mendung terlihat mengayut sejak siang tadi. Ternyata benar, hujan turun cukup deras, malah dibarengi angin dan petir. Apalagi tiba-tiba mak pet, lampu mati! Lengkaplah sudah gambaran suasana mencekam di rumah Pak Tom GEmbus yang ada di daerah Pajang. Saat itu, di dalam rumah ada Pak Tom Gembus, isterinya, Lady Cempluk, anak ragil-nya Gendhuk Nicole. Sementara anak tertuanya yang perempuan belum pulang. Setelah keluarga Tom Gembus sibuk mencari teplok (lampu minyak) di kegelapan, maka keributan berhenti, tinggal bunyi hujan, gemuruh dan desis angin.

Jon Koplo dan Lady Cempluk pun kembali duduk di keremangan lampu minyak. lady Cempluk tiba-tiba bertanya di keheningan. “Lho Gendhuk Nicole ke,ama?” Lady Cempluk mulai khawatir dengan anak gadisnya itu. Apalagi sebelum mati lampu tadi, ia sempat terlihat pegang-pegang HP dan selalu sibuk dengan HP-nya itu. Jangan-jangan pergl dengan kawannya. Tapi kok tidak pamit dulu. Tidak biasanya Genduk Nicole tidak pamit seperti ini. lni sangat aneh, kelL1arga itupun semakin cemas. Tom Gembus dan keluarganya n1ulai was-was.

Tom Gembus, Lady Cempluk dan Jon Koplo mencari ke mana-mana, di kamar, di teras, di rumah depan, tetapi tidak ketemu walaupun dengan membawa senter. “Plo, kamu telepon adikmu, kenapa tiba-tiba tidak apa?” Tom Gembus khawatir. Jon Koplo segera menelepon dengan telepon rumah ke Henpun-nya Genduk Nicole. “Wah sibuk ki pie…? ” batin Koplo. “Ayo ditelepon lagi,” kata Lady Cempluk. “Wah kok tidak diangkat-angkat?” Jon Koplo khawatir. “Pokoknya dibel terus sampai bisa,” perintah Tom Gembus.

Jon Koplo tak henti-hentinya berusaha menghubungi Henpune Genduk Nicole. Akhirnya penantian itu berhasil. Jon Koplo berhasil menghubungi Genduk Nicole, “Nduk, kamu di mana, kamu baik-baik saja akan?” Jon Koplo kontan bertanya panjang lebar tentang keadaan Genduk Nicole. “Iya-iya, aku lagi di WC buang air besar,” kata Genduk Nicole kemudian menutup teleponnya. Tom Gembus sekeluarga merasa lega, ternyata kepanikan mereka terlalu berlebihan. Anak gadisnya tidak pergi ke manamana, dia cuma di belakang untuk buang air besar.

Kiriman Putri Hatiningsih
Karang Turi 04/07, Pajang,
Laweyan, Solo 57146.

Solopos, 2 Agustus 2005

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to Top