Surat Bertinta Merah

Langit tak berwarna lagi. Gelap gulita, suram dan tak bercahaya. Detik demi detik berlalu, titik-titik hujan jatuh di genting-genting rumah, membuat suara berisik telinga-telinga yang mendengarnya.

”Deeerrr…” Sheryl terbangun dari tidur nyenyaknya, terbangun dari mimpinya.

”Aaacchh..” Sheryl menguap. “Ya Tuhan, hujan kok nggak berhenti-berhenti. Orang lagi tidur nyenyak kok malah terbangun,” keluh Sheryl.

Di saat itu Sheryl beranjak bangun, pergi ke kamar mandi dan mengambil air untuk membasuh mukanya yang masih tak bisa bersemangat untuk beraktivitas.

”Ya Tuhan…!!! Jam berapa ini…?” katanya sambil menolehkan muka ke arah jam dinding di kamar mandi.

Dengan terhenyak, Sheryl beraut wajah yang tak seperti biasa. Melihat raut mukanya seakan waktu berhenti, Sheryl seperti patung, seakan dia
terhenyak oleh sesuatu. Mulut Sheryl terbuka, mata melotot dan tubuhnya kaku tak bisa digerakkan. Sekarang waktu sudah berhenti, Sheryl tak tahu apa yang harus dia lakukan. Dia hanya bisa berdoa dalam hati dan mengedipkan mata.

Beberapa menit kemudian, Sheryl seperti dihentak lagi, tubuhnya sekarang lemas. Sheryl hanya bisa duduk bersandar tembok, tubuhnya tak berdaya lagi. Napasnya pun terengah-engah seperti orang kelelahan.

”Ya Tuhan! Apa sebenarnya yang terjadi? Ini baru jam dua dini hari, tak ada orang yang terbangun kecuali aku. Mengapa ini bisa terjadi, apa salahku, Tuhan? Mengapa waktu kau hentikan?” Sheryl bingung.

Sheryl terus bertanya-tanya, apakah yang terjadi. Dengan sekejap air matanya jatuh berlinang. Sheryl menangis, ia tak tahu apa penyebabnya, ataukah karena kejadian tadi. Kejadian yang mengerikan yang baru kali pertama ia alami, kejadian yang membuat dia trauma akan malam hari.

Tak terasa Sheryl sudah tergeletak di kamar mandi tanpa seorang pun yang tahu. Sheryl masih dibalut baju tidur dengan gambar beruang, rambut berantakan, wajah pucat dan tubuh lemas tak berdaya tak ada orang yang menolongnya saat kejadian itu. Sheryl hanya sendiri.

Pagi hari pun tiba, Sheryl masih tergeletak di kamar mandi sampai akhirnya ada guncangan yang datang ke tubuhnya. ”Krekk krekk krekk..” suara pintu kamar mandi.

”Aduh cepat, dah nggak tahan nih..! kata Andy adik Sheryl dengan tergesa-gesa.

Saat Andy membuka celananya, dia kaget dan menjerit.

”Waa… Kak Sheryl…??”

Andy takut, dia langsung menutup kembali celananya. Dia bingung apa yang harus ia lakukan. Dia mencoba berteriak, tapi tak ada seorang pun yang mendengar.

”Tolong tolong tolong…!” teriak Andy dengan raut muka yang gelisah.

Tanpa pikir panjang, Andy langsung menyeret Sheryl ke kamar. Ditempatkanlah Sheryl ke kasur. Andy mengambil air yang banyak dan menumpahkan ke wajah Sheryl.

”Byuuurrr…” suara air.

Sheryl langsung menjerit histeris. Saat Sheryl menjerit, Andy kaget. Mereka pun diam sejenak, sampai akhirnya ada kertas melayang dan jatuh tepat di depan mereka. Bingung dan resah perasaan yang menghantui mereka Sheryl dan Andy saling menolehkan muka, mereka saling bertatapan.

”Ini surat apa?” tanya Andy.

”Aku tak tahu coba kita buka, mungkin ini dari kakek dan nenek,” jawab Sheryl.

Mereka pun membuka surat itu, beramplop hitam, tak ada prangko dan alamatnya. Surat itu kelihatan seram, datang secara tiba-tiba, datang tertiup angin, dan entah dari mana datangnya. Anehnya, surat itu datang setelah Sheryl sadar dari pingsannya.

Sheryl membuka surat itu pelan-pelan, dengan perasaan takut, waswas dan penasaran, ia mencoba membuka amplopnya. Tangan Sheryl gemetar seperti orang kedinginan, sementara itu, Andy menutup matanya, karena takut, jarinya sedikit terbuka, agar dia bisa melihat isi suratnya. Dan dibukalah suratnya. Mereka kaget, surat itu terdapat bercak darah, dan tintanya pun juga berwarna merah, mereka terus berpikir dari mana surat itu
datang.

Sheryl, cewek berambut sebahu lurus, hitam, dan lembut. Hidung mancung, berbibir tipis, kulit putih halus, gigi gingsul, tubuhnya ramping, dan tinggi. Sheryl seorang mahasiswi di Universitas Indonesia, mengambil jurusan hukum semester dua. Sedangkan adiknya, Andy masih kecil kelas
empat SD, wajah lucu dan imut, senyumnya manis, hidungnya seperti kakaknya mancung, tingginya sekitar 135 cm, putih dan badannya cukup atletis, tinggi Sheryl sekitar 160 cm, sering dijuluki temannya ”Miss Swetty”, karena dia cantik dan manis, para lelaki sering menyebutnya cewek
perfect.

