Teman Sejati

Hari cepat sekali berlalu. Tak terasa pelajaran IPS selesai, menandai sekolah pun ikut usai. Di antara kerumunan anak yang berlarian menuju
gerbang sekolah, ada tiga orang anak asyik mengobrol.

Panggil saja mereka Nadia, Ian dan Angga. Rupanya pikiran mereka masih terbawa pelajaran Bu Tanti. Sampai-sampai mereka lupa, kalau dari tadi
perut mulai keroncongan.

“Jepang jahat, ya? Padahal cuma tiga tahun di Indonesia. Tapi leibh kejam dari Belanda,” Nadia merasa kesal.”

“Iya! Kenapa sih, mereka nggak kasihan sama bangsa kita yang sudah menderita lebih dulu dijajah Belanda?” sambung Ian menambah kebencian mereka.

Baru beberapa langkah meninggalkan sekolah, seorang pedagang roti bakar menyadarkan rasa lapar mereka. “Kita harus balas dendam!” seru Angga
sembari mengepalkan tangan. Nadia dan Ian mengerutkan kening tak mengerti.

“Kita wajib membenci Jepang! Nggakusah lagi baca komik, nonton kartun, juga pakai sabun buatan jepang! Kita musti musuhin orang Jepang!” ujar Angga lagi.

Nadia dan Ian berpandangan, lantas dengan penuh semangat mengiyakan ucapan Angga. Mentari tersenyum melihat kepolosan bocah-bocah itu. Senyumannya makin menampakkan kemilau panas sinarnya.

Dari arah belakang, sebuah suara cempreng mengejutkan mereka. Sosok tubuh kurus, putih, dibalut seragam SD sebelah, membuat Nadia dan Ian imbang. Mereka diam, tak tahu harus berbuat apa.

“Kalian nggak puasa, ya?” tanya gadis kecil bernama Keiko itu, saat melihat sisa roti bakar di tangan Nadia. Bukannya menjawab, mereka malah
saling lirik.

“Wah, payah! Kalian kan, sudah kelas empat. Adikku aja puasa kok,” katanya tertawa. Mereka masih diam.

“Kenapa kalian?” tanya gadis itu, merasa aneh.

Lagi-lagi Nadia, Ian, dan Angga tak menjawab. Mereka justru mencibirkan bibir, menjulurkan lidah lalu berjalan pergi. Gadis kecil yang lebih sering
dipanggil Iko itu heran, tak biasa sekali tiga sahabatnya bertingkah seperti ini.

“Hei! Kalian kenapa? Marah sama aku?” Iko menyusul mereka.

“Iya!” jawab Ian ketus.

Nadia, Ian, serta Angga cuek. Mereka pergi, meninggalkan Iko sendiri. Walaupun sebenarnya, mereka agak menyesal melakukannya. Mereka telanjur
janji akan memusuhi orang Jepang.

Siang berganti sore, waktunya tiba untuk bermain. Sudah jadi kebiasaan Ian, Angga, dan Nadia bermain sore hari di taman. Meski begitu mereka tak pernah lupa untuk mengerjakan PR.

“Sepi, ya?” Ian memandangi sekeliling taman. Papan jungkat-jungkit terbaring sendirian di sana. Di sampingnya, sebuah ayunan bergerak lesu diterpa angin. Prosotan pun hanya berdiri kesepian.

“Pasti anak-anak pada tidur,” tebak Angga.

“Mungkin. Puasa kan, enakan tidur,” tambah Ian.

Bermain bertiga di taman yang luas membuat mereka cepat bosan. Akhirnya mereka cuma duduk di pinggir kolam. Bercerita sambil memandangi
ikan-ikan berlarian.

“Coba ada Iko…” suara Ian memecah keheningan.

“Hu..um, aku nyesel udahbikin dia nangis,” Nadia mengerucutkan bibir.

“Angga benar Ian. Iko anak penjajah, berarti dia harus dimusuhin!” ujar Nadia, tak peduli barusan dia bilang menyesal.

Tanpa mereka duga, sayup-sayup terdengar suara isak tangis. Tiga bocah itu segera menghampiri asal suara. Betapa terkejutnya mereka. Iko sudah berdiri di samping prosotan.

“Ada apa ini? Iko, kamu kenapa?” tiba-tiba Mbah Tejo, tukang sapu taman, muncul. Sambil terisak Iko menceritakan kelakuan Angga, Ian, dan Nadia. Mbah Tejo tertawa.

“Kalian ini nakal sekali. Kalian mau balas dendam?” tanya Mbah Tejo. Angga mengangguk mantap. “Bukan seperti ini caranya, bocah. Apa Iko pernah
jahat sama kalian? Lagian, apa kalian tahu, Kakek Iko itu ikut bantu tentara kita waktu perang dulu. Mbah saksinya.”

Mereka bertiga kaget.

“Sekarang ayo minta maaf. Apapun yang terjadi, teman tetaplah teman. Nggak peduli dari mana dia berasal,atau keturunan siapa dia. Teman itu seperti bintang, menerangi kegelapan di negara mana saja. Tak pernah memilih untuk cuma bersinar di Indonesia,” kata Mbah Tejo lagi.

Mereka bertiga manggut-manggut, lantas mengulurkan tangan meminta maaf pada Iko. Dan sore itu pun berakhir ceria.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to Top