Hadiah Untuk Ibu

Rina lari terburu-buru saat pulang sekolah. Sampai di rumah ia segera membungkus sebuah kotak dengan kertas kado. Ternyata Rina sedang membungkus kado untuk seseorang. Selesai membungkus kado, Rina segera berlari menuju kamar. Dia mengganti seragamnya dengan pakaian
sehari-hari, tak lupa dia mengambil beberapa lembar uang dari bawah kasurnya. Kemudian dia pergi lagi dengan membawa kertas catatan kecil. Dia pergi ke Pasar Nusukan. Di sana dia membeli beberapa sayuran, tempe, tahu, dan tak lupa dia membeli buah alpukat kesukaan ibunya. Sampai di rumah Rina melihat adiknya sudah pulang dari rumah temannya.

“Dik Arya, bantuinkakak yuk bikin kejutan untuk Ibu,” kata Rina kepada Arya, adiknya.

“Lho, emang-nya ada apa Kak. Kok pakai kejut-kejutan untuk Ibu?” tanya Arya.

“Adik ini bagaimana sih, hari ini kan hari ulang tahun Ibu,” jawab Rina sambil menata barang-barang belanjaannya.

“Oh iya, Arya lupa Kak. Aduh, Arya juga lupa beli kado untuk Ibu, mana uang tabungan Arya sudah habis untuk membeli buku,” raut wajah Arya
berubah menjadi sedih.

“Kakak sudah membeli kado buat Ibu kok Dik, Adik tenang saja. Sekarang Adik bantu Kakak saja. Oke?” ucap Rina.

“Oke deh Kak,” Arya mengacungkan kedua jempolnya.

Mereka berdua saling membantu untuk membuat makanan kesukaan ibunya. Walau masih kecil Rina sudah pandai memasak karena dia sering membantu ibunya memasak. Sedangkan Arya agak kesusahan dalam membantu kakaknya karena dia jarang sekali membantu ibunya.

Pukul 15.00 WIB, masakan mereka sudah siap. Sop matahari, perkedel kentang, tempetahu goreng, dan tak lupa sambal kecap. Mereka begitu terampil membuat makanan tersebut. Setelah makanan siap, Rina segera mengambil alpukat dan memblendernya. Dia akan membuat jus alpukat kesukaan ibunya tercinta. Pukul 15.30 WIB semua sudah siap. Tinggal menunggu setengah jam lagi ibu dan ayah mereka pulang. Meja makan mereka
rapikan serapi-rapinya. Tak lupa Rina merangkaikan bunga melati dengan mawar kesukaan ibunya.

“Tok…tok…tok…assalamu’alaikum…” terdengar suara ketukan pintu serta salam dari luar. “Itu suara Ayah dan Ibu Kak, ayo buka pintunya,” Arya menarik tangan kakaknya dan mengajak kakaknya membukakan pintu.

Dan ternyata benar, itu tadi adalah suara salam dari ayah dan ibunya.

“Cklek…” pintu dibuka oleh Rina.

“Wa’alaikumsalam… Pak, Bu,” jawab Rina dan adiknya bersamaan sambil mencium tangan kedua orang tuanya. Kemudian mereka berjalan bersama ke arah ruang makan. Betapa kagetnya Ayah dan Ibu Rina ketika melihat ada banyak makanan yang tersaji di atas meja makan.

“Selamat ulang tahun Bu…” Rina dan Arya bergantian mencium dan memeluk ibunya. Tak ketinggalan Ayah Rina juga memberikan ucapan untuk isterinya tercinta.

“Terima kasih Rina, Arya, Mas Rian,” jawab Ibu dengan mata berkaca-kaca.

Setelah itu mereka mulai menikmati makanan yang sudah dibuat oleh Rina dan Arya. Ayah dan Ibu tampak sangat senang menikmati makanan tersebut. Selesai makan, semua diberesi oleh Rina dan Arya. Mereka tak mau membuat Ibunya terlalu lelah di hari special Ibunya tersebut.

Selesai memberesi semuanya, Rina mengambil hadiah yang sudah dipersiapkan untuk Ibunya. Setelah sampai di teras hadiah itu Rina serahkan
pada ibunya.

“Ibu, ini Rina dan Dik Arya punya sedikit hadiah untuk Ibu,” kata Rina sambil menyodorkan hadiah itu ke ibunya.

“Terima kasih sayang, Ibu sayang kalian semua,” Ibu mengambil hadiah itu seraya memeluk kedua anaknya. Kemudian Ibu membuka kado itu perlahan-lahan. Setelah terbuka, Ibu mulai menangis terharu.

“Ter…terima kasih anak-anakku,” ucap Ibu terbata-bata sambil berlinangan air mata. Rina dan Arya pun memeluk Ibunya erat-erat.

Ternyata Rina membelikan Ibunya kacamata baru. Karena beberapa hari yang lalu kacamata Ibunya pecah, sedangkan Ibunya belum punya cukup uang untuk membeli kacamata baru. Maka dari itu Rina mengambil uang tabungannya untuk membelikan Ibunya kacamata baru sebagai hadiah ulang tahun.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to Top