Di kampus Sheryl sedikit khawatir, ia takut jika ada teror menimpa dirinya dan adiknya. Isi surat itu adalah:

Dear sweety,

Jika waktu telah berhenti, aku akan mendekapmu. Aku ingin kita bersatu. Tolonglah daku, daku sudah tertusuk panah cintamu. Aku terjerat tali cintamu. Surat ini sengaja kubuat begini, karena aku tak kamu terima sebagai kekasihmu. Janganlah kau jual mahal padaku.

Love is the medicine, and there is more than enough to go around once you open your heart, please open your heart for me with love. Ingat, jika  trus begini padaku, hidupmu tak akan bahagia. Ingat!

From:
Jack Devil

Sheryl menceritakan kejadian semalam dengan temannya, Ruri. Akan tetapi, temannya malah tertawa terbahak-bahak.

”Ri, tadi malam terasa waktu kayaknya berhenti, badanku kaku banget tak bisa digerakkan,” kata Sheryl.

”Ha..ha…ha..ha… nggak mungkin lagi, apa sich itu, nggak mungkin waktu berhenti, mimpi kali loe?” ejek Ruri.

”Ya, Tuhan, tempat apa ini? Kotor sekali, uhuk…uhuk….” Sheryl terbatuk-batuk.

Dia masuk ke dalam rumah tua tersebut. Dibukalah pintu yang reyot dan telah dimakan rayap.

”Kreeeek” suara pintu dibuka.

Sampai di dalam rumah, Sheryl kaget, rumah itu kotor, usang tak terawat. Sheryl mencoba masuk lebih dalam, sampailah di kamar atau tempat lainnya yang tidak layak dipakai. Di dalam kamar terpajang lukisan seorang perempuan cantik, diambillah lukisan itu. Sheryl membersihkannya
dengan tangan, dilihatlah lukisan itu.

”Lukisan siapa ini? Cantik sekali,” kata Sheryl dalam hati.

Akan tetapi, tiba-tiba Sheryl merasa aneh, dia terkejut melihat foto di dinding. Sebuah foto berbingkai kecil, bergambar sepasang suami istri. Wajah dua orang itu seperti wajah kedua orangtuanya, mirip sekali. Satu perbedaannya adalah tanda lahir ibu, ada di jidat sebelah kiri, sedangkan di foto itu di jidat sebelah kanan. Sheryl terus berpikir, dia bingung, ataukah itu kembaran ibu? Tetapi, siapa ayahnya itu? Apakah ayah Sheryl sebenarnya atau bukan? Sheryl terus bertanya-tanya dalam hati, ibunya dulu pernah bercerita, ada seorang wanita yang mirip dengan ibunya, apakah dia kembarannya. Dalam sekejap Sheryl meneteskan air mata, ia teringat ibunya yang telah berada jauh dari dunia, tetapi dia marah, teringat ayahnya yang telah memiliki pendamping hidup lain, apakah pendamping hidup itu perempuan ini? Sheryl diam sejenak, dia langsung terpikirkan oleh surat merah itu. Sheryl langsung pergi dengan membawa foto kedua orang itu. Dia mengacak-acak isi rumah itu, mulai dari meja, kursi, lukisan, jatuh
tergeletak berantakan.

Sheryl tak peduli, dia terus mencari surat itu, dan lihatlah, ada sebuah kertas melayang dan jatuh di depan sebuah lukisan besar dan menyeramkan. Dengan terpaksa, Sheryl pergi menuju ke lukisan itu, pelan-pelan dia mengambil kertas itu, lalu tangan Sheryl memegang kertas itu, dan ooh… dari arah samping ada sebuah tangan dengan sigap memegang tangan Sheryl.

”Ooh… tangan siapa ini?” jerit Sheryl. Sheryl pun menolehkan muka dan dia langsung menjerit. Ternyata itu adalah perempuan yang ada di foto itu, wajahnya pucat tak berdaya, rambut panjang memakai baju putih menutupi tubuhnya, tangan dingin, dan ooh… yang paling menyeramkan adalah mata perempuan itu. Matanya besar dan mengerikan, Sheryl pun melepaskan tangannya dan mengambil kertas itu. Dia lari… lari dan lari, tak tahu tujuannya. Sampai akhirnya, tibalah di suatu tempat mirip dengan pasar, akan tetapi hanya ada sedikit orang yang ada di situ. Sheryl bingung, dia  mencoba dan memberanikan diri masuk ke tempat tersebut.

”Tempat apa ini, sepi banget!” katanya. Saat Sheryl masuk, salah seorang yang di sana berteriak.

”Penyusup… penyusup…!” katanya.

Sheryl bingung, dia langsung lari jauh sekali, dia menangis dia ingin kembali. Dia mencoba membaca sekali lagi, tanpa sadar dia meremas kertas itu, menginjak-injak dan dibuang ke jurang.

”Surat sialan, surat ini hanya membuatku menderita, cuuiiihh…!” katanya dengan menangis dan meludahi surat itu. Dia berjalan terus berjalan, dengan tak sadar diri, Sheryl berjalan dan sampai di depan rumahnya. Dia melihat ke depan, betapa senang hati Sheryl. Dia bisa kembali ke rumah
dan bisa bertemu kembali dengan adiknya, nenek dan kakeknya.

”Andy… kakek… nenek…!!” aku rindu sama kalian…!” teriak Sheryl.

”Ya Allah, Nak, dari mana saja kamu!” kata nenek.

”Kak Sheryl…!” teriak Andy sambil memeluk Sheryl.

Sheryl kini bahagia bisa kembali dengan keluarganya. Sekarang Sheryl sadar, surat itu hanyalah surat wasiat zaman dahulu yang datang secara tiba-tiba dan pembawa bencana.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to Top