Secercah Asa

Panas terik sinar sang surya tak menyurutkan semangatku untuk terus mengayuh sepeda tua yang telah 10 tahun menemaniku dalam mencari nafkah. Peluh yang bercucuran semakin membuatku tegar menjalani semua ini. Apalagi bila teringat senyuman istri dan anak semata wayangku tatkala menyambut kedatanganku, rasanya letih tubuh ini hilanglah sudah.

Hari ini terasa begitu berat, dari subuh tadi sampai sekarang memasuki waktu Asar tak satupun daganganku laku. Ya Allah…apa yang harus aku katakan kepada istri dan anakku? Hatiku mulai berkecamuk berjuta perasaan ada marah, kesal dan aku nyaris putus asa, tapi jika aku menyerah sekarang bagaimana dengan istri dan anakku? Ya Allah berikan hamba kekuatan.

Kuhentikan laju sepedaku lalu kutuntun ke dalam pelataran masjid. Kulangkahkan kaki menuju tempat wudu, lagi-lagi rasa gelisah datang mengusik. Kuhirup napas dalam-dalam lalu menghembuskannya perlahan. “Bismillah…” kumulai berwudu mesti hatiku masih resah namun kucoba untuk tak memedulikannya.

Aku telah menyelesaikan rakaat terakhir kemudian mengucap salam ketika kudengar gemercik air hujan yang jatuh ke pangkuan bumi. “Alhamdulillah Allah telah melimpahkan rahmatnya.” Aku mengucap syukur meski ku sadar nanti aku pasti kehujanan karena aku lupa membawa payung. Sudahlah….aku mulai berdoa dengan khusuk, kurangkai kata-kata dengan begitu indah untuk mengagungkan asma Allah.

Dengan langkah lebar setengah berlari sembari menuntun sepedaku, kuterobos hujan yang turun semakin deras. Kulirik daganganku kalau-kalau terkena air hujan. Lega terpancar di wajahku setelah mengetahui kripik tempe yang terbungkus dalam plastik tidak kemasukan air. Kuhentikan
langkahku tepat di depan rumah yang sangat sederhana tempat aku dan keluarga kecilku tinggal. Seperti biasa anakku, Sekar, telah siap menyambut kedatanganku di depan pintu.

“Assalamu’alaikum…!”

“Waallaikumsalam…” jawabnya lalu menyodorkan handuk kering. Aku tersenyum meski hatiku perih. Ya Allah Engkau memberikan malaikat kecil yang selalu membuat aku bangga dan bahagia namun sampai detik ini aku tak bisa membuatnya bahagia.

Nak maafkan Bapak…hatiku semakin teriris perih ketika kulihat istriku bergelut asap di dapur, mengusap peluh di keningnya sembari menggoreng pisang yang akan kita jual nanti malam. Rasanya dada ini sesak, aku pun tak sanggup lagi menahan air mataku. Namun aku harus tetap terlihat tegar
agar mereka tidak ikut bersedih.

“Bu…” panggilku penuh keraguan.

“Oh. Bapak sudah pulang… maaf Pak, Ibu keasyikan masak sampai tidak tahu kalau Bapak sudah pulang.”

Aku tersenyum simpul.

“Bapak mau bicara sebentar, Bu,” kataku tanpa sedikit pun menatap wajahnya.

“Baju Bapak basah? Cepat ganti baju atau mandi dulu saja Pak, nanti Bapak sakit! Bicaranya nanti malam saja!”

“Ya sudah, Bapak mandi dulu,” kataku datar.

“Biar Sekar yang menyiapkan baju ganti Bapak,” usul anakku dengan semangat lalu secepat kilat ia berlari menuju kamar.

Sekar menatap santapan makan malam tanpa berkedip. Mungkin di benaknya tersimpan kekecewaan karena untuk kesekian kalinya makan malam kita hanya kerupuk, sambal dan kecap.

“Kenapa? Sekar bosan ya setiap hari makan itu terus?” tanyaku.

“Nggak kok, Pak?” jawabnya lalu bergegas mengambil nasi berikut lauknya kemudian makan dengan lahap. Aku dan istriku saling menatap. Mungkin kami merasakan hal yang sama.

“Oya, Bapak tadi katanya mau bicara?” tanya istriku.

Aku menunduk terdiam. Kukumpulkan keberanian yang ada dalam diriku dan kurangkai kata-kata yang tak menyakitkan hati sebelum menjawabnya.

“Maafkan Bapak Bu…hari ini Bapak tak mendapatkan uang sepeser pun…”

“Berarti besok Sekar belum bisa bayar uang sekolah dong Pak?” potong Sekar. Aku mengangguk.

Ya Allah aku merasa berdosa sekali karena telah membawa mereka ke dalam penderitaan ini. “Sekar maafin Bapak…” batinku.

“Sekar tidak usah khawatir besok Sekar bisa bayar kok, Ibu masih punya simpanan kalung pemberian Eyang, besok pagi-pagi sekali Ibu akan jual nanti uang bisa buat bayar sekolah.”

Hatiku remuk redam mendengar ucapan istriku. Aku merasa lemah sekarang, seharusnya aku yang mencukupi kebutuhan mereka tapi, istrikulah yang sampai saat ini banyak berkorban.

“Baik. Sekar, Ibu…mulai sekarang Bapak akan bekerja keras…berjuang sampai titik darah penghabisan agar kita bisa keluar dari penderitaan ini dan mulai sekarang kita hidupkan salat malam… berpuasa, perbanyak berdoa kepada Allah karena hanya Dia-lah satu-satunya tempat kita meminta pertolongan!” ucapku dengan semangat berkobar.

Aku semakin tegar menjalani hari-hari, kucurahkan seluruh jiwa dan raga agar bisa mengubah nasibku. Tak henti-hentinya aku berdoa agar diberikan kemudahan menjalani semua ini, begitu pula istriku yang tak pernah absen mendampingiku salat malam, tak ketinggalan Sekar yang selalu giat tadarus seusai Salat Magrib.

Satu tahun kemudian

Akhirnya hidayah itu datang dan akhirnya Allah menjawab doa-doa kami. Semua perjuanganku, istri dan anakku tak sia-sia. Pak Ahmad seorang pengusaha memberiku modal. Beliau melihat semangat juangku mengubah nasib yang begitu besar dan memberiku kesempatan untuk mengembangkan usaha keripik tempe yang aku geluti selama 10 tahun terakhir ini. Alhamdulillah… berkat kerja kerasku serta dukungan dari istri dan anakku akhirnya usahaku berkembang pesat. Aku telah membuka tiga cabang sekarang membeli rumah yang layak, dan semua kebutuhan kami terpenuhi. Alhamdulillah ya Allah…atas segala nikmat dan karunia yang telah Engkau berikan…meski di dunia ini tak ada yang abadi, namun rahmat-Mu sarat arti.

Ya Allah…Engkau adalah satu-satunya alasan mengapa dia sanggup bertahan melewati ujian hidup yang Engkau gariskan padanya dan kemurahan-Mu adalah jawaban atas benih keikhlasan yang ia tabur selama ini. Lihatlah ya Allah.. senyuman itu telah kembali, kebahagiaan itu tak meredup… dan aku cemburu. Sungguh aku tak ingin bermalas-malasan. Tak akan kubuang waktuku dengan percuma, aku akan terus berusaha dan takkan menyerah menjalani hidup ini. Itu janjiku ya Allah…

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to Top