Stempel Jadul

Kisah nyata kali ini dialami oleh Jon Koplo, kepalaSekolah di salah satu SMK swasta di Sragen
yang sedang gembira kerena sekolahnya akan mendapat bantuan dana rehab ruang kelas dari pemerintah.

Ia dimohon segera melengkapi persyaratan yang telah ditentukan dan secepatnya diserahkan ke kantor Dinas Pendidikan kabupaten.
Tidak lupa, dimohon membawa stempel sekolah untuk menandatangani MoU antara pihak sekolah dengan Dinas Pendidikan demi
kelancaran proses pencairan dana bantuan tersebut.

Dengan semangat empat lima,pada hari itu juga, Jon Koplo memerintahkan Tom Gembus, staf tata usahanya,untuk melengkapi persyaratan yang
diminta dan mengajak Gembus ke Dinas Pendidikan dengan tidak lupa membawa stempel.

Sampai di sana, ternyata sudah banyak orang dari sekolah-sekolah lain dengan kepentingan yang sama.
Setelah antre cukup lama, Koplo kemudian menyerahkan berkas persyaratan yang diminta oleh petugas.
Selanjutnya petugas menyerahkan blangko MoU yang harus diisi, ditandatangani dan distempel.

Koplo mencermati dan mengisi blangko dan terlihat lancar-lancar saja.
Tiba giliran menandatangani blangko itu dan siap-siap untuk membubuhkan stempel sekolah.
“Mbus, coba stempel sekolahnya bawa sini!” perintahKoplo.Seketika Gembus menyerahkan
stempel sekolah yang sudah terlihat jadul itu kepada bosnya tanpa memeriksanya terlebih dulu.

Dengan semangatnya Jon Koplo menempelkan stempel ke bantalan tinta dan siap-siap menyetempel kertas blangko tadi.
Dengan agak ditekan Koplo menempelkan stempel di sebelah kiri tanda tangan pada blankO tersebut.

Tapi… Badalaaa…! Koplo njenggirat kaget, “Lho, piye iki stempele kok ora ana tulisane?”
Ternyata stempel itu tinggal kayunya tok, karetnya copot dan jatuh entah ke mana! Tom Gembus ikut panik,
merasa bersalah dan berusaha mencaricari di tas yang digunakan untuk menaruh stempel
tadi, tapi ternyata tak ketemu juga.

Teman-teman dari sekolah lain dan petugas kemekelen mentertawakan kejadian itu, bahkan
ada yang nyeletuk, “Tak silihi stempel sekolahanku piye?“
Jon Koplo yang diledek hanya plenthas-plenthus kisinan.

Akhirnya dengan lemas Koplo dan Gembus harus kembali di lain hari yang tentunya harus pesan stempel yang baru lagi.

Suprapto,
SMKN 1 Plupuh,
Sragen

Solopos,11 MEI 2018

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to Top