Tahu Anyel

Jon Koplo, warga Karanganyar ini penasaran membaca papan harga di sebuah warung di pinggir jalan: Tahu Kupat Rp2.500! Sepertitak percaya di zaman ekonomi serbatinggi ini ada yang jualan makan berat di bawah harga premium. “Mbak, satu ya? Minumnya es teh,” ucap Koplo sumringah melihat penjualnya lumayan kinclong.

“Pakai telur ndak, Mas?” balas Lady Cempluk, penjual tahu kupat. “Ndak usah, Mbak…” jawab Koplo.

Tak lama kemudian tahu kupatnya datang. Di luar dugaan, piringnya besar dengan isi yang menjulang. “Wuedian, sak mene iki rong ewu limang atus…?” batin Koplo yang langsung menikmati kupat tahu dengan lahap.

Tak butuh lama karena perut lapar, semuanya tuntas. Sambil menghabiskan es teh, ia pun berkoar tentang menu enak serbamurah, cukup Rp2.500 di media sosialnya. Tak ayal posting itu pun bikin penasaran temantemannya.

“Mbak, sudah… Enggak tambah apa-apa, berapa?” ucap Koplo sambil menyediakan uang lima ribuan. “Tahu kupat sama es teh sepuluh ribu, Mas?” jawab Cempluk.

Mendengar itu Koplo terperanjat, “Lho, nggak salah, Mbak?” tanya Koplo sambil menunjuk papan harga di luar warung.

Cempluk tersenyum, “Iya, Mas. Itu yang porsinya kecil, kalau yang seperti Mas makan tadi harganya beda… Itu ada daftar harga kompletnya,” jawab Cempluk sambil menunjuk daftar harga menu di dinding.

“Blaik…!” batin Koplo ketika melihat daftar harga yang berbeda dengan yang dipajang diluar. Tak ingin membuat lama di lokasi, Koplo memilih membayar sesuai jawaban Cempluk.

Pengin rasanya ia protes. Mestinya setiap pembeli ditanya dulu porsi yang mana. Atau papan di luar harganya tak perlu dipasang.

Trik dagang biar laris boleh saja, tapi kalau membuat pembeli tersesat harga karena tak sempat membaca daftar porsiyang ada… bikin anyel.

Yusuf Cahyono,
Perum Griya Winong Baru, Jl. Zebra No. 1,
Banaran, Ngringo, Jaten, Karanganyar

Solopos, 20 April 2018

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to Top