“Dhuh, henpun silihan je…”

Suatu malam, Jon Koplo berencana ingin mengajak pacar perdananya, Lady Cempluk, pergi menonton konser yang berlangsung di kampusnya. Bermodal dua tiket, Jon Koplo nekat ngajak lady Cempluk. “Aku perigin banget ngefak Lady Cempluk, tapi bagaimana cara ngandanine ya?” sambat Jon Koplo kepada Tom, Gembus, sobat kentalnya. “Wis ta, Plo, kamu pakai henpun-ku saja kamu punya simcard apa tidak? ” tanya Tom Gembus. “Pasti kamu mau bilang nggak punya tapi bingung, ditambah kamu tidak punya dana, nih aku pinjamin dulu nanti hari Minggu dikembalikan ya!” tambah Tom Gembus. Akhirnya Jon Koplo bergegas membeli kartu perdana.

Setelah membeli perdana paling murah Jon Koplo kembali ke kos, “Mbus, aku wis tuku simcard. Mana henpun-mu!” pinta Jon Koplo. “Nih pakai aja tapi hati-hati lho,” pesan Tom Gembus. “Tak ngreyen kartu perdana ah,” kata Jon Koplo kemaki sambil mulai memencet nomornya Lady Cempluk. “Hallo, my darling, Kamu ada waktu apa nggak? Mau kuajak nonton konser di kampusku, mau nggak? ” tanya Jon Koplo tanpa basa-basi. “Hallo, ini siapa yang kok panggil-panggil my darling,” Lady Cempluk lewat henpun dengan nada marah. “Cempluk, my darling, ini Den Mas’e Koplo, masak sama suara yayang’e dhewe lali, ” Sahut Jon Koplo.

Setelah beberapa menit, tiba-tiba mak klakep tak ada suara, putus dan mati sendiri. “Mbus kok mati dhewe?” tanya Jon Koplo bingung. “Lha pulsamu sudah habis! So what gitu loh, ” jaWab Tom Gembus. Setelah mendapatkan kepastian dari Cempluk, akhirnya dia tiba di kos Koplo, ” Mas ndhek mau kowe nganggo HP-ne sapa?” tanya Lady Cempluk. “We lah, mbok aja ngenyek aku! Ya mesti henpun-ku no, masak henpune wong liya, “jawab Jon Koplo dengan sombong. “Ayoo Pluk langsung cabut, selak kebak,” tambah Jon Koplo, tanpa mengembalikan henpun-ne Tom Gembus. Sesampainya di sana, “We Iha kok wis kebak, Pluk kowe neng mburiku wae, tak golekke dalan menyang ngarepan,” kata Jon Koplo.

Akhirnya mereka berada di tengah dan tak bisa kemana-mana karena penuh. Mendengar lagu, kepala Jon Koplo manggut-manggut, “Lha kok, kelihatannya ada yang menggerayangi sikilku, mungkin tangane Lady Cempluk nggrathil,” kata Jon Koplo dengan nada lirih. Setelah beberapasaat, Jon Koplo sadar kalau tangan Lady Cempluk dari tadi pegang Jon Koplo. “We lha kok kantongan celanaku suwek, buju buset, lha HP-ne menyang endi? Mateeng aku,” sambat Jon Koplo sambil memegang kantong celanannya yang sobek. “Plo ana..apa?” tanya Lady Cempluk. “Pluk, HP-ne ilang, padahal iku duwekke Tom Gembus, wis ngutang simcard ditambah ngilangke HP,” kata Jon Koplo sambil mengusap dahinya. “Lha, kowe sih Mas, yen ora duwe ora usah dipeksakke, karo ngutang barang,” kata Lady Cempluk. Mendengarkan kata Lady Cempluk, Jon Koplo memerah mukanya.

Kiriman Hafez Maulana,
Puspan Kidul RT 01/VIII,
Tipes, Solo 57154.

Solopos, 4 Agustus 2005

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to Top