Ayam ”Police Line”

Rumah kontrakan Jon Koplo di dekat tempat kerjanya menjadi jujugan Tom Gembus di waktu istirahatsiang.
“Duh, cacing-cacing di perutku kok mulai bernyanyi ya?” celetuk Gembus sambil mengelus-elus perutnya.
“Sama Mbus,” jawab Koplo sambil melirik jam tangannya.

Jon Koplo memutar otak. Dia mencari referensi tempat makan yang murah,dengan porsi banyak dan menu yang bisa dikatakan lumayan.
“Tom, aku punya referensi tempat makan yang pas di kantong anak kos terlebih di tanggal tua seperti ini,”
Koplo berkata sambil mengedipkan mata.

“Yo wis, gek ndang mangkat,” tanpa pikir panjang,Gembus mengiyakan Koplo. Tidak sampai sepuluh menit, mereka sudah sampai di TKP.
Tapi mata Koplo terbelalak melihat warung yang diandalkannya berada dalam police line (garis polisi).
“Ya iki warunge, Mbus. Ning kok tutup, malah di pageri police line barang?“ kata Koplo.
Karena penasaran, Koplo memberanikan diri bertanya kepada seorang ibu di dekatnya.

“Bu, apa warung pojok sudah pindah ya?” tanya Koplo. “Oalah, Mas, bukannya pindah, tapi ditutup, karena ayam yang dijual ayam tiren
(mati kemaren),” terang ibu tersebut.

Seketika perut Koplo terasa campur aduk, mulas.

Tapi Gembus justru tertawa kegirangan meratapi nasib sahabatnya yang selama ini
ternyata mengonsumsi ayam tiren.

Dini Permata Sari
(permatasari.dini4@gmail.com)

Solopos,17 MEI 2018

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to Top