Benar-Benar Salah

Pagi itu cukup semruweng bagi Lady Cempluk. Anak wedok-nya, Gendhuk Nichole, yang masih balita mendadak rewel. Cempl uk berusaha merayu supaya mau ditinggal kerja karena waktunya sudah mepet. Tapi namanya anak kecil, tetap saja nggregeli minta ini dan itu sama simboknya.

Melihat Cempluk repot, Jon Koplo, suaminya, berinisiatif untuk menyiapkan keperluannya sendiri dari sarapan, sangu makan siang dan seragam.

Setelah Gendhuk ikut neneknya, Cempluk tentu saja terburu-buru menyiapkan keperluannya. Beberapa sudah disiapkan oleh suaminya, termasuk seragam. Langsung pakai dan mereka boncengan berangkat kerja.

Di perjalanan, HP Cempluk bergetar. Saat membaca SMS, Cempluk sekilas melihat hari dan
tanggal.

“Mas, ini hari Rabu kan?” tanyanya sambil nyolek pinggang suaminya.

“Iya Dik, kenapa?” “Mas, seragam hari Rabu yang putih garis merah, kan?”

“Iya…” pandangan Koplo tetap konsen ke jalan mengendarai motornya.

“Iki lho, Mas. Kita pakai baju yang garis biru. Ini seragambesok, hari Kamis!” Jon Koplo segera melirik ke baju seragamnya. Benar. Benar-benar salah.

Koplo dan Cempluk sama-sama bekerja di kantor yang sama, sebuah penerbitan di Kota Solo. Mereka memiliki seragam yang berbeda-beda setiap harinya. Ada 6 hari kerja, yang artinya ada 6 seragam. Ada dua model seragam yang hampir sama. Modelnya sama-sama dominan warna putih, hanya saja
satunya garis merah, satunya garis biru. Dipakai di hari Rabu dan Kamis.

Sesampai di kantor mereka berpapasan dengan Tom Gembus yang langsung ngekek melihat kedua rekannya salah seragam.

“Kebangeteeen… kebangeten… Mosok ya serumah kok enggak ada yang ingat seragam mana yang benar. Kalo aku salah kan masih lumrah wong masih bujang. Lha kalian…?”

Jon Koplo dan Lady Cempluk hanya bisa mesem kecut.

Misbachul Chasanah,
Luwang RT 002/RW 005,
Luwang, Gatak, Sukoharjo

Solopos,15 NOVEMBER 2017

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to Top