Sepetak Kebun

Kau merebahkan badanmu di lincak yang terletak di teras rumahmu. Saat kau masih kecil ayahmu sering bercerita, tentang rumpun bambu yang menjelma menjadi manusia jangkung setinggi pohon kelapa, ia memancing di sungai itu. Kemudian kau mendengar suara. ”Kapan ujian CPNS-nya dimulai Bud?” Ibumu bertutur dari balik dinding gedeg rumahmu.

”Masih satu bulan lagi kok Bu,” jawabmu.

Ibumu tiba-tiba keluar dari pintu belakang rumahmu. Jari jemari ibumu yang sudah keriput memijit-mijit lututmu, lengkaplah rasa nyaman dan damai kau rasakan.

”Ibu punya rencana dalam waktu dekat ini,” ibumu mulai angkat bicara, ”Ibu harap kamu bisa mengerti, itu semua demi kebaikanmu,” suara ibumu serak diselingi dehem. Sepekan lebih lendir di tenggorokan ibumu merekat erat.

”Apa rencana Ibu?” tanyamu penasaran, kau pun segera bangkit dari rebahan dan menurunkan kedua kakimu seraya merapatkan dudukmu dengan Ibu.

”Ibu akan menjual kebun ini kepada orang lain,” jawab Ibumu.

”Hah. Ibu mau menjual kebun ini?” suaramu meninggi. ”Mengapa Ibu mau menjual kebun ini?”

Ibumu menengadahkan kepalanya sejenak, sambil mengatur napasnya yang sesak.

”Salah satu relasi dagang pamanmu masih kerabat dekat kepala daerah di kota ini,” jawaban Ibumu terputus-putus.

”Ia bisa membantu kelulusanmu.”

Kau pun mengernyitkan dahimu, dan perlahan kau mulai menggelengkan kepalamu.

Sepekan telah berlalu. Seorang lelaki tambun, dengan kancing atas bajunya terbuka, berjalan ke arahmu dan Ibumu. Tali-tali yang mengikat leher kambing itu ditariknya kuat-kuat, disertai makian dan tendangan ke arah pantat dan perut kambing itu.

”Mbakyu, pekan depan pembelinya akan datang?” teriaknya serak dan keras menggelegar. ”Hebohnya lagi, aku berhasil membujuk keponakan kepala daerah itu untuk datang kemari, biar mbakyu bisa bertemu langsung.”

”Iya, So matur nuwun, sudah dibantu,” jawab ibumu dengan senyuman yang khas. Kau tersadar saat itu, bahwa semua ada kaitannya dengan Pamanmu Doso. Kau terduduk mengingat saat almarhum ayahmu masih hidup, beberapa pekan sebelum ia meninggal, ia pernah kehilangan dua ekor sapi yang dikandang bersama kambing-kambing titipan pamanmu. Paman Dosomu menuduh bahwa pencurinya adalah penduduk desa sebelah yang iri dengan kemajuan desamu. Ayahmu pun percaya begitu saja. Sayang sekali ayahmu tidak menyaksikan kenyataan bahwa pamanmu itu sempat setahun lebih mendekam di jeruji besi akibat kasus pencurian binatang ternak dan sapi gonggongan.

”Mungkin, ibu ada dalam tekanan paman,” kau bergumam.

Malam itu, sepulang dari tahlilan. Kau melihat ibumu melakukan aktivitas yang tak biasa. Ibumu tengah asyik menyulam di selembar kain hijau.

”Tumben, Ibu menyulam!” kau mencoba mengalihkan konsentrasi ibumu sejenak. ”Gambar apa itu, Bu?” ”Gambar sapi,” jawabnya singkat.

Kau sangat terkejut, dan bengong.

”Sejak kapan, Ibu mempunyai gagasan ingin menjual kebun itu?” nadamu memelas. ”Bukankah kebun itu kakek yang membelinya, sedangkan ayah hanya menjaganya agar tetap ada.”

Ibumu menghentikan menyulam sejenak dan melanjutkannya kembali. Tak sepatah kata pun terucap dari bibirnya. ”Apakah ada yang memaksamu, Bu?” tanyamu setengah berbisik dan ibumu hanya menggelengkan kepala.

