“Peh seragame kembar we…”

Lady Cempluk bekerja sebagai pramuniaga di pusat perbelanjaan terkenal di Solo. Pada jam-jam istirahat, tepatnya setelah makan siang biasanya Lady Cempluk dan kawan-kawannya sering jalan-]alan ke pertokoan di sekitar tempat keja mereka. Biasalah, namanya ]uga wanita, seneng kalau lihat barang-barang bagus dan baru. Selain itu, dengan berjalan-jalan bisa menghilangkan stres selama bekerja. Nah, hati itu tepat “tanggal muda”, Lady Cempluk baru saja gajian dan berrninat membeli sepatu baru. la langsung mengajak geng-gengnya sesama pramuniaga untuk pergi ke toko sepatu yang letaknya di seberang jalan dari tempatnya dia bekerja. Katanya di sana sedang ada diskon gede-gedean gitu loh. Tanpa babibu lagi, mereka langsung menyerbu toko itu.

Sampai di sana, tentu saja semuannya jadi mlencar sendiri-sendiri untuk memilih barang yang diinginkan. Dengan semangat 45 Lady Cempluk mencoba berbagai macam model sepatu. “Maaf Mbak, sepatu yang di boks diskon itu apa ada ukuran lainnya di dalam? kalau ada saya mau ukuran yang 41,” kata laki-laki yang bernama Jon Koplo. “Wah, saya ndak tahu Mas, tanya Mbak itu,” jawab Lady Cempluk sambil menunjuk ke penjaga toko sepatu yang berdiri di pojok. Setelah itu, Lady Cempluk kembali milang-milingi sepatu yang dipegangnya. “Mbak-e ki piye ta? Ditanya kok ndak nggagas blas,” komentar Jon Koplo. “lya nih, kita kan pembeli di sini. Pembeli adalah raja, harus Pembeli adalah raja, harus dilayani sebaik-baiknya,” tambah Tom Gembus, teman Jon Koplo yang berada di sampingnya. “Yuk dilaporke bae kelakuane ke menejer toko. Ben kapokmu kapan, ” ajak Tom Gembus bersemangat.

Lady Cempluk yang sibuk dengan sepatu, tidak merasa kalau ucapan itu ditujukan padanya. Dipikirnya kedua laki-laki itu lagi bicara sama orang lain. Lagian, lha wong pikirannya Lady Cemitu lagi bingung mau beli yang model apa, soalnya bagus-bagus. Tak lama kemudian Jon Koplo dan Tom Gembus menghampir Lady Cempluk dengan disertai Genduk Nicole, sang menejertoko. Sebelumnya, tentu saja mereka berdua sudah menceritakan pengalamannya dilayani dengan tidak ramah ke sang menejer. “lni lho Bu, karyawati Ibu yang tidak ramah itu,” kata Jon Koplo sambil menunjuk ke arah Lady Cempluk. “lya … masak ta kita tanya baik-baik, e…. malah dia melempar pekerjaannya ke orang lain. Bilangnya sih nggak ngerti,”tambah Tom Gembus manas-manasi suasana.

Lady Cempluk yang mendengar langsung bingung. Genduk Nicole berusaha menjelaskan permasalahan yang sebenarnya terjadi “Tenang, tenang… ini hanya salah paham saja,” kata Genduk Nicole bijak. “Mbak ini bukan pramuniaga kami Mas, tapi pramuniagadi toko lain. Maaf tho Mbak,” jelas Nicole. “Mas-Mas, dengerin ya! Saya itu ke sini mau beli sepatu, yo genah ra ngerti kalau ditanya di dalam masih ada stok ukuran sepatu apa enggak…,” seru Lady Cempluk kesal. Sekarang giliran Jon Koplo dan Tom Gembus yang kaget. “Eh … eh … waduh sori lho Mbak, habis bajunya Mbak mirip pramuniaga di sini,” kata Jon Koplo merasa kisinan.

Kiriman Herlina Dewi
Susanti d.a. kelas 3 IPA-1,
SMU Warga, Solo.

Solopos, 5 Agustus 2005

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to Top