Dikira Juru Kunci

Jon Koplo, warga Songgalan,Laweyan, Solo ini, rumahnya berada tepat di sebelah pemakaman umum. Saat menjelang bulan puasa, biasanya
pemakaman itu ramai sekali orang berziarah atau orang Jawa lebih senang menyebutnya dengan tradisi nyadran.

Halaman rumah Koplo bahkan sering terparkir beberapa kendaraan orang yang sedang nyadran.
Maklum karena pemakaman itu tidak mempunyai lahan parkir sendiri.

Hari itu karena libur kerja,Koplo memutuskan untuk bersih-bersih pekarangan sampai ke depan dekat pintu masuk makam. Hari itu memang
ada sebuah mobil yang parkir di depan rumah Koplo. Ketika tengah asyik menyapu, beberapa orang yang tadi berziarah terdengar akan
pulang. Salah seorang dari mereka berjalan mendekati Koplo yang masih sibuk dengan sapu lidinya.

“Pak, matur nuwun nggih,” kata orang tadi sambil menyodorkan uang Rp20.000. Koplo bingung sendiri.
“Arta napa niki, Mas?” tanya Koplo.

“Uang kebersihan makam dan parkir, Pak. Sampean juru kunci makam mriki ta?” Ternyata Koplo dikira juru kunci makam
karena memakai kaos lusuh dan membawa sapu. Koplo jadi ngguya-ngguyu dhewe sementara orang tadi sudah pergi.
“Wong bagus ngene kok diarani juru kunci kuburan,” kata Koplo cekikikan.

Dian Eko Saputro,
Muruh RT 002/RW 001,
Slogoretno, Jatipurno,
Wonogiri 57693

Solopos,16 MEI 2018

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to Top