Tiga Telur Ayam

Adi dan Nino berkumpul di rumah Riri, bersama-sama mereka duduk di teras depan ditemani Mama Riri yang asyik ngobrol. ”Anak-anak sebentar
lagi kita akan merayakan Hari Natal, apa kalian tahu makna Natal sebenarnya?” tanya Mama.

”Lahirnya Juru Selamat, Ma!” jawab Riri dengan lantang.

”Makan-makan dan baju baru, Tante,” tambah Nino.

”Dosa kita ditebus terus dirayakan bersama-sama,” ucap Adi, tapi Mama tersenyum mendengar jawaban-jawaban dari mereka.

”Anak-anak semua, Mama akan beri contoh dan percobaan buat kalian,” ucap Mama sambil membagikan tiga telur ayam mentah kepada masing-masing.

”Ketiga anak itupun bingung menerima telur mentah itu, banyak pertanyaan yang terlontar dari mereka tapi mama belum mau menjawabnya.

”Sekarang tulis di telur itu yang menjadi dosa kalian selama ini,” ucap Mama sambil memberikan spidol pada mereka.

Anak-anak mulai menulis satu persatu dosa mereka pada telur-telur yang diberikan. Adi menulis membolos, berbohong, tidak bikin PR. Nino menulis
ambil uang ibu, tidak belajar dan suka berbohong. Riri menulis berani sama orangtua, jahil, terlambat sekolah.

”Sekarang masukkan telur itu ke dalam tas kecil ini dan yang paling penting adalah ke manapun kalian pergi telur itu harus kalian bawa,” jelas Mama.

”Buat apa, Ma?” tanya Riri.

”Repot bawanya, Tante,” ucap Nino.

”Takut pecah, Tante,” tambah Adi dan Mama hanya tersenyum melihat kebingungan anak-anak.

”Mulai sekarang jangan lupa dibawa terus telur itu apapun aktivitas kalian, entah itu sekolah, mandi bahkan tidur. Tiga hari lagi kita kumpul bersama
dan Mama akan jelaskan semuanya,” ucap Mama lalu berlalu pergi meninggalkan anak-anak yang masih bingung dengan maksud Mama.

Setelah bertahan tiga hari anak-anak berkumpul lagi di rumah Riri. Semua anak-anak ribut dan mengeluh karena telur mereka ada yang pecah, bau
dan busuk.

Setelah Mama bertanya kepada semua anak-anak, akhirnya Mama mulai bercerita dan menjelaskan apa yang dimaksud dari semua itu.

”Telur yang ada tulisannya itu sama seperti dosa-dosa kalian yang harus kalian bawa ke manapun dan kini kalian harus sadar betapa susah dan repotnya membawa beban dosa-dosa kalian yang tiap hari terus bertambah banyak,” ucap Mama.

”Jadi di Hari Natal ini, sang juru selamat telah lahir untuk menebus semua dosa-dosa kita. Tapi kita harus berjanji dan introspeksi diri untuk tidak berbuat dosa lagi. Natal yang suci dan penuh kasih jangan sampai kita jahat ataupun iri pada sesama, kita harus saling mengasihi,” jelas Mama.

Akhirnya Adi, Nino dan Riri serentak mengangguk tanda mengerti dan mulai menyadari kesalahan dan dosa-dosa yang selama ini mereka lakukan. Mereka saling berjanji untuk tidak berbuat dosa lagi, mereka berjabat tangan dan mengucapkan ”Selamat Hari Natal”.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to Top