Dua Rakaat Salam

Tahun ini menjadi Bulan Ramadan pertama bagi Jon Koplo dan Lady Cempluk sebagai sepasang suami-istri.
Mereka sangat bersemangat menjalani ibadah puasa.
Mulai sahur dan buka bersama, serta tak ketinggalan salat Tarawih bersama. Sejak malam pertama
sampai malam keenam, mereka belum pernah absen Tarawih berjamaah di masjid.

Begitu azan, mereka langsung menuju masjid yang tak jauh dari gubuk asmara mereka.
“Mas, aku langsung ke lantai atas ya?” pamit Cempluk saat sampai di depan masjid yang

kebetulan berlantai dua, lantai bawah untuk jamaah pria, lantai 2 untuk wanita.
“Ya, Pluk,” jawab Koplo sambil melepas sandalnya.

Salat Tarawih pun dimulai sesaat setelah Salat Isya.
Kebetulan malam ini imamnya Pak Tom Gembus, ulama kampung sebelah yang tersohor.
Pak Tom Gembus menjelaskan terbiasa memimpin Salat Tarawih
dengan 2 rakaat salam, tidak 4 rakaat salam seperti malammalam
sebelumnya.

Inilah yang menjadi awal kegaduhan. Singkat cerita, begitu selesai sujud rakaat kedua, sangimam berseru takbir tanda
gerakan duduk tasyahud akhir. Namun saking hafalnya dengan rakaat salat selama lima malam sebelumnya, di lantai
atas jemaah wanita termasuk Cempluk dengan khidmat malah berdiri untuk rakaat ketiga.
Suasana hening sejenak.

Lalu terdengar suara Pak Tom
Gembus, “Assalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarokatuh…”
Seketika Cempluk dan jamaah wanita lainnya tersadar jika ternyata salatnya 2 rakaat
salam.

Sontak mereka buruburu mengambil gerakan duduk tasyahud akhir dan salam.
Gerakan puluhan jamaah wanita itu tentu saja menimbulkan
suara gaduh dari lantai atas.

Gedebuk gludug-gludug…. Jamaah pria di lantai bawah
terkaget-kaget, dikira lantai atas rubuh. “Suara apa Pak niku kok gedhubrakan?” tanya
Koplo berbisik pada jamaah di sebelahnya.

“Paling ibu-ibu kecele Mas, dikira 4 rakaat,” jawabnya sambil terkekeh.
Setelah menyadari apa yang terjadi, banyak di antara
jamaah pria yang tidak mampu menahan tawa.

Saat tiba kultum, Pak Tom Gembus sedikit nyeletuk tentang kegaduhan tadi.
“Oalah Bu… Bu… makane nek imam ngomong ki dimirengke, ampun umyek dhewe…”
Para jamaah pria tertawa,tapi jamaah wanita cuma bisa cengar-cengir.

Dwi Santoso, Minapadi RT
007/RW 009,
Nusukan, Solo

Solopos,23 MEI 2018

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to Top