”Bukankah yang akan kita lakukan itu suap namanya, Bu?” tanyamu.

”Itu melanggar hukum dan bukankah kita hidup di bawah naungan norma agama yang kuat, Bu?”

”Ibu hanya ingin kau mendapatkan pekerjaan yang layak. Bukankah kau ini seorang sarjana?” Ibumu berbicara dengan napas yang agak tersengal, ia letakkan peralatan menyulamnya.

”Orang-orang di pasar bergunjing tentang anak ibu yang bekerja sebagai buruh, buat apa ijazah kalau cuma jadi buruh?”

”Ujian CPNS adalah salah satu peluang rezeki yang bila Tuhan menghendaki akan mudah diraihnya,” kau mencoba menenangkan ibumu.

”Tapi itu bukan satu-satunya pintu rezeki yang Tuhan punya, masih banyak yang lainnya, dan yang halal lebih utama.”

”Zaman sekarang tanpa uang pelicin orang sulit cari kerjaan,” bantah ibumu.

”Apalah artinya sepetak kebun di desa, kalau kau menjadi orang berpangkat kau akan dengan mudah membeli tanah di kota.” ”Negara kita sekarang sudah berbeda dengan dahulu, jangankan kita orang biasa, besan presiden saja bisa dipenjarakan hanya gara-gara KKN,” kau berusaha mematahkan
argumen ibumu.

”Wah pintar juga rupanya anak Ibu ini,” seru Ibumu sambil mengusap-usap rambutmu. Kaupun tertawa kecil.

”Budi memang seorang sarjana, itu belumlah akhir dari segalanya, Bu?” katamu lembut.

”Tunggulah sampai tabungan Budi terkumpul banyak, aku akan membuat empang dan memenuhinya dengan ikan-ikan. Bila waktunya panen pasti ikan-ikan itu akan banyak dan besar-besar, maka orangorang akan berdatangan untuk membelinya.”

”Amiin!” seru Ibumu.

Tiba-tiba, terdengar suara buk…buk… buk…Seseorang menggedor dinding gedeg bambu samping rumahmu, tampaknya seseorang telah mendengar percakapan dengan ibu.

”Mbakyu, besok pembelinya akan datang, bersiaplah!” seru orang itu dari luar rumahmu.

”Tidak akan ada yang bisa menyakiti Ibu, Budi akan selalu menjaga Ibu,” katamu. ”Katakanlah apa yang sebenarnya telah terjadi, Bu?”

Sesegukan Ibumu menangis, air matanya membasahi pundakmu. Saat itu tak ada rasa takut sedikitpun tersisip di hatimu. Walau nyawa taruhannya, demi ibumu.

Waktu itu kau pulang kerja lebih awal, setelah mendapat izin dari mandor, dengan sedikit mendramatisasi alasan kau berikan padanya. Tiba-tiba kau melihat banyak mobil berkerumun di halaman depan rumahmu dan ambulans itu…

”Apa itu, Ibu…,” jarimu menarik rem depan sepedamu dengan kuat. Kau berlari menuju rumah, ”Aku terlambat…”

Usahamu memasuki rumahmu yang dikelilingi pita police linesiasia saat tangan-tangan kekar itu mencengkeram lenganmu, kau meronta tapi usahamu sia-sia. ”Ibu…!” kau berlari menuju di tempat ibumu berada dan memeluknya.

”Apa yang terjadi, Bu?”

Ibumu bercerita. Ternyata polisi telah mengendus kedatangan mereka di rumahmu, hingga tak begitu lama aparat langsung menggerebek rumahmu dan menangkapi orang-orang yang mengaku sebagai keponakan Bupati itu. Salah satu di antara mereka dilumpuhkan oleh timah panas aparat setelah berusaha melawan. Pamanmu juga termasuk komplotan mereka. Ia adalah otak dari drama penipuan itu. Matanya tajam memandang kau dan ibumu, hingga polisi menekan kepalanya dan mendorongnya ke dalam jok belakang mobil. Sirene mobil berbunyi nyaring dan iring-iringan mobil segera meninggalkan lokasi.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to Top