Buah untuk Doni

Sikap Doni terhadap teman-temannya membuat ia sering dilaporkan kepada guru. Ia sering berbuat kasar, merebut bekal makanan temannya, mencoret lengan mereka atau menaruh tip-X di kursi mereka. Teman-temannya sudah sangat kesal terhadapnya. Dalam hati mereka banyak yang menginginkan agar Doni dikeluarkan. Bu guru yang mengetahui keadaan ini telah berusaha menanganinya. Nasihat agar ia berubah, memperbaiki sikap terhadap teman-temannya, tidak lagi mengganggu mereka dan meningkatkan kualitas belajarnya, sering dilakukan. Hukuman berupa tugas-
tugas tambahan dan larangan ikut pelajaran selama satu jam sering kali diberikan. Namun rupanya Doni yang sekarang duduk di kelas VI ini tidak
jera juga, ia tidak mempedulikan nasihat dan perintah gurunya. Hari Sabtu kemarin Doni kembali berulah, ia menaruh permen karet di salah satu
kursi temannya sehingga celana temannya penuh dengan permen karet.

”Don pasti kamu yang menaruh permen karet ini di kursiku!” bentak Indra yang celananya belepotan dengan permen karet.

”Jangan asal nuduh, bukan aku!” Balas Doni mengelak.

”Di kelas ini yang suka jail cuma kamu, yang lain tidak mungkin berbuat seperti ini.”

”Apa buktinya kalau aku yang melakukan? Apa ada yang lihat?”

Indra yang kesal memilih untuk pergi, ia memang tidak punya bukti, tapi ia dan temantemannya yakin bahwa Doni lah yang melakukannya.

Sekitar pukul 12.00 pelajaran usai, bu guru tidak mengetahui kejadian hari itu. Indra memilih untuk tidak melaporkannya, karena tidak punya
bukti.

”Ndra, kamu kok tadi tidak lapor ke bu guru?” tanya Anis teman sekelas Indra.

”NggaNis, meskipun aku yakin bahwa Doni yang melakukannya, tapi kan aku tidak punya bukti.”

”Sabar ya Ndra, kita berharap Doni cepat berubah. Teman-teman juga banyak yang kesal sama dia”.

”Gimana kalau pekan depan kita sepakat teman sekelas nyuekin Doni. Kita tidak usah anggap dia sebagai teman,” tambah Anis.

”Iya, aku setuju…” sahut Rahul yang sedari tadi cuma mendengarkan.

Akhirnya semua teman-teman kelas Indra sepakat untuk menjauhi Doni. Tidak menganggap Doni sebagai temannya lagi.

Pekan baru dimulai, hari Senin ini semua teman sekelas Indra bersiap untuk menjalankan kesepakatan mereka pada Sabtu kemarin. Namun rupanya
Doni hari ini tidak masuk. Tidak ada keterangan kenapa ia tidak masuk. Mereka urung melaksanakan rencananya. Ternyata hari berikutnya Doni juga tidak masuk, baru pada hari Rabu bu guru memberitahukan bahwa Doni mengalami kecelakaan. Ia jatuh dari sepeda sepulang sekolah pada
hari Sabtu kemarin. Sekarang ia ada di rumah sakit. Tangannya patah, sehingga harus diberi perban dan penyangga.

”Ya Allah ternyata Doni masuk rumah sakit,” seru Anis.

”Gimana kalau kita menjenguknya, usul Indra kepada teman- teman sekelasnya.” Meskipun mereka pernah sakit hati atas perbuatan Doni namun
mereka merasa iba dengan keadaannya, mereka sepakat untuk menjenguknya.

Sebelum pelajaran usai mereka telah mengumpulkan uang untuk membeli sesuatu untuk Doni, mereka bersepakat untuk membelikan parcel buah.
Sepulang sekolah Indra dan teman-temannya, didampingi oleh ibu guru bersama-sama ke rumah sakit. Jarak dari sekolahan dengan rumah sakit lumayan jauh, ditempuh dengan kendaraan umum butuh waktu sekitar 15 menit.

Setelah mereka sampai di depanrumah sakit, bu guru mengingatkan  agar nanti di dalam mereka tidak bercanda. Kamar Doni terletak di bagian tengah, jaraknya dari pintu masuk lumayan jauh. Dengan tertib siswa-siswa itu berjalan menelusuri  lorong rumah sakit. Mereka berhenti di sebuah kamar dengan nomor 32, di depannya ada tulisan ”Pasien: Doni Prima Wardhana”.

Indra berjalan paling depan dengan membawa parcel di tangannya. Setelah semuanya masuk ke kamar terlihat Doni yang sedang berbaring dengan
lengan diperban dan kedua orangtuanya yang menunggu di sampingnya. Bu guru menanyakan keadaan Doni dan menyatakan ikut bersedih atas
musibah ini. Mereka berharap agar Doni cepat sembuh. Indra yang sedari tadi membawa parcel buah, menaruhnya di samping Doni.

”Don, cepat sembuh ya…kami semua mengharapkan kamu cepat kembali ke kelas belajar bersama lagi,” ungkap Indra dengan penuh ketulusan.

Mata Doni terlihat berkaca-kaca.

”Ndra, maafkan aku, sebenarnya memang aku yang menaruh permen karet itu di bangkumu.”

Dengan tersenyum Indra menjawab, ”Iya Don, aku sudah memaafkan kamu kok.”

”Teman-teman terima kasih kalian mau datang menjenguku, meskipun aku sering berbuat jahil sama kalian, ternyata kalian tetap baik kepadaku.
Maafkan atas kesalahanku. Aku janji tidak akan mengulangi,” ungkap Doni dengan penuh ketulusan.

”Mungkin ini semua adalah akibat dari perbuatanku,” lanjutnya.

Semua teman-teman Doni tersenyum, mereka memaafkan kesalahan Doni. Orangtua Doni dan bu guru pun merasa senang atas perubahan Doni.
Inilah hikmah dari semua kejadian yang sudah dialami.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to Top