Bukan Kuntilanak

Mesin presensi fingerprint sekarang sudah banyak digunakan di berbagai
instansi seperti rumah sakit, kantor,hingga lembaga pendidikan untuk memeriksa
kehadiran karyawan. Tak terkecuali tempat Lady Cempluk mengajar.

Tentu hal ini membuat Cempluk kewalahan,sebab dari semua guru hanya ia saja yanglangganan terlambat.
Seringkali ia terpaksa melewatkan sarapan bahkan tidak memakaimake up seperti biasanya.

Pagi itu Cempluk bisa dibilang sial,ia kesiangan bangun sebab semalam
begadang.Daripada terlambat, Cempluk memadai,” jelasnya.

akhirnya memutuskan ke sekolah dulu untuk presensi, lalukembali ke rumah untuk bersiap.
Cempluk yang masih memakaidaster pun pelan-pelan ke sekolah yang masih sepi, setelah berhasil presensi werrr… ia pun
langsung ngibrit pulang.

Dengan begitu ia bisa tetap tidak terlambat di mesin presensi meskipun berangkat siang.
“Yuhuuu, tahu begini mbuk dari dulu-dulu…” ujar Cempluk sambil nyengir.

Cempluk pun akhirnya mengulang perbuatan buruknya itu berkali-kali dengan aman
hingga pada suatu pagi ketika ia yang masih menggunakan
daster setelah presensi ia membalikkan badan namun
mak bedunduk, ia berhadapan dengan Pak Tom Gembus yang
merupakan kepala sekolah.

“Wealah,jebule perempuan berdaster yang tiap pagi terekam CCTV itu njenengan ta Bu? Tak kira kuntilanak.
Tiwas tak pruput dari pagi,” ujar Pak Gembus.

Cempluk yang ketangkap basah pun tak bisa berbuat banyakkecuali hanya tersenyum malu.
Ia pun meminta maaf atas perilakunya yang kurang pantas.

Sambil abang-ireng Nicole pun mindhikmindhik
pamitan pulang untuk berganti pakaian.

Nyunik Suryani
(nyunik_suryani@yahoo.co.id)

Solopos,22 MEI 2018

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to Top