Kasihan Molly

Pukul 12.00 WIB teng, ketika bel istirahat kedua berbunyi, Maulan, Anjas dan Rino bergegas ke halaman belakang sekolah. Ketika asyik bermain, tanpa sengaja, Maulan melihat anak kelinci di bawah pohon.

“Anjas, Rino ke sini aku menemukan anak kelinci.”

“Anak kelinci?” sahut Anjas mulai kebingungan.

“Jangan garang anak kelinci dari mana! Sekolah kita kan tidak memelihara kelinci!” ujar Ring. “Aku nggak bohong kok ini beneran anak kelinci,
aku akan menangkapnya,” jawab Maulan untuk meyakinkan kedua temannya.

Hap… hap… hap… akhirnya anak kelinci itu dapat Maulan tangkap.

“Akhirnya aku bisa menangkapnya,” ucap Maulan dengan lega. Sambil berjalan mendekati kedua temannya ia merasakan keanehan terhadap anak
kelinci itu.

“Ada apa? Sudah ketangkap?” jawab Anjas dan Rino dengan kompak.

“Sudah dong, aku hebat kan?” jawab Maulan tapi sedikit bingung.

“Wah ternyata kamu benar, tapi kok mudah sekali anak kelincinya ditangkap? Janganjangan dia terluka!” sahut Anjas yang tak henti-hentinya bermain yoyo.

“Kayaknya anak kelinci ini sakit, makanya mudah sekali ditangkap,” ujar Maulan sambil menunjukkan anak kelinci itu.

Teng… teng… teng… tanda bel masuk telah berbunyi. Cepat-cepat Maulan, Anjas dan Rino menaruh anak kelinci itu di teras belakang sekolah. Setelah menaruh anak kelinci, mereka berlari menuju kelas IV A. Mereka melihat Bu Feni, guru kesenian menuju kelas mereka. Anjas, Maulan dan
Rino telah duduk siap mengikuti pelajaran Bu Feni. Tapi Maulan teringat dengan anak kelinci itu karena anak kelinci itu sedang sakit. Maulan
berpikir anak kelinci itu sakit karena semalam hujan mengguyur sangat lebar.

“Mungkin anak kelinci itu sakit karena semalam kehujanan,” kata Maulan dalam hati. Di tengah-tengah pelajaran berlangsung, tiba-tiba Maulan
berjalan menuju meja Bu Feni..

“Maaf Bu saya izin ke belakang,” kata Maulan dengan wajah kebingungan.

“Silakan tapi jangan lamalama,”jawab Bu Feni.

“Terima kasih Bu,” jawab Maulan sambil menuju keluar kelas.

Tanpa basa-basi Maulan berlari ke belakang sekolah, tepatnya menuju teras tempat ia menyembunyikan anak kelinci.

“Syukurlah anak kelinci itu masih hidup, sabar ya nanti aku akan merawatmu,” kata Maulan sambil mengelus-elus anak kelinci itu.

Setelah merasa tenang, bergegaslah Maulan menuju kelas melanjutkan belajarnya. Bu Feni menjelaskan materi pelajaran, tanpa terasa tiba-tiba
bel pulang berbunyi. Maulan memanggil kedua temannya dari depan pintu.

Tanpa berlama-lama, Maulan berlari menuju teras belakang sekolah. Tapi, sayang kali ini Maulan tidak beruntung. Karena anak kelinci itu sudah meninggal, Maulan sangat sedih. Padahal Maulan telah berniat untuk merawat anak kelinci itu, bahkan ia telah memikirkan dan akan memberi
nama Molly pada anak kelinci itu.

Sepekan kemudian, Maulan mendengar bahwa akan dibangun kelas baru di tempat Molly dikubur. Bergegas Maulan menemui sahabatnya Anjas
dan Rino untuk memindahkan kuburan Molly. Kemudian mereka sepakat untuk memindahkan kuburan Molly besok sesudah sekolah. Sehari
kemudian, ketika mereka sampai di sekolah, mereka terkejut karena melihat banyak orang di sekolah mereka.

“Kok banyak orang ada apa ya?” tanya Maulan kepada dua sahabatnya.

“Hah… bagaimana dengan kuburan Molly, teman-teman?” kata Maulan.

“Ayo kita cari,” usul Rino.

Tapi mereka tidak menemukan meskipun mereka telah mencari di mana-mana sampai bel masuk berbunyi. Akhirnya mereka masuk ke kelas dengan hati yang kecewa.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to Top