Surat untuk Walikota

”Eh Nan kamu kena apa?” tanya Dita dan Wulan saat melihat Nani berjalan terpincang-pincang ketika akan masuk kelas. Dengkul kaki dan siku tangan kanan Nani tampak luka dan diolesi obat merah.

”Jatuh saat bersepeda di jalan dekat gerbang sekolah kita,” jawab Nani. Dita dan Wulan pun mengangguk maklum. Karena memang jalan menuju
sekolah mereka jelek. Di sana-sini aspalnya sudah banyak mengelupas. Bahkan ada lubang- lubang yang menganga. Sehingga kalau hujan akan  terlihat seperti ada kubangan kerbau di tengah jalan.

Baru saat istirahat, di kantin sekolah, Nani bisa bercerita panjang lebar tentang penyebab dia jatuh. Katanya dia terjatuh gara-gara ingin menghindari
genangan air di tengah jalan. Namun saat mau menghindar genangan air di tengah jalan, ban depannya menggilas batu yang membuat sepedanya
oleng, dan akhirnya terjatuh. Sehingga menimbulkan luka di dengkul dan siku kanannya.

Mendengar cerita Nani. Dita dan Wulan sama-sama bilang kalau jalan di depan SD mereka memang buruk. Bukan saja aspalnya yang telah  mengelupas, di sana-sini banyak lobang. Bahkan kalau musim hujan di sana-sini jalan. Padahal sekolah mereka berada di kota, hanya saja sekolah ini memang biasa-biasa saja, bukan sekolah favorit apalagi muridnya banyak anak orang kaya.

”Tidak hanya saya yang pernah terjatuh di jalan itu. Kemarin, saat pulang, Ita juga terjatuh saat lewat jalan itu,” kata Nani.

”Sebelumnya lagi sepedanya Pak Bon juga terperosok di kubangan di tengah jalan. Barang belanjaannya berceceran, ada yang basah karena masuk di
kubangan seperti comberan,” tukas Dita.

”Sepeda motor Bu Halimah, guru kita malah mengalami rusak berat,” ganti Wulan yang bicara. Namun kalau jalan yang melewati sekolah mereka buruk kok tidak pernah ada rencana untuk perbaiki. Padahal jalan itu termasuk jalan ramai. Karena jalan itu merupakan jalur menuju pasar dan kantor pos.

”Bagaimana kalau kita kirim surat ke Pak Walikota yang isinya usul agar jalan menuju sekolah kita ini diperbaiki,” cetus Nani.

”Tapi bagaimana caranya, lewat pos tentu waktunya lama,” timpal Dita.

”Belum lagi kalau sudah sampai ke sana juga tidak akan langsung ke meja Pak Wali. Kan tugas Walikota itu banyak,” ganti Dita yang bicara.

”Ya kita antar sendiri ke Balaikota.”

”Memangnya gampang? Belum tentu juga Pak Wali di Balaikota.”

”Aku ada ide kawan-kawan. Rabu sore lusa Pak Wali akan meresmikan renovasi Pasar Legi di dekat kantor kecamatan kita. Kita temui saja di sana,”
usul Dita.

”Setuju!” teriak Nani dan Wulan kompak.

Sorenya Nani, Dita dan Wulan berkumpul di rumah Nani. Di bawah pohon mangga yang sedang berbunga, Nani tampak sedang menuliskan rancangan surat yang akan mereka berikan pada Pak Walikota. Nani yang menulis rancangan surat, Dita dan Wulan yang mengusulkan redaksionalnya.

Di pasar yang akan diresmikan, tiga sekawan, Nani, Wulan dan Dita tampak seperti tak sabar menunggu kedatangan Pak Walikota. Rasanya
jarum jam bergerak sangat lambat. Terlihat Pak Walikota tersenyum pada masyarakat yang hadir di tempat itu. Bahkan Bu Wali tampak menyempatkan mengambil anak Balita dari gendongan ibunya, kemudian membopongnya ikut dibawa keliling saat suaminya keliling pasar yang akan diresmikan.

”Eh… kapan kita serahkan surat ini?” bisik Wulan.

”Sebentar kita tunggu waktu yang tepat,” jawab Nani dengan berbisik.

Setelah Pak Walikota mengelilingi pasar, orang nomor satu di Pemeritahan Kota itu kemudian pidato panjang lebar kemudian disusul dengan pengguntingan pita tanda pasar yang baru saja direnovasi diresmikan. Tak terasa rangkaian acara peresmian telah usai. Walikota dan istri tampak sedang asyik berbincang dengan pamong dan tokoh masyarakat. Nani kemudian memberi isyarat pada Dita dan Wulan untuk mendekati.

”Selamat sore Pak Wali dan Ibu.”

”Selamat sore juga anak-anak, ada apa ya?”

”Ini Bapak kami ingin menyerahkan surat.”

Pak Walikota menerima amplop putih yang disodorkan Nani. Dan kemudian mempersilakan Nani, Dita dan Wulan untuk duduk di kursi yang ada di
depannya. Jangan-jangan Pak Walikota akan marah membaca surat yang mereka buat. Namun ternyata tidak, Pak Walikota malah tersenyum.

”Saya mengucapkan terima kasih pada kalian bertiga. Akan saya pertimbangkan untuk membangun jalan di depan sekolah kalian. Mudah-mudahan tak lama,” janji Pak Walikota. Pak Walikota kemudian banyak bertanya pada mereka, tentang bagaimana sekolahnya, tinggalnya di mana, yang semua dijawab oleh Nani, Dita dan Wulan secara bergantian.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to Top