“Hayo, mbayar sik!”

Liburan semesteran membuat Jon Koplo, mahasiswa PTS di Solo ini pusing tujuh keliling. Kalau liburan begini, jatah sangu dari orangtua juga ikut libur. Apalagi selama ini Jon Koplo hanya kuliah saja, tidak punya kerja sampingan yang bisa menghasilkan uang. Bisa ditebak, Jon Koplo selalu bokek setiap liburan tiba. Tentu saja dia kelabakan dengan kondisi seperti ini. Apalagi banyak teman-temannya yang ngejak dolan ke sana-kemari. Mosok dolan-dolan dhewe, duite njaluk wong tuwa, kan ya raenak, batihnya. Akhirnya setelah pikir njlimet untuk merycari usaha sampingan apa yang cocok, dia mukanya juga.

la ingin menjual jasa cuci cetak foto. Ide itu atas saran Tom Gembus, sohibnya. Tapi maksud nya bukan buka studio cuci cetak foto lho. Jadi begini, Jon Koplo akan foto yang ingin dicuci cetak. la setuju karena Tom Gembus sudah paham dan lebih dulu menekuni bisnis itu. “Nah, kamu lembar order ke studio yang aku kasih tahu itu. Harga cuci cetaknya di sana paling murah sak ndonya. Mung limangatus rupiah, padahal ditempat lain wis wolungatusan. Nanti kamu kasih harga per lembarnya pitungatus wae. bathi rongastus kan lumayan nek ping bola-bali,” begitu yang diterangkan Tok Gembus waktu memberi ide. Akhirnya, Jon Koplo pun mulai promosi ke orang-orang yang di kenalnya. “Wis, ta, kalau cetak ditempatku dijamin murah, harganya di bawah harga pasar dari tempat lai,” begitu yang selalu dikatakan Jon Koplo dalam setiap promosinya, persis wong nyetel kaset.

Ndilalah, promosi Jon Koplo berhasil. Tetangganya, Bu Genduk Nicole tertarik untuk cuci cetak ke tempat Jon Koplo. Soalnya seminggu kemarin ada acara khitanan, syukuran wisuda, dan arisan keluarga di rumahnya. “Semua acara pada difotoni, sampai habis 6 rol film,” kata Genduk Nicole. Jelas Jon Koplo seneng banget karena pertama kali dapat orderan langsung banyak. Sampai-sampai Jon Koplo nggak bisa membayangkan berapa keuntungan yang bakal didapatnya dari 6 rol film itu, karena sebentar lagi akan punya duit. Jon Koplo ndang ceket-ceket pergi ke studiofoto yang dimaksudkan sahabatnya itu. “nih, cuci cetak 6 rol. Semuanya lho1” kata Jon Koplo pada karyawatiyang bernama Lady Cempluk.

Cempluk pun segera menuliskan pesanan Jon Koplo ke secarik kertas. “Ini Mas notanya,” kata Lady Cempluk menyerahkan nota, “Bayarnya di kasir. Makasih ya,” tambahnya. “Lho, mbayar dhisik ta Mbak?” tanya Jon Kplo kaget. “Iya Mas. Aturannya di sini seperti itu. Segala pesanan harus di bayar terlebih dahulu.” “lho, kan fotonya belum jadi, gimana ngitungnya?” Tom Gembus ngeyel. “Biasanya cuci cetak dihitung perpaket 25 ribu, itu kalau fotonya jadi semua.

Nah, kalau ada yang kobong ya nggak di hitung. nanti duite di balekno kalauy semua sudah di cuci cetak,” terang Lady Cempluk panjang lebar,” Semuanya 6 rol kali 25 ribu, jadi satus seket ewu, seperti yang di tulis di nota.” “Wah, Tom Gembus maceki, nggak kasih tahu kalau prosedurnya harus bayar dulu di muka,” batin Jon Koplo. Koplo tampak gugup kae. bingung nggak tahu harus gimana. “nggak usah gugup gitu Mas ! Tenang saja, kalau da yang nggak jadi duite dibalekno kok,” komentar lady Cempluk yang melihat Jon Koplo terdiam saja dari tadi. Jon Koplo pringas-pringis kae. “Walaaahhh, sire meh golek duit dengan menjual jasaje, nggak tahunya harus modal duit dulu ta,” batinnya sambil merogoh saku, yang di dalamnya hanya da uang Rp 500 perak untuk bayar titipan parkir sepeda motor.

Kiriman Rahmad Prasojo,
Jl Malabar VI/21, RT 05/03,
Kedundung, magersari, Mojokerjo.

Solopos, 6 Agustus 2005

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to